3 Masjid Tertua dan Bersejarah di Indonesia

3 Masjid Tertua dan Bersejarah di Indonesia
info gambar utama

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Diperkirakan agama Islam sendiri mulai masuk ke Indonesia sejak abad ke-11. Perkembangan Islam di Indonesia membuat negara ini punya banyak masjid yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Beberapa di antaranya termasuk bagian dari sejarah dan jadi masjid tertua yang masih kokoh hingga saat ini. Selain jadi tempat ibadah, masjid-masjid berusia ratusan tahun juga kerap jadi tujuan wisata religi.

Mau tahu masjid tertua yang masih bisa dikunjungi di Indonesia? Berikut daftarnya:

Masjid Saka Tunggal Banyumas

Masjid Saka Tunggal Banyumas yang berlokasi di Desa Cikakak kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini dibangun pada tahun 1288. Saat ini, usianya telah mencapai 733 tahun dan masih berdiri kokoh.

Ketika memasuki kawasan masjid, Anda akan merasakan suasana yang tenang dan sejuk karena dikelilingi banyak pepohonan. Uniknya, di sekitaran masjid banyak monyet ekor panjang yang hidup secara liar tetapi tak mengganggu para pengunjung.

Menurut Subagyo, Ketua Juru Kunci Masjid Saka Tunggal, filosofi dari Saka Tunggal ialah bersatunya manusia dengan Sang Pencipta. “Manusia menghormati Sang Pencipta dan Sang Pencipta menciptakan manusia untuk berbuat hal-hal yang baik," jelasnya.

Di masjid ini terdapat empat helai sayap dari kayu yang melambangkan ”papat kiblat lima pancer” atau empat mata angin dan satu pusat. Artinya, manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin, yang melambangkan air, api, angin, dan bumi. Empat mata angin ini menjadi pengingat bahwa kita sebagai manusia untuk hidup seimbang. Ibaratnya, jangan terlalu main api bila tak ingin terbakar, jangan main air bila tak ingin tenggelam, jangan memuja bumi bila tak ingin jatuh.

Ada hal unik yang bisa ditemukan di masjid ini, yaitu tidak memiliki pengeras suara. Bila saatnya azan, selalu ada empat orang muazin yang mengumandangkan adzan secara bersamaan dengan lantang dan merdu.

Masjid Wapauwe

Termasuk masjid tertua di Indonesia, Masjid Wapauwe telah dibangun sejak tahun 1414 di Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Masjid ini jadi bagian dari sejarah masuknya Islam ke Tanah Maluku untuk pertama kalinya. Pada masa itu, Islam masuk ke Indonesia Timur lewat gerbang Maluku. Para pedagang Arab dari Gujarat, India mulai masuk, melakukan pergangan rempah serta menyebarkan agama Islam.

Dari segi arsitekturnya, masjid ini memiliki bangunan yang mirip joglo khas Jawa. Masjid Wapauwe pun tak memiliki kubah. Sekilasnya bangunannya mirip Mesjid Agung Demak.

Uniknya lagi, konstruksi masjid ini dibuat dari kayu dan tanpa menggunakan paku.

Jadi, sambungan antar konstruksi dibuat dengan pasak yang bisa dilepas-pasang.

Pada bagian dinding, dibuat dari pelepah sagu dengan setengah bagian tembok campur kapur. Sejak awal, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi tetapi bentuk aslinya masih tak berubah.

Di dalamnya, pengunjung bisa melihat empat pilar yang asli sejak masjid pertama di bangun. Ada juga sebuah bedug yang seusia dengan masjid dan masih berfungsi dengan baik. Di sana, juga terdapat Naskah Mushaf Alquran dengan tulisan tangan dari tahun 1500-an.

Masjid Sunan Ampel

Tak kalah tua, Masjid Sunan Ampel didirikan Sunan Ampel yang merupakan salah satu Wali Songo pada abad ke-15 tahun 1421. Masjid ini jadi tempat ibadah tertua di Jawa yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur.

Masjid Sunan Ampel menjadi titik penyebaran agama Islam di Jawa siring dengan berdirinya Kesultanan Demak. Pada tahun 1972, Pemerintah Kota Surabaya menjadikan masjid ini sebagai destinasi wisata religi.

Bila dilihat dari arsitekturnya, masjid ini memadukan tiga kebudayaan, yaitu awa Kuno, Hindu-Buddha, dan Arab. Bangunannya didominasi kayu jati. Zaman dahulu, di masjid inilah para ulama dan wali dari berbagai daerah berkumpul untuk membahas ajaran agama Islam sekaligus mendiskusikan metode penyebaran Islam di sekitar Jawa.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini