Pesona Cagar Alam Gunung Mutis yang Mistis dan Eksotis di NTT

Pesona Cagar Alam Gunung Mutis yang Mistis dan Eksotis di NTT
info gambar utama

Kawan GNFI, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki keindahan dan pesona alam yang tidak ada sudahnya. Nah, lain waktu jika kawan berniat mengunjunginya, jangan hanya mampir ke Kupang yang terkenal dengan wisata Pantai Kolbano, Pulau Kera, dan Gua Kristal saja. Sempatkan juga waktu untuk menengok keindahan Cagar Alam Gunung Mutis.

Secara administratif, Cagar Alam Gunung Mutis terletak di Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kawasan yang berjarak sekitar 140 km sebelah timur laut Kota Kupang ini memiliki luas bentangan sekitar 12.000 hektare.

Juga dikenal sebagai Gunung Marmer, kawasan ini juga dihuni oleh salah satu suku adat tertua di NTT, yakni Suku Dawan. Suku ini menganggap kawasan ini cukup penting karena mereka menggantungkan hidup dari mata air yang berada di dalam gunung. Lazimnya mereka sebut Oe Kanaf, atau air dari batu.

Mata air tersebut menuju satu titik dan membentuk dua buah daerah aliran sungai (DAS), yakni DAS Benain dan DAS Noelmina. Keduanya, tak hanya merupakan sumber kehidupan masyarakat TTS, tapi juga hingga masyarakat Timor Tengah Barat (TTB).

Daerah basah di Timor dengan vegetasi unik

Secara umum, kawasan Gunung Mutis dan sekitarnya merupakan daerah terbasah di Pulau Timor. Hujan turun hampir saban bulan, namun frekuensi tertingginya terjadi pada bulan November sampai Juli. Lain itu, di kawasan ini terasa angin kencang yang berembus sepanjang November hingga Maret.

Tipe vegetasi yang berada di kawasan ini, merupakan perwakilan dari hutan homogen dataran tinggi. Tak heran, kawan dapat menemukan beberapa flora yang hidup di dataran tinggi (200-1.500 mdpl) di sana, misalnya, Ampupu (Eucalyptus urophylla) dan Cendana (Santalum album). Lain itu, pesona unik lainnya adalah hutan Bonsai yang didominasi pohon Kayu Putih (Eucalyptus alba).

Suhu Cagar Alam Gunung Mutis boleh jadi cukup dingin, kisarannya mencapai 12-19 derajat celsius, dengan suhu terendah sembilan derajat celsius.

Kondisi ini cukup wajar karena lokasinya berada pada ketinggian 1.500-2.400 mdpl. Dataran tertingginya bahkan mencapai 2.427 mdpl.

Laman Kesiniaja bahkan menggambarkan kawasan yang secara umum dikelola perhutani ini masih sangat asri terjaga, sepertinya tak ada tangan jahil yang mencoba mengusik lingkungan sekitarnya. Hanya sapi dan kuda saja yang dilepasliarkan untuk mencari makan setiap harinya.

Meski begitu, kawan juga harus tetap sigap dan waspada. Pasalnya, di kawasan ini juga ditemukan beragam fauna liar endemik Pulau Timor, seperti rusa (Cervus timorensis), kuskus, biawak (Varanus timorensis), ular sanca (Phyton timorensis), punai (Treon psittacea), betet (Apromictus jonguilaceus), dan pergam (Ducula cineracea).

Secara keseluruhan keadaan topografinya merupakan relief berbukit sampai bergunung dengan keadaan lereng miring hingga curam. Dan bila kawan ingin menikmati keindahan panorama yang cemerlang, naiklah ke puncak Gunung Mutis. Di sana kawan dapat menyaksikan matahari terbit atau matahari terbenam yang menawan.

Sisi mistis Gunung Mutis

Bagi kawan yang suka berkelana, tentunya ingin menjelajahi secara penuh kawasan ini. Tapi tunggu kawan, tak bisa sembarang berjalan melibas hutan dan sabana, karena mesti dipandu oleh warga sekitar.

Sebeum memulai perjalanan, pemandu umumnya akan melakukan ritual persembahan di sebuah batu besar di seikaran Hutan Bonsai Mutis. Mereka akan membakar rokok atau menyan sebagai tanda ''izin'' kepada si empunya gunung. Harapannya, agar perjalanan relatif lebih lancar.

Ya, kawasan Gunung Mutis memang dikeramatkan oleh warga sekitar. Karenanya para pelancong tak berani sembarangan merusak kawasan, dan dipaksa untuk menjaga keasriannya.

Transportasi dan akomodasi

Bagi kawan yang penasaran dan ingin berkunjung ke sana, kawan bisa menempuh dari tiga jalur berbeda, yakni dari arah selatan, timur, dan utara.

Jika kawan memulai perjalanan dari Kota Kupang, Pos Kupang menyarankan kawan bisa menumpang bus ke jurusan Kupang-SoE, tapi bisa juga ditempuh dengan menyewa kendaraan. Jarak tempuh rutenya sejauh 110 km dengan kurun waktu perjalanan kurang lebih tiga jam.

Kemudian setibanya di Kota Soe yang merupakan dataran tinggi dan dingin, kawan bisa melanjutkan perjalanan secara kolektif agar menghemat biaya. Sebab, tak ada angkutan umum yang akan membawa kawan berangkat dari Kota Soe hingga lereng Gunung Mutis yang berjarak 30 km.

Jadi, kawan dapat menyewa mobil secara kolektif, seperti mobil pikap dengan atap tertutup. Biaya yang ditarik untuk ongkos pulang pergi mencapai Rp600 ribu dengan waktu tempuh dua jam sekali jalan.

Bagaimana kawan, tertarik?

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini