Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam

Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam

Tampilan nan elok Durian Borneo | Shutterstock @Dolly MJ

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI, tren sepekan media sosial GNFI kali ini menyoroti soal ragam pesona buah-buahan endemik di pulau Kalimantan.

Lain itu, ada juga soal aktivitas badang yang melakukan cara unik untuk meurunkan suhu tubuh. Hal yang tak kalah menarik adalah soal kepunahan yang mengintai habitat Pesut Mahakam.

Berikut ulasan lengkapnya.

Ragam warna durian Borneo

Tanah Indonesia memang sangat kaya dengan flora dan fauna yang cukup khas dan masih terjaga hingga saat ini. Salah satunya adalah aneka Buah Durian langka yang jarang di jumpai di negara lain.

Durian yangmerupakan buah tropis, kerap mendapatkan dengan sebutan “The King of Fruits” karena aroma dan nikmatnya. Meskipun tak jarang ada yang alergi dengan aroma buah ini.

Di hutan hujan pulau Borneo, memang lumbungnya aneka jenis durian langka. Disini terdapat Durian Merah, Orange, Hijau, Kuning, Durian Kura-kura yang berbuah di akarnya, dan masih banyak jenisnya lagi.

Badak berkubang

Seekor badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) ini tertangkap kamera video trap dengan durasi 2 menit 15 detik di sebuah kubangan air terjun, Blok Cigenteur, Taman Nasional Ujung Kulon.

Badak ini berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berusia 7 tahun ini dan sedang melakukan aktivitas berkubang dengan cara berguling-guling.

Aktivitas ini dilakukan badak untuk menjaga suhu dan kelembaban tubuh, pemenuhan mineral, mengurangi parasit, dan untuk beristirahat, yang dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari dengan durasi terlama sampai dengan tiga jam.

Saat ini, populasi Badak Jawa di Indonesia sampai dengan tahun 2019 sebanyak 72 individu dengan komposisi 39 jantan dan 33 betina.

Ada upaya-upaya konservasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon yang dilakukan melalui perlindungan dan pengamanan kawasan melalui patroli rutin.

Selain itu, dilakukan pula monitoring badak dan pembinaan habitat (Rhino Monitoring Unit), penanaman dan pemeliharaan pakan Badak Jawa di Semenanjung Ujung Kulon, serta berbagai upaya lainnya

Yuk kita terus jaga dan sayangi populasi badak. Menjaga dan mencintai mereka sama dengan menjaga dan mencintai Indonesia.

Pesut Mahakam di ujung kepunahan

View this post on Instagram

A post shared by Good News From Indonesia (@gnfi) on

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) dikabarkan di ambang kepunahan dengan catatan habitat yang tersisa hanya 80-85 ekor

Pesut Mahakam adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar dan berstatus terancam punah.

Satwa ini dinamakan Pesut Mahakam karena banyak ditemukan di perairan Sungai Mahakam, tetapi kalangan peneliti barat lebih mengenal hewan ini dengan nama Irrawaddy dolphin.

Secara umum, Pesut Mahakam hidup berkelompok, sama seperti lumba-lumba biasa pada umumnya, sehingga kalau satu pesut terpisah maka kecil kemungkinan dapat bertahan hidup. Pesut Mahakam memiliki umur yang cukup panjang, yakni dapat hidup hingga usia 25 sampai 30 tahun.

Populasi Pesut Mahakam hingga saat ini habitatnya kian hari semakin terusik, tentunya akibat banyak faktor. Salah satunya soal isu lingkungan.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih67%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon Selanjutnya

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.