Tren Sepekan: STNK Becak, Embun Upas, dan Robot Wisuda

Tren Sepekan: STNK Becak, Embun Upas, dan Robot Wisuda
info gambar utama

Pada pekan ini, tren yang sedang ramai di Instagram GNFI kali lebih beragam. Dari mulai tren becak di Yogyakarta, embun upas di Dieng yang ternyata sudah terjadi sampai tujuh kali di tahun 2020, sampai Universitas Diponegoro (Undip) yang nggak mau ''kalah'' sama Jepang.

Yuk, simak!

Becak Yogya, Dulu Transportasi Kini Tradisi

Foto lawas yang memperlihatkan antrian becak dan sepeda ini diketahui di Yogyakarta sekitar tahun 1972. Becak memang sudah memiliki jalan kisah sejarah sendiri di Yogyakarta. Salah satu yang diyakini adalah becak di Yogyakarta sudah mulai muncul sebelum Perang Dunia II.

Sementara sumber lain mengatakan bahwa becak baru masuk ke Yogyakarta melalui Semarang pada zaman penjajahan Jepang. Di Jepang sendiri memang ada becak khas yang mereka sebut dengan jinrikisha yang artinya kendaraan bertenaga manusia.

Beda-beda tipis ya. Kalau di Indonesia menggunakan tenaga manusia dengan cara dikayuh. Kalau di Jepang, menggunakan tenaga manusia ‘’murni’’ alias benar-benar ditarik oleh manusia.

Meski begitu, becak di Yogyakarta sendiri memang keberadaannya berkembang pesat di era 1970-an di tengah sedang tumbuhnya perekonomian Indonesia yang mulai menuntut manusia untuk memiliki mobilitas yang lebih tinggi.

Seiring era modernisasi terus berkembang, dan mobilisasi manusia yang dituntut untuk semakin cepat, tak ayal keberadaan becak justru dilupakan di beberapa kota besar di Indonesia. Namun tidak di Yogyakarta.

Jika dulu dianggap sebagai transportasi utama, becak di Yogyakarta kini justru semakin menambah alasan orang untuk berwisata ke sana. Dan tahukah Kawan GNFI kalau di sana, becak juga harus punya nomor plat kendaraan terdaftar layaknya sepeda motor, loh.

Peraturan Walikota No. 25 Tahun 2010 Tentang Kendaraan Tidak Bermotor mencantumkan bahwa kendaraan tidak bermotor seperti becak dan andong harus memiliki Surat Ijin Operasi Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB).

Peraturan ini diberlakukan untuk melayani para wisatawan serta mendukung pariwisata di Yogyakarta. Termasuk soal penerapan tarif becak yang kerap menimbulkan keresahan wisatawan karena suka diboongin bapak pemilik becak. Hehe.

Meski begitu, Yogyakarta memang selalu membawa pulang kisah yang baru setiap kali kita berkunjung di sana.

Ada yang punya kisah unik saat naik becak di Yogyakarta?

Embun Upas Dieng Sepanjang Tahun 2020

Sudah tidak aneh lagi kalau mau menikmati sensasi musim dingin salju, ya di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Apalagi menjelang puncak musim kemarau yang biasanya terjadi pada Agustus sampai September mendatang jumlah wisatawan justru meningkat.

Buat yang belum tahu kenapa pada musim kemarau di dataran tinggi Dieng selalu ‘’bersalju’’, sini GNFI jelaskan.

Kepala Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie, mengatakan fenomena embun es atau kerap dinamakan embun upas di dataran tinggi Dieng terjadi menjadi suatu tanda menguatnya angin timuran.

Hal tersebut mengakibatkan uap air terbentuk, namun uap air yang terbentuk justru tidak sebanyak seperti pada kondisi normal. Angin timuran yang berasal dari Australia itu mengakibatkan berkurangnya uap air dan membuat pembentukan awal berkurang hingga tidak terbentuk awan.

‘’Dengan tidak terbentuk awan, outgoing solar radiation dari gelombang panjang permukaan bumi menjadi tinggi. Selain itu outgoing solar radiation yang tinggi juga menyebabkan suhu udara turun drastis sehingga pada dini hari suhu dapat mencapai di bawah titik beku (di bawah 0 derajat celsius),’’ ungkapnya kepada Detik pada 12/6/2020.

Meski belum mencapai puncak musim kemarau, di paruh tahun 2020 ini embun upas di dataran tinggi Dieng diketahui sudah terjadi sampai tujuh kali, loh. Sejak Januari diketahui embun upas pernah terjadi karena anomali cuaca yang dipengaruhi oleh Badai Diana di Laut Selatan Jawa.

Pada 2019 lalu, suhu terdingin di dataran tinggi mencapai -9 derajat celsius. Dan pernah mencatat rekor terdingin di 2017 mencapai -15 derajat celsius!

Kira-kira tahun 2020 ini berapa ya suhu terdinginnya?

Tidak Perlu ke Jepang, Indonesia Juga Punya Robot Wisuda

Tidak mau kalah dengan Jepang, rupanya Universitas Dipenogoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, juga menggunakan teknologi robot dalam prosesi wisuda daringnya. Uniknya, jika GNFI perhatikan, robot-robot yang digunakan menyesuaikan kondisi ‘’asli’’ dari para wisudawan.

Kalau wisudawannya adalah laki-laki, maka robot akan diberikan rambut palsu laki-laki. Kalau wisudawannya adalah perempuan berhijab, maka robot juga akan dipakaikan hijab.

Para wisudawan yang akan menjalani wisuda UNDIP pada 27 Juli 2020 lalu diketahui berjumlah 2.561 orang dan semuanya akan digantikan oleh tiga robot peraga yang lengkap dengan jubah wisuda dan toga.

Robot ini dirancang bisa berjalan maju, mundur, dan berputar yang diatur menggunakan remote control dari jarak 15 meter.

Pengembangan robot-robot tersebut diketahui dilakukan hanya memakan waktu satu bulan. Yang dikembangkan oleh Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Teknologi Kesehatan, UNDIP, Center for Bio Mechanics, Bio Material, Bio Mechatronics, and Bio Signal Processing (CBIOM3S) dengan anggaran sebesar Rp40 juta hingga Rp50 juta.

Berarti setelah ini, bisa dong bikin robot-robot manusia lainnya.

--

Sumber: Kompas | Detik | Gudeg.net | Starjogja.com

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini