Kekokohan Uma Lengge: Simbol Ketahanan Pangan bagi Masyarakat Bima

Kekokohan Uma Lengge: Simbol Ketahanan Pangan bagi Masyarakat Bima
info gambar utama

Sejak dulu kala, masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat mengenal sistem ketahanan pangan. Caranya dengan menyimpan hasil panen para petani di lumbung yang disebut uma lengge atau jompa.

Rumah panggung atau lumbung pangan yang disebut lengge atau jompa ini berbahan kayu mengesankan kesatuan dengan alam. Hampir setiap rumah di desa yang ditempuh sekitar 1,5 jam menggunakan mobil dari Raba, ibu kota Kabupaten Bima itu memiliki lumbung.

Lumbung berukuran 2 meter x 2 meter itu dibangun di atas kaki panggung setinggi 1-2 meter. Lengge atau jomba digunakan untuk menyimpan hasil panen sehingga ketahanan pangan keluarga selama satu tahun terjaga.

Mengenal Istana Kerajaan yang Ada di NTB dan NTT

“Hasil panen berupa padi dan jagung disimpan di jompa. Sampai sekarang, warisan nenek moyang ini masih kami pertahankan,” kata Sudirman, Kepala Desa O’o yang dimuat Kompas.

Di masa lalu, Uma Lengge dan Jompa dibangun bersanding. Jompa harus berada di belakang Uma Lengge karena kehidupan masa lampau masyarakat Bima tak terpisahkan dengan pertanian.

Hasil panen bisa berupa padi, gandum, jagung, dan lainnya selalu disimpan di jompa. Untuk mengambil padi atau hasil panen di Uma Lengge hanya diperkenankan bagi ibu-ibu karena mereka yang bisa mengetahui kebutuhan keluarganya.

Selain itu menaiki Uma Lengge diperlukan sebuah tangga dari kayu ataupun dari bambu. Jika sudah selesai menyimpan atau mengambil padi maka tangganya akan dibawa kembali dan disimpan di tempat yang aman, agar terhindar dari aksi pencurian.

Tidak bisa sembarang dibuat

Juru Pelihara Adat Desa Mbawa, Djamaluddin Islamil menyebut jompa tidak bisa didirikan secara sembarangan. Ada orang-orang tertentu yang memiliki keahlian membuat jompa yang disebut penggita.

“Penggita akan menentukan kapan jompa didirikan, letak, dan ukurannya. Mereka adalah ahlinya. Setiap orang yang hendak mendirikan jompa harus meminta pendapat penggita,” katanya.

Susunan kayu yang membuat jompa sangat rapat sehingga aman dari gangguan binatang. Bahkan, hewan pengerat, seperti tikus, tidak akan mampu menyusup ke dalamnya. Hasil panen pun tersimpan dengan aman dan terjaga baik.

Selain Diklaim Paling Cantik, Berikut Fakta Menarik Sirkuit Mandalika

“Jika persediaan pangan di dalam Jompa cukup, kami tak khawatir kehabisan makanan,” ujar Djamaluddin.

Kearifan lokal ini masih terjaga di Desa Maria, Kecamatan Wawo. Di desa yang terletak sekitar 17 kilometer dari Raba itu, sawah masih membentang luas. Sementara itu produksi padi masih terjaga.

Hal ini sedikit berbeda dengan Desa O’o dan Desa Mbawa, lengge di Desa Maria ada yang justru dipisahkan dari lokasi rumah tinggal. Lumbung yang tidak ada di halaman rumah tinggal ini disebut jompa.

“Pertimbangannya, jika rumah tinggal terbakar, persediaan makanan tetap aman karena jompa tidak turut terbakar,” jelasnya.

Kini mulai berkurang

Tetapi desakan kepraktisan dan tergerusnya lahan pertanian membuat jumlah lengge atau jompa terus berkurang meski masyarakat Desa Maria cukup kuat menjaga tradisi dan kearifan lokal tersebut.

Menurut Kepala Desa Maria, Anas Abas setiap jompa dimiliki oleh satu keluarga dan akan diwariskan secara turun-temurun. Namun, ada kalanya jompa yang sudah rusak tidak lagi bisa diperbaiki.

“Banyak orang saat ini berpikir praktis sehingga mereka tidak memerlukan lagi jompa. Persedian makanan sekarang, seperti beras, sudah dapat disimpan di bawah kolong tempat tidur, di gudang, atau sekarang di toko-toko banyak dijual tempat atau kemasan khusus untuk menyimpan beras,” kata Anas.

SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik

Kartini termasuk warga Desa Maria yang setia menyimpan padi di jompa. Ladang padinya seluas 75 are setiap kali panen menghasilkan 75 karung gabah kering. Setiap karung berisi 25 kilogram gabah kering.

“Setiap tahun sesudah panen, kami (juga) biasa mengirim beras untuk empat anak kami, ada dua orang yang tinggal di Makassar dan dua orang di Sumbawa,” katanya.

Di Dusun Temba Bojo di Desa Maria merupakan titik konsentrasi lengge dan jompa, ada 13 lengge dan 93 jompa di sana. Pemkab Bima telah menetapkan kawasan itu sebagai situs Lengge Wamo.

“Tradisi dan budaya lokal yang tak putus telah menunjukkan kearifannya. Ketahanan pangan tercipta dari hal sederhana yang mengakar dalam kehidupan masyarakat seperti lengge dan jompa,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini