Menilik Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Berbasis Teknologi di Tanah Air

Menilik Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Berbasis Teknologi di Tanah Air
info gambar utama

Situasi pandemi memang belum menunjukkan tanda-tanda usai, tapi jika menilik kemunculannya yang sudah memberikan dampak pola kehidupan baru di berbagai aspek, ada satu bidang yang dalam keberlangsungannya selama situasi pandemi tak kalah menyita perhatian karena perubahan drastis yang terjadi, yaitu pendidikan.

Kita semua tahu, kalau sudah lebih dari setahun ini sistem pembelajaran di berbagai tingkatan pendidikan mau tidak mau harus menjalani sistem pembelajaran daring, yang di mana dalam penerapannya sudah pasti mengandalkan teknologi.

Walau terlihat dapat dijalankan dengan lancar dan dinilai berhasil bagi beberapa masyarakat tertentu, tidak dimungkiri kalau nyatanya masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan berbasis teknologi, terutama apabila dikaitkan pada pendidikan di jenjang lebih tinggi yang menjadi pengantar lanjutan untuk menciptakan SDM di industri pembangunan tanah air.

Beruntungnya, salah satu pelaku bisnis di industri pembangunan tanah air yaitu PT Trakindo Utama (Trakindo), memandang tantangan pendidikan berbasis teknologi yang berjalan selama situasi pandemi sebagai persoalan yang serius dan sepatutnya ditelaah bersama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari pihak institusi pendidikan maupun pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui forum ''Bincang PERSpektif Trakindo'', Kamis, (10/6/2021).

Baca juga Angkatan Corona: Wisuda Daring, Susah Cari Kerja, Hingga Quarter Life Crisis

Tantangan pendidikan berbasis teknologi menurut Kemendikbudristek

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek, Dr. H. Yaswardi, M.Si, menyampaikan kondisi keberlangsungan pembelajaran secara virtual atau sekolah daring yang berjalan selama lebih dari satu tahun ke belakang ini.

Menurutnya, tantangan besar utama dihadapi oleh para tenaga pengajar baik bagi guru di sekolah menengah atau dosen di perguruan tinggi, yang dituntut untuk terus berkreasi menciptakan situasi pembelajaran daring yang menarik dan kondusif bagi para pelajar.

“Covid-19 memang mendorong para dosen universitas dan guru di sekolah lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas dengan alat interaktif digital daring yang mendukung kolaborasi antara mahasiswa atau siswa, dosen, dan guru. Bagian paling menarik adalah melihat bagaimana para guru inovatif dalam hal membuat pengalaman belajar lebih baik bagi siswa mereka,” papar Yaswardi.

Baca juga Infrastruktur Daring Pendukung Pembelajaran di Rumah

Cara institusi hadapi tantangan pendidikan berbasis teknologi

Dalam forum yang sama, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari M. Eng. menjadi pihak yang berkesempatan menyampaikan pandangan dari sisi institusi pendidikan.

Ashari dalam pernyataannya mengajak masyarakat untuk sama-sama merefleksikan dampak positif dan negatif pembelajaran virtual secara bijaksana, baik di level sekolah dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi.

“Situasi pandemi nyatanya mengilhami percakapan dan gagasan baru tentang cara terbaik dalam sistem pembelajaran pelajar. Banyak pendidik mengubah metode pengajaran mereka untuk mendorong lebih aktif berinteraksi dan berkomunikasi melalui pengaturan virtual. Hal ini menjadi bagian dari perubahan yang bisa kita lihat dalam pendidikan teknologi,” ungkap Ashari.

Baca juga Yuk, Belajar dengan Kursus Daring Karya Anak Bangsa!

Dirinya juga tidak menampik, bahwa bagi hampir sebagian besar institusi pendidikan di tingkat perguruan tinggi nyatanya sudah memiliki sistem pembelajaran daring atau virtual di beberapa mata kuliah tertentu jauh sebelum kondisi pandemi terjadi. Sehingga saat kebijakan pembelajaran daring dilakukan secara penuh, berbagai perguruan tinggi rata-rata hanya perlu menyesuaikan sistem yang sudah ada.

Lain halnya bagi sistem pembelajaran di tingkat sekolah dasar atau menengah yang memang hampir sebagian besar masih asing dengan pembelajaran daring, yang mau tidak mau menjadi kebiasaan baru dan masih perlu melalui beberapa proses untuk bisa menyesuaikan secara sepenuhnya walau sudah berjalan selama hampir satu tahun lebih sampai saat ini.

ITS yang pada dasarnya merupakan perguruan tinggi dengan label keunggulan di bidang Teknologi, kenyataanya berhasil memberikan pembuktian bahwa situasi pandemi yang terjadi tidak menghalangi sistem pendidikan yang tetap bisa bejalan dengan semestinya dan dibarengi dengan berbagai prestasi yang dimiliki oleh para pelajar.

Baca juga VIOLETA, Robot Sterilisasi Covid-19 Berbasis Sinar UV Kolaborasi ITS – Unair

Berangkat dari hal tersebut, bukan tidak mungkin jika hal serupa juga bisa dijalankan oleh berbagai insitusi pendidikan dari berbagai tingkatan dengan dibarengi penyesuaian budaya dan kapasitas, terutama dalam hal teknologi digital bagi SDM, termasuk guru, dosen, serta tenaga kependidikan.

Peran perusahaan dalam dunia pendidikan berbasis teknologi

Beruntungnya, di Indonesia ada banyak perusahaan yang menaruh perhatian dan kepedulian tinggi terhadap berbagai aspek keberlangsungan masyarakat atau yang lebih umum dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), tak terkecuali untuk bidang pendidikan.

Salah satu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap hal tersebut di antaranya Trakindo, lewat komitmen memberikan kontribusi pada kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Yulia Yasmina selaku Chief Administration Officer Trakindo menyatakan tanggung jawab perusahaan, sebagai pemain di industri yang membutuhkan SDM berkualitas terutama yang memiliki keahlian di bidang teknologi.

Kontribusi Trakindo
info gambar

Melihat fenomena teknologi yang menjadi tulang punggung dalam pembangunan Indonesia, terlebih dalam segi infrastruktur, Trakindo turut serta berkontribusi lebih jauh dalam pendidikan Indonesia yang berbasis teknologi, yaitu dengan mendukung pengembangan di jurusan-jurusan terkait teknologi, serta menambah dukungan dan kerja sama di bidang terkait.

“Langkah tersebut diperlukan untuk menyiapkan tenaga dan SDM terlatih yang siap kerja dan mampu menghadapi tuntutan teknologi di masa depan,” ungkap Yulia.

Setelah mendapat pandangan dari berbagai pemilik kepentingan baik dari sisi pemerintah melalui Kemendikburistek, Institusi pendidikan yang diwakili oleh ITS, dan Trakindo sendiri sebagai pemain di industri teknologi, Yulia meyakinkan bahwa dengan sinergi berkelanjutan yang ada dari semua pihak, pendidikan berbasis teknologi di Indonesia akan mampu mencetak SDM yang unggul dan bermutu.

“Pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak dan membutuhkan kolaborasi yang sinergis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang unggul dan pembelajaran yang bermutu,” tutup Yulia.

Baca juga Indonesia di Jajaran Tertinggi Penggunaan Teknologi Pendidikan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini