Pasar Video Streaming di Indonesia yang Kian Moncer

Pasar Video Streaming di Indonesia yang Kian Moncer
info gambar utama

Kawan GNFI, salah satu konten yang acapkali menjadi jagoan untuk menjadi hiburan adalah menonton layanan video streaming melalui internet. Dan, ternyata pasar video streaming Indonesia tumbuh semakin pesat.

Hal itu tak lepas dari kemajuan teknologi gawai, baik ponsel maupun tablet yang dapat dengan mudah mengakses semua konten berbasis tayangan video. Lain itu, penyedia jasa internet dalam memberikan kemudahan paket berlangganan layanan tersebut pun kian menjamur.

Boleh jadi, fenomena ini timbul akibat kurangnya sarana hiburan bagi masyarakat sehingga menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis ini. Lain itu, waktu untuk menyaksikan layanan streaming nyatanya lebih fleksibel, bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun.

Belakangan, masuknya Disney+ di Indonesia membuat persaingan layanan ini menjadi kian ketat. Layanan streaming dari perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang dikelola The Walt Disney Company ini akan jadi pesaing serius Netflix dan sejumlah pemain lain, seperti Viu, Catchplay, dan Iflix.

Disney+ yang datang dengan menggandeng Hotstar, platform streaming asal India dan operator telekomunikasi Telkomsel ini mulai beroperasi di Indonesia pada 5 September 2020.

Menukil Androidcentral, saat ini Disney+ telah beroperasi di 16 negara, seperti AS, Belanda, Australia, Inggris, Jerman, dan Prancis. Sementara, Netflix sudah menjangkau 190 negara, sedangkan Viu bisa disaksikan di 12 negara.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang dipilih Disney+, karena pasarnya yang sangat menjanjikan.

Pasar yang menjanjikan

Studi Google, Temasek Holdings, dan Bain & Co, menyebut bahwa pada 2019 penjualan musik dan video berlangganan di Asia Tenggara mencapai 600 juta dolar AS, dan akan berlipat menjadi 3 miliar dolar AS pada lima tahun mendatang.

Beberapa bulan terakhir, jumlah pemakai video streaming di Indonesia tercatat meningkat pesat. Publik yang merindukan tontonan film dan tak bisa pergi ke bioskop yang ditutup selama pandemi Covid-19, menyalurkan keinginannya dengan berlangganan video berbayar baik melalui ponsel, tablet, maupun smart TV.

rata-rata waktu menonton streaming

Dalam laporan Media Partner Asia, selama periode Januari-Maret atau kuartal I (Q1) 2020, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu menonton layanan streaming di kanal YouTube selama 347 menit per pekan. Hitungan itu berdasarkan satu pemilik akun (user). Begitupun pada Viu, sebanyak 237 menit, dan Catchplay (193 menit).

Dengan kata lain, dalam satu pekan yang berjumlah 10.080 menit, sekira 3,4 persenya dihabiskan untuk menonton Youtube, per pemilik akun. Begitu pun pada Viu (2,4 persen) dan Catchplay (1,9 persen).

Dari 20 besar layanan streaming yang paling sering diakses, layanan Vidio (milik grup Emtek) dan GoPlay (milik Gojek), berada pada juru kunci, dengan total konten yang di tonton selama 131 dan 112 menit per pekan.

Problem kecepatan koneksi internet

Sayangnya, potensi tadi masih terganjal soal kecepatan akses internet di Indonesia yang dinilai beberapa pihak belum sepenuhnya merata. Di pulau Jawa misalnya, sebagai pulau penggerak ekonomi Indonesia serta dengan banyak kemajuan teknologi Indonesia, nyatanya akses kecepatan internetnya masih kalah moncer ketimbang kota-kota lain di Indonesia bagian timur.

Dalam catatan Tempo.co, nyatanya kota Sorong, Papua Barat, menjadi kota dengan kecepatan unduh (download) tercepat di Indonesia, dengan rerata kecepatan 12 Mbps. Sementara kota Gorontalo dan Ambon memiliki kecepatan rata-rata 11 Mbps.

Ironisnya, Jakarta sebagai roda pemerintahan dan perekonomian, hanya memiliki kecepatan unduhan sebesar 7,8 Mbps. Lain itu, kota-Kota di pulau Jawa juga menduduki peringkat di bawah 10 besar.

Sementara untuk kecepatan akses unggah (upload), Pekanbaru menjadi kota dengan kecepatan rata-rata 5,9 Mbps. Kota Medan dan Mataram juga memiliki kecepatan unggah hingga 5 Mbps. Kota Jakarta jauh berada di bawah dengan kecepatan unggah 3,6 Mbps, tidak masuk 20 besar.

Sementara menurut data yang dirilis Opensignal dalam laporan State of Mobile Network Experience pada Juni 2020, kota Sorong, Ambon, dan Jayapura, menjadi kota terbaik untuk mengakses video streaming.

Dalam analisa yang mereka lakukan itu, sekira ada 44 kota terbesar di Indonesia yang tercatat memiliki kecepatan akes video streaming. Pengukuran berdasar pada skor 1-100 poin. Artikel lengkapnya dapat kawan GNFI baca di tautan berikut.

Dari paparan di atas, tentunya layanan koneksi internet harus berbanding lurus dengan pertumbuhan tren layanan streaming yang terus bergejolak di masyarakat.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini