Kisah-kisah Injil dalam Sebuah Pementasan Wayang Wahyu

Kisah-kisah Injil dalam Sebuah Pementasan Wayang Wahyu
info gambar utama

25 Desember adalah hari besar bagi umat Nasrani di seluruh dunia. Berbagai perayaan pun turut dilakukan oleh para pemeluk agama Nasrani di seluruh dunia. Dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda di setiap daerah, tentunya perayaan yang mereka lakukan ini pun punya keunikannya masing-masing.

Sudah menjadi hal yang wajar bilamana kita melihat meriahnya perayaan natal dengan tradisinya masing-masing, apalagi bila di daerah yang memang memiliki banyak penduduk beragama Nasrani.

Di pulau Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, memang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Termasuk pula dalam segi budaya Jawa yang juga kerap berpadu dengan nilai-nilai keislaman.

Bahkan, sejarah-sejarah yang berkaitan dengan penduduk, pemerintahan, dan berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan wilayah ini juga tak lepas dari hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Misalnya mengenai bagaimana Sunan Kalijaga yang menggunakan media wayang sebagai alat syiar, meskipun sebenarnya lakon wayang pun juga identik dengan cerita agama Hindu.

Namun, bukan berarti tak ada bentuk akulturasi dari umat Kristiani dalam perkembangan kebudayaan di daerah ini.

Marbinda, Tradisi Perayaan Natal Khas Masyarakat Batak Toba

Wayang wahyu, wayang kreasi baru umat Kristiani

Nyatanya, Jawa Tengah dan Yogyakarta juga menjadi rumah bagi jutaan umat Nasrani yang tumbuh dalam kebudayaan Jawa yang kental. Mereka pun menyatu dengan masyarakat dan tentunya menjadi pelaku seni budaya di daerah ini.

Tepatnya di Yogyakarta, ada sebuah kesenian unik yang merupakan sebuah perpaduan antara budaya tradisional dan nilai-nilai Kristiani, yaitu Wayang Wahyu.

Wayang ini mulanya tercipta atas inisiasi dari Bruder Timotheus L. Wignyosubroto pada 2 Februari 1960 yang saat itu menjadi seorang biarawan dan menjabat sebagai kepala SD Pangudi Luhur Purbayan.

Ketika itu, ia menonton pertunjukan wayang dari M. M. Atmowijoyo yang menceritakan lakon 'Dawud Mendapat Wahyu Kraton' yang bersumber dari perjanjian lama.

Pasca pentas tersebut, ia bersama pegiat budaya lain pun berinisiatif untuk membuat konsep pertunjukan wayang sendiri dan membentuk komite untuk mengembangkan sebuah wayang Katolik yang kemudian dikenal sebagai wayang wahyu.

Dari situ, terciptalah sebuah paguyuban bernama Wayang Wahyu Ngajab Rahayu yang menjadi wadah untuk pengembangan kesenian ini.

Tujuan wayang wahyu sendiri adalah sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran-ajaran Kristiani, namun dengan cara yang sekiranya bisa diterima masyarakat dan tentunya kental akan nilai-nilai budaya yang juga menjadi bagian dari masyarakat Jawa.

Sehingga, selain nilai ajaran Kristiani bisa tersampaikan, pementasan wayang ini juga berperan sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Perlahan, wayang wahyu pun mendapatkan antusias yang besar dari masyarakat dan dalam perjalanannya, wayang ini juga mendapatkan banyak pengembangan-pengembangan.

Selain itu, wayang ini tidak hanya ditampilkan di wilayah Yogyakarta saja, namun juga ke berbagai daerah di Jawa Tengah. Salah satu sanggar yang kini aktif untuk menampilkan wayang wahyu di Yogyakarta adalah Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit. Di Purwokerto, ada pula Paguyuban Wayang Wahyu Hamanguningsih.

Sambut Natal dengan Tradisi Unik dari Timur Indonesia

Lakon dari Injil dan melambangkan toleransi

Nama Wahyu sendiri diambil karena lakonnya yang menceritakan penurunan Wahyu dari Tuhan pada umat kristiani. Lakon dari wayang Wahyu sendiri berasal dari kisah-kisah yang berasal dari kitab suci Injil. Entah itu yang bersumber dari perjanjian baru atau perjanjian lama.

Beberapa lakon yang kerap dipentaskan tersebut ialah kisah hidup Yesus Kristus, cerita Yohanes Pembaptis, David dan Goliath, Samson dan Delilah, para rasul, dan berbagai kisah Injil lainnya.

Layaknya wayang kulit pada umumnya, pementasannya sendiri juga menggunakan iringan seperti gamelan dan menggunakan bahasa Jawa. Hanya saja, pementasannya dibuat lebih sederhana dengan waktu pentas sekitar 2-4 jam. Peran sinden juga tidak sedominan wayang pada umumnya.

Menjelang perayaan Natal, pementasan Wayang Wahyu adalah sebuah rutinitas yang tidak boleh ketinggalan oleh pegiat budaya atau orang-orang yang menjadi umat Kristiani di Yogyakarta.

Wayang yang satu ini pun juga menjadi lambang dari toleransi keberagamaan di Yogyakarta. Selain dari segi lakon, wayang ini juga memiliki tokoh-tokoh yang dibuat sesuai dengan cerita dari Injil.

Personil dari pementasannya sendiri juga tidak hanya dari umat kristiani saja, namun siapapun bisa turut berkontribusi dalam pertunjukannya.

Biasanya, pementasannya dilakukan di gereja atau di pemukiman yang dihuni oleh umat-umat Katolik.

Selain di hari Natal, pada hari-hari besar keagamaan umat Kristiani lain, peresmian gereja, atau ulang tahun pastor, wayang ini ditampilkan untuk mengisi perayaannya.

Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang dan Upayanya untuk Melestarikan Wayang Orang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini