Kerajinan Topeng Khas Surakarta dan Satu-Satunya Perajin yang Masih Bertahan

Kerajinan Topeng Khas Surakarta dan Satu-Satunya Perajin yang Masih Bertahan
info gambar utama

Solo bisa dikatakan sebagai jantung budaya Jawa. Sebagai daerah yang menjadi pusat berbagai kesenian tradisional khas Jawa, tentunya julukan ini sangatlah melekat pada daerah ini.

Kesenian yang ada pun benar-benar berkembang dan masih terus dilestarikan hingga sekarang oleh berbagai pelaku seni yang turut mewarnai kehidupan budaya di Solo.

Dari berbagai kesenian yang berkembang tersebut ada salah satu kerajinan yang kini sudah dikatakan cukup langka yang menekuninya, yaitu topeng khas Surakarta.

Topeng klasik seperti ini punya riwayat yang panjang sejak zaman Hindu-Budha, khususnya pada masa Majapahit.

Selain Keraton, Ini Destinasi Wisata Menarik di Surakarta

Perajin satu-satunya

Topeng-topeng seperti ini memang bisa dijumpai di berbagai tempat, misalnya di Pasar Klewer. Namun, topeng-topeng tersebut kebanyakan memiliki kualitas yang biasa saja dan memang lebih komersil.

Namun, ada satu pengrajin topeng yang menang benar-benar membuat topeng tradisional Surakarta sesuai dengan pakem yang ada dan tentunya dibuat dengan keahlian tinggi dan kualitas terbaik.

Ia bernama Narimo. Sehari-hari, Narimo kerap disibukkan untuk membuat topeng di kediamannya di Desa Jetis, Kabupaten Sukoharjo. Konon, hanya dialah yang menjadi satu-satunya orang yang masih menekuni kerajinan topeng khas ini di kawasan Solo Raya.

Namanya pun sudah kondang di kalangan seniman-seniman besar. Bahkan, topeng karyanya kerap menjadi patokan mengenai bagaimana kualitas topeng Surakarta yang memang cocok digunakan untuk pentas-pentas kesenian tradisional.

Minat Narimo pada kerajinan ini bermula dari kesenangannya terhadap seni tradisional. Sewaktu muda, ia terlebih dahulu menekuni pembuatan wayang.

Sampai ketika ia bersama temannya mencoba untuk membuat topeng, akhirnya ia pun semakin tertarik dengan kerajinan ini dan mulai mendalaminya secara otodidak. Agar keahlian membuat topengnya semakin matang, ia pun turut belajar kepada seniman Bambang Suharno yang ahli dalam hal ini.

Beberapa jenis topeng yang kerap dibuatnya adab topeng Klana, Panji, Gunung Sari, dan Sekartaji.

Melacak Jejak Bengawan Solo: Peran dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Krisis penerus

Tak hanya di Surakarta, topeng serupa juga terdapat di Yogyakarta. Sekilas, memang bentuknya terlihat serupa, hanya saja ada beberapa hal yang jadi pembeda. Misalnya dari segi riasan.

Lalu, untuk topeng tertentu seperti Klana, bentuk kumisnya pun berbeda. Bila Yogyakarta kumisnya dilukis, sedangkan Surakarta kumisnya dibuat dari rambut tempel.

Tak hanya dari segi visual, cara penggunaannya juga berbeda. Kalau Yogyakarta menggunakan tali yang diikatkan ke belakang kepala, maka topeng Surakarta menggunakan gigitan.

Proses pembuatan satu topeng ini memakan waktu cukup lama, tergantung dari permintaan pemesan. Mulanya, topeng ini dipotong dan dibentuk sesuai dengan keinginan. Bentuk awal topeng ini dinamakan putihan. Pemotongan bentuk ini bisa memakan waktu empat hari hingga satu minggu, belum lagi pengecatannya.

Kalau untuk kebutuhan tari, bahan yang digunakan adalah kayu yang ringan seperti sengon. Sedangkan untuk kebutuhan hiasan, kayunya cenderung lebih berat dan awet, seperti kayu jati alas. Dalam pembuatannya pun harus dilakukan secara hati-hati dan penuh ketelitian.

Walaupun peminat topengnya semakin banyak, satu hal yang menurutnya masih jadi kendala adalah mengenai pelestari kerajinan ini di masa depan. Narimo juga beberapa kali melakukan pengajaran untuk membuat topeng, hanya saja semangat generasi muda masih belum begitu besar.

Meskipun begitu, ia akan terus mengupayakan kelestarian topeng khas Surakarta ini agar bisa memiliki penerus untuk generasi-generasi selanjutnya.

8 Rekomendasi Makanan Khas Solo Legendaris yang Wajib Anda Coba

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini