Menelisik Hunian Bersejarah Majapahit yang Tersisa di Situs Trowulan

Menelisik Hunian Bersejarah Majapahit yang Tersisa di Situs Trowulan
info gambar utama

Trowulan di Kabupaten Mojokerto merupakan sebuah kota besar pada zaman Majapahit. Pemukiman penduduknya kala itu mempunyai ciri khas. Hunian rakyat biasa dan para pertapa tentu saja mempunyai corak yang berbeda dengan kaum bangsawan.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Vidi Susanto menyatakan pemukiman zaman Majapahit mempunyai beberapa ciri khas, salah satunya atap hunian menggunakan genting, sudut-sudut atapnya berhiaskan ukel.

Karena itulah banyak temuan pecahan genting dan ukel di situs-situs permukiman peninggalan Majapahit. Seperti di Situs Watesumpak, pemukiman Segaran, dan Grogol yang ditemukan di Kabupaten Mojokerto.

Mengenal Sejarah Situs Trowulan Peninggalan Kerajaan Majapahit

“Gerabahnya kebanyakan dengan pola hias, seperti motif hias tumpal, beberapa bunga, gerabah model seperti itu booming pada zaman Majapahit,” ungkapnya yang dimuat Faktual News.

Dirinya menjelaskan ada perbedaan antara rumah masyarakat pada Zaman Majapahit antara rakyat biasa dengan kaum bangsawan, brahmana dan ksatria dibedakan. Rumah rakyat biasanya berupa rumah tinggal yang berjajar tanpa pagar.

Sementara untuk puri adalah hunian bagi orang-orang dengan kasta tinggi. Dijelaskannya di dalam rumah itu terdapat ruang sakral, semi sakral, dan profan. Berdasarkan kasta ada kerabat keraton, ksatria dan pemuka agama.

Rumah berbentuk pakuwon

Kajian tentang pemukiman zaman Majapahit juga diulas dalam kajian berjudul Pakuwon pada Masa Majapahit: Kearifan Bangunan Hunian yang beradaptasi dengan Lingkungan. Selain itu juga digambarkan oleh Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama.

Hal inilah yang dijelaskan oleh Arkeolog Universitas Indonesia Profesor Agus Aris Munandar. Dia menerangkan Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 yang kemudian digeser oleh Demak pada tahun 1419.

Dilihat dalam laporan musafir Portugis , Antonio Pigafetta tahun 1522,, di situ disebutkan bahwa eksistensi Majapahit sebagai kota besar di Jawa Timur masih eksis sampai abad ke 16 Masehi.

Kini, Belajar Tentang Kerajaan-Kerajaan Indonesia Bisa Diakses Melalui Website Resmi Loh!

Tetapi setelah itu, pemukiman zaman Majapahit berubah. Desanya menjadi sepi karena ditinggal oleh penduduknya. Namun hingga kini belum diketahui penyebabnya dan masih meninggalkan misteri.

“Tidak diketahui pasti penyebab ditinggalkan penduduknya hingga menjadi desa sepi, hutan, dan areal pertanian yang sekarang dinamakan Trowulan,” tuturnya.

Disebutkannya, rumah pada masa Majapahit menggunakan konsep keagamaan Hindu dan Buddha. Apabila dilihat dari relief-relief candi tersebut, rumah kaum berkasta tinggi pada zaman Majapahit menggunakan konsep pakuwuan atau pakuwon.

Berupa sekumpulan bangunan terbuka, setengah terbuka dan bangunan berbilik yang dikelilingi pagar tembok. Pada sisi pagar terdapat pintu gerbang berupa gapura candi bentar atau gapura kembar seperti Candi Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Trowulan.

Mirip rumah di Bali

Disebutkan olehnya, konsep pakuwon untuk hunian kaum bangsawan dan orang-orang kaya zaman Majapahit mirip dengan rumah tradisional di Bali. Hal ini karena para keturunan bangsawan yang bermukim di Pulau Dewata membawa sisa kejayaan Majapahit.

Teori ini, lanjutnya, berdasarkan karya-karya sastra Bali, seperti Babad Dalem, Dwijendra Tatwa, Babad Arya Kutawaringin, serta Babad Arya dan Ratu Tabanan. Disebutkan pula, pembagian area di rumah tradisional Bali menggunakan konsep Tri Angga.

Hal ini karena terdapat bagian nista, madya, dan uttama. Selain itu juga mengacu pada dewa-dewa astadikpalaka atau dewa-dewa penjaga mata angin dalam ajaran Hindu. Berkaca dari rumah tradisional Bali.

Mengenal Faedah Buah Maja yang Menginspirasi Nama Kerajaan Majapahit

“Yaitu berupa kumpulan bangunan yang dikelilingi pagar, terdapat pintu gerbang berbentuk candi bentar atau angkul-angkul, bangunan didirikan di permukaan batur yang relatif tinggi, serta bangunan memiliki beranda lebar, jarak antara bangunan dalam gugusan pakuwon telah tertata dengan baik, serta bagian tengah pakuwon sebagai halaman atau natar untuk aktivitas bersama keluarga yang menjadi penghuninya,” ucapnya.

Dikatakannya bangunan di area Pakuwon didirikan di atas permukaan batur yang relatif tinggi, hal ini bukan tanpa pertimbangan. Karena ditinjau dari segi religi, batur sebagai simbol dunia bawah yang menyokong tubuh bangunan.

Begitu juga dengan beranda yang dibuat terbuka. Karena dari sudut pandang religi, beranda sebagai daerah madya, tempat bertemunya para tamu dan tuan rumah. Sehingga tidak mengganggu privasi pemilik rumah.

“Sedangkan dari sudut pandang praktis, beranda dibuat terbuka untuk kenyamanan penghuninya. Karena udara tropis yang panas dan lembab,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini