Goresan Pedas Pena Douwes Dekker: Pembakar Semangat Anti Kolonialisme

Goresan Pedas Pena Douwes Dekker: Pembakar Semangat Anti Kolonialisme
info gambar utama

Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Pria kelahiran 8 Oktober 1879 ini terkenal sebagai penulis tajam.

Sosok yang kelak mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi ini sejak belia telah tertambat pada jurnalistik. Pada 1883, ketika usianya masih 14 tahun dan bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Batavia, dirinya menulis buku Peringatan dari Lombok.

Douwes Dekker bercerita tentang tanah Lombok dengan pantai nan indah. Bahannya dia sarikan dari isi telegram seorang teman, yang menuturkan perjalanan menengok sang kakak dan meninggal di pulau itu.

Eduard dan Ernest Douwes Dekker, Nama Sama Beda Persona

Dimuat dari buku Seri Buku Tempo: Douwes Dekker, dirinya tidak pernah menerbitkan tulisan tersebut, tetapi ibunya sangat bangga. Setelah membaca tulisan anaknya, sang ibu kemudian berkata, “Dari tulisanmu, akan lahir seorang penulis, anakku.”

Frans Glissenaar, penulis biografi Het Leven van E.F.E Douwes Dekker mencatat Douwes Dekker mulai senang bercerita lewat tulisan sejak usia sembilan tahun, Kegemarannya menulis pun sudah dimulai sejak dirinya bisa membaca.

Glissenaar pun menduga kegemaran Douwes Dekker itu karena pengaruh Eduard Douwes Dekker, penulis novel Max Havelaar yang terkenal dengan nama pena Multatuli. Diketahui Eduard adalah adik kakek Douwes Dekker.

Tulisan pedas

Douwes Dekker terus mengasah bakat menulisnya ketika dirinya merantau ke Afrika Selatan pada 1899 sebagai sukarelawan dalam Perang Boer. Dirinya menulis surat kepada teman-temannya di Batavia.

Surat panjang ini mereportasekan kondisi orang Boer, perjalanan melintasi India, Aden, dan Afrika Timur, serta tentang para petani yang ditindas kemudian diterbitkan Bataviaasch Nieuwsblad, koran berbahasa Belanda yang terbit di Indonesia dan Belanda.

Tulisan inilah yang menarik minat Pieter Brooshooft dan Vierhout, dua pimpinan koran De Locomotief, Douwes Dekker kemudian menjadi koresponden di Batavia. Maka segera saja dirinya menjadi gunjingan di Belanda karena tulisan-tulisannya.

Sejarah Hari Ini (1 Mei 1856) - Dari Hotel Rotterdam Jadi Hotel des Indes

Misalnya mengkritik politik etis yang memecah belah penduduk pribumi, indo dan priyayi. Tokoh-tokoh politik di Belanda menyerang balik melalui berbagai tulisan dengan menyebut Douwes Dekker sebagai avonturir (oportunis) bahkan schoelje (si bangsat).

Menurut sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, profesi wartawan adalah pekerjaan umum dan favorit para aktivis pergerakan waktu itu. Karena itu Douwes Dekker ikut-ikutan mencoba jurnalistik.

“Dan Douwes Dekker punya ciri yang sempurna untuk itu: bahasanya lugas, menonjok, dengan sikap yang jelas,” tegasnya.

Pembakar semangat anti kolonialisme

Rushdy mencontohkan salah satu tulisan Douwes Dekker di Nieuwe Arnhemsche Courant yang terbit pada 1908. Dirinya memberi judul yang sangat provokatif: Bagaimana Belanda Paling Cepat Bisa Kehilangan Tanah Jajahannya?.

Tulisan itu mengingatkan Belanda yang menerapkan politik etis, akan mendapatkan perlawanan seperti orang Amerika Serikat melawan Inggris seabad sebelumnya. Douwes Dekker ternyata terinspirasi tulisan Benjamin Franklin, Seni Menghilangkan Jajahan.

Karena tulisannya yang pedas, penguasa Belanda sangat membenci Douwes Dekker. Sadar dengan ancaman itu, jika menulis untuk koran yang terbit di Belanda, Douwes Dekker memakai nama samaran yakni DD.

Meresapi Max Havelaar, Karya Sastra yang Membunuh Kolonialisme

Dalam puncak karirnya, Douwes Dekker kerap berinteraksi dengan intelektual pribumi, terutama mahasiswa sekolah kedokteran di Batavia. Lewat beberapa korannya, dia dianggap perwakilan semangat pribumi menentang penjajah.

“Pemerintah kolonial pun menyebut Douwes Dekker sebagai “pembakar semangat anti kolonialisme”.

Selanjutnya dirinya sering berpindah media hingga menerbitkan koran sendiri Het Tijdschrift. Koran dwi mingguan ini dia isi dengan tulisan nasionalisme. Koran terakhir ini kemudian dia pakai sebagai media resmi Indische Partij, partai politik pertama di Hindia Belanda.

Di partai ini dirinya bergabung bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara. Tiga anak muda ini lantas secara bergiliran menulis di De Expres, mengecam Belanda dan membangkitkan nasionalisme.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini