Ketika Indonesia Berhasil Kawinkan Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992

Ketika Indonesia Berhasil Kawinkan Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
info gambar utama

Olimpiade Barcelona 1992 menjadi lembaran sejarah penting bagi Indonesia, selama mengikuti pagelaran akbar ini. Sejak pertama kali digelar pada tahun 1896 di Athena, Yunani, Indonesia telah tujuh kali tampil di Olimpiade. Indonesia hanya dua kali tidak mengirim kontingen pada periode 1964 dan 1980.

Sebelum Olimpiade Barcelona, prestasi tertinggi Indonesia diraih pada 1988 yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan. Saat itu, perak disumbangkan dari cabang olahraga panahan, melalui Trio Srikandi Lilies Handayani, Nurfritriana Saiman, dan Kusuma Wardhani.

Menjelang Olimpiade 1992, secercah harapan muncul bagi Indonesia. Komite Olimpiade International (IOC) memutuskan memasukan bulu tangkis sebagai olahraga resmi. Sebelumnya, bulu tangkis memang pernah dipertandingkan di Olimpiade. Namun hanya sebagai demonstrasi (1972) dan eksibisi (1988).

Memang, meski menjadi cabang olahraga yang cukup tua di dunia, bulu tangkis baru menjadi bagian olimpiade secara resmi pada 1992 di Barcelona. Pada buku yang ditulis Eko Djatmiko, Mimi Iriawan, TD. Asmadi, dkk, bertajuk ''Sejarah Bulutangkis Indonesia'' terbitan pengurus Besar PBSI dan Spirit Komunika pada 2004, dikisahkan upaya International Badminton Federation (IBF) agar bulu tangkis ini masuk olimpiade sejak 1965.

Barulah pada 1972, IBF mengenalkan bulu tangkis kepada pejabat IOC yang bermarkas di Swiss. Dalam perkenalan melalui pertandingan yang menghadirkan para juara dunia, seperti Yang Yang vs Eddy Kurniawan, Icuk Sugiarto vs Morten Forst Hansen, dan juara lainnya. Para pejabat komite ternyata terkesima dengan atraksi yang disungguhkan pemain.

Catatan Prestasi Atlet Indonesia di Ajang Olimpiade

Pada ajang ini Indonesia memperoleh total empat medali, Rudy Hartono dan Ade Chandra/Christian Hadinata menggondol medali emas. Sementara Utami Dewi meraih medali perak untuk tunggal putri, dan perunggu di ganda campuran bersama Hadinata. Indonesia tentu boleh percaya diri akan meraih medali untuk pertama kali melalui bulu tangkis.

Pada Olimpiade 1988, buku tangkis kemudian ditampilkan sebagai olahraga eksibisi. Pada saat itu ada 30 pemain dari sembilan negara bertanding di Korea Selatan (Korsel), yang disaksikan sekitar 5.000 penonton.

Namun dari lima sektor, Indonesia hanya mampu meraih satu medali, yakni perak persembahan tunggal putra Icuk Sugiarto. Di babak final, Icuk harus menyerah dari musuh bebuyutannya asal China, Yang Yang. Sementara tuan rumah Korsel menjadi juara umum dengan torehan tiga emas, satu perak dan satu perunggu.

Barulah pada 1992, bulu tangkis dipertandingkan secara resmi dalam olimpiade yang berlangsung di Barcelona, Spanyol. Indonesia menurunkan Susi Susanti, Sarwendah Kusumawardhani, Alan Budikusuma, Ardy B Wiranata, dan Hermawan Susanto di nomor tunggal.

Untuk nomor ganda putra, ada Eddy Hartono/Rudy Gunawan, Rexy Mainaky/Ricky Soebagja. Sedangkan untuk ganda putri ada Lili Tampi/Finarsih dan Erma Sulistyaningsih/Rosiana Tendean.

Mantan Ketua Umum PBSI, Try Sutrisno ingat betul pesan dari Presiden Soeharto kepada para kontingen bulu tangkis yang akan bertanding di olimpiade. Saat itu menurut Try, Soeharto hanya meminta satu saja medali emas.

"Presiden (Soeharto) hanya mengatakan, "do the best" Kepada PBSI, beliau hanya meminta satu saja medali emas dari Olimpiade Barcelona. Pak Harto melihat dari bulutangkis, harapan untuk mendapatkan medali emas itu bisa dicapai," kata Wakil Presiden RI ke-6 tersebut, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Ketika medali emas dikawinkan

Di nomor tunggal putra, Ardy Wiranata menjadi andalan Indonesia. Pesaing terberatnya adalah unggulan pertama asal China, Zhao Jianhua, dan Rashid Sidek asal Malaysia. Persaingan semakin menarik setelah Jianhua dan Sidek tersingkir di perempat final. Hebatnya, terdapat tiga pebulu tangkis Indonesia yang lolos ke semifinal Olimpiade 1992.

Selain Alan Budikusuma ada juga Hermawan Susanto dan Ardy Wiranata. Alan ke final setelah mengalahkan wakil Denmark, Stuer-Lauridsen dengan skor 18-14, 15-8. Sementara Ardy mengandaskan Hermawan lewat skor 10-15, 15-9, 15-9. Pada akhirnya, terjadilah All Indonesian final.

Alan pun keluar sebagai pemenang medali emas setelah menang dua gim langsung, 15-12, 18-13. Padahal, dirinya kurang diunggulkan dibanding kedua rekannya karena sempat tampil inkonsisten. Ajang ini juga jadi pembalasan Alan setelah satu tahun sebelumnya kalah oleh Ardy di All England.

"Saya tidak diunggulkan, tekanannya tentu berbeda. Semua pelatih saat itu berharapnya kepada teman saya, Ardy. Tekanan lebih besar ada di Ardy. Jadi saya, ya sudahlah, asal ikut saja, main tanpa beban," aku Alan dalam Bolasport.

"Saya lihat juga perhatiannya agak berbeda. Ya tidak apa-apa, karena saya juga sadar saat itu penampilan saya sedang tidak bagus sehingga tidak terlalu ada tekanan. Untuk melepaskan hal itu rasanya tidak mudah. Apalagi Olimpiade, semuannya campur aduk, tidak bisa makan, tidur, banyak sekali yang muter-muter terus di kepala," bebernya.

Inilah Sang Srikandi Bulutangkis Putri Di Era 70-an!

Namun, kehadiran Susi Susanti memang menjadi pegangan buat Alan, begitu juga sebaliknya. Susi saat itu merasakan tekanan yang luar biasa sehingga keduanya saling mendukung.

"Yang pasti saat final, begitu saya tahu Susi menang, saya mainnya jadi tidak ada beban. Pada final toh saya menang atau kalah, yang menang Indonesia. Saya lebih nothing to lose," ujar Alan.

Memang perjuangan Susi meraih emas di sektor tunggal putri terbilang lebih berat. Sempat menang mudah saat perempat final dan semifinal atas Somharuthai Jaroensiri plus Huang Hua, ia mendapat perlawanan ketat dari Ban Soo-Hyun di final.

Meski Susi unggul catatan pertemuan, wakil Korsel itu sempat mengambil gim pertama lewat kemenangan 11-5. Namun di dua gim terakhir, Susi bangkit dan meraih kemenangan 11-5, 11-3.

"Dari gim ke-3 saya mulai yakin, saya lebih unggul fisiknya. Dia tidak pernah menang lawan saya kalau rubber game. Ibaratnya saya ini mesin diesel, makin lama, makin panas," kata Susi pada Bola.

Total, lima medali didapatkan Indonesia dari total 16 yang diperebutkan. Rinciannya adalah masing-masing dua medali emas dan perak, serta satu medali perunggu. Lima tahun setelah Olimpiade 1992, dua peraih medali emas pertama Indonesia, Susy Susanti dan Alan Budikusuma, menikah. Tidak lama berselang Susi memutuskan untuk gantung raket.

Barcelona menjadi tempat terjalinnya cinta untuk Indonesia dengan medali emas olimpiade untuk pertama kalinya. Kisah indah yang terus dirawat oleh tim bulu tangkis dalam tradisi emas olimpiade pada edisi selanjutnya.

Tradisi emas olimpiade

Sejak meraih emas pada Olimpiade 1992, cabang bulu tangkis tidak pernah absen menyumbangkan medali untuk Indonesia, kecuali 2012. Ini bisa dilihat dalam data sejak 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, dan 2016. Walau memang jumlah perolehan medali menurun.

Merah Putih kembali berkibar pada Olimpiade 1996 yang berlansung di Atlanta, Amerika Serikat. Saat itu medali emas disumbangkan oleh pasangan ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja yang berhasil mengempaskan pasangan Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia).

Bak warisan yang harus dilanjutkan, bulu tangkis kembali mendulang emas pada Olimpiade 2000 di Sydney Australia. Pasangan ganda putra kembali ujuk gigi melalui pasangan Tonny Gunawan/Candra Wijaya. Sementara tunggal putra Hendrawan harus mengakui keunggulan Ji Xinpeng dari Tiongkok pada babak final.

Tradisi emas kembali diteruskan pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani melalui tunggal putra, Taufik Hidayat. Dirinya harus melalui pertarungan yang alot dan dramatis, Taufik menghentikan perlawanan Shon Seung-mo dari Korsel.

Raihan medali kembali berulang pada 2008 yang berlangsung di Beijing, Tiongkok. Kali ini emas disumbangkan oleh pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan yang mengalahkan Cai Yun/Fu Haifeng (Tiongkok).

Tradisi emas Indonesia terhenti pada Olimpiade 2012, merah putih gagal berkibar di London, Inggris. Saat itu tumpuan Indonesia, pasangan Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal masuk ke final, setelah kalah menghadapi Xu Chen/Ma Jin.

Tapi kegagalan pada olimpiade 2012, dibayar tuntas pada Olimpiade 2016 Brazil. Emas bulu tangkis akhirnya dipersembahkan Tantowi/Lilyana. Mereka berhasil mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dua set langsung dengan skor 21-14, 21-12.

Kemenangan Fitriani, Apakah Ini Titik Awal Kebangkitan Bulutangkis Putri Indonesia?

Pada Olimpiade 2020 yang berlangsung di Tokyo, Jepang, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Rionny Mainaky, memastikan para atlet dalam kondisi siap tempur. Persiapan tim bulu tangkis Indonesia yang berkekuatan 11 pemain ini memang terganggu pandemi Covid-19. Namun hal ini bukanlah alasan untuk tidak tampil maksimal pada pertandingan nanti.

Setelah tiba di Jepang, tim bulutangkis Indonesia akan bertolak ke Kumamoto dan menghabiskan waktu selama 10 hari untuk karantina dan adaptasi. Setelah itu, pada 19 Juli 2021 mereka baru menuju ke Athletes Village Olimpiade 2020 di Tokyo. Tentunya harapan besar agar tradisi emas Indonesia tetap masih bisa terjaga.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini