Dongeng Romansa Panji yang Terekam dalam Relief Candi Panataran

Dongeng Romansa Panji yang Terekam dalam Relief Candi Panataran
info gambar utama

Indonesia ternyata memiliki cerita memukau layaknya kisah Mahabarata, Ramayana, atau kisah asmara ala Eropa: Romeo dan Juliet. Dongeng 'asli Indonesia' itu adalah cerita Panji, yang berisi kisah percintaan antara putra mahkota Kerajaan Jenggala, Inu Kertapati, dan putri 'Sekar Kedathon' Kerajaan Kediri, Dewi Sekartaji (Dewi Candrakirana).

Menurut dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Sumaryono, cerita Panji asli berasal dari Jawa. Kisahnya diilhami oleh pembagian atau pembelahan wilayah antara sebelah timur Sungai Berantas yang disebut Jenggala dan di sebelah barat Sungai Berantas yang dikenal Panjalu, pada tengah abad II, atau tepatnya antara tanggal 20-24 November 1042 menjelang turunnya takhta Raja Airlangga.

''Namun, berdasarkan data yang lain, yakni yang ditulis Slamet Mulyana dalam buku tafsir sejarah Negarakretagama, cerita Panji bertitik tolak dari perkawinan Raja Panjalu ke-10 dengan Dewi Sasikirana dari Jenggala. Berdasarkan data ini, maka kemunculan cerita Panji diperkirakan antara akhir abad ke-12 sampai dengan awal abad ke-13 M,'' kata Sumaryono, dalam makalah yang disampaikan pada Seminar Naskah Kuno Nusantara cerita Panji sebagai warisan dunia, di Jakarta, seperti dikabarkan Republika.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Digambarkan ada seorang gadis berambut panjang tergerai berbaring di dipan, yang ditemani para inang. Perempuan muda itu terlihat sedang sakit. Sakit rindu, akibat terlalu lama berpisah dengan kekasihnya.

Adegan berlanjut memperlihatkan seorang lelaki bertopi tekes--dikenali sebagai Panji--tengah duduk di bawah pohon memegang gulungan surat. Di depannya menanti seekor burung berjambul dan berparuh bengkok. Bentuknya mirip burung kakak tua berjambul.

Burung itu kemudian terbang jauh melewati perairan yang luas. Paruhnya menggigit surat milik Panji hingga akhirnya berhasil tiba di hadapan perempuan yang tengah sakit rindu itu. Melihat si burung, perempuan itu bangkit dengan gembira. Dia terima surat dari sang kekasih yang berada jauh darinya dengan penuh suka cita.

Kira-kira begitulah kisah cinta Panji dan kekasihnya yang bisa dibayangkan ketika membaca relief di dinding Candi Panataran, Blitar. Kerinduan dalam kisah-kisah cinta Jawa Kuno sering digambarkan dengan ekspresi sakit rindu.

“Dalam bahasa Jawa Baru, sakit yang demikian dinamai loro wuyung atau loro bronto, yang artinya sakit rindu sebagai wujud dari psikosomatis lantaran cinta yang terhalang,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, dalam Historia.

Cerita cinta mengenai Raden Panji dan Candrakirana memang banyak versinya, tetapi terdapat kesamaan dalam semua versi itu, yakni jalan cerita yang berpisah, saling mencari, kemudian kembali bersatu. Kisah cinta keduanya banyak diceritakan kembali dalam versi relief ataupun sastra, karena bisa menyatukan dua kerajaan secara damai.

Diceritakan dalam setiap candi

Tema klasik cerita ini terutama terkait dengan petualangan dari dua tokoh utama tersebut, meski juga ada yang mengenai perjuangan hidup tokoh lain. Asal-muasal cerita Panji memang tidak diketahui, tetapi jelas memiliki latar belakang era Kerajaan Kadiri. Ketika para pujangga mulai merangkai karya sastra dengan cerita yang tidak lagi India-sentris, melainkan bernafaskan kehidupan lokal Jawa.

Cerita-cerita Panji mencapai kepopuleran di era Majapahit, dan mendapat posisi yang tinggi, sehingga sejumlah candi peninggalan kerajaan ini berhiaskan relief yang mengabadikan tidak hanya epik cerita dari India, seperti Ramayana dan Mahabharata, namun juga kisah-kisah dari lingkup cerita Panji maupun yang sezaman.

Arkeolog Agus Aris Munandar, bahkan mengatakan bahwa cerita Panji merupakan "Kisah Nasional Majapahit" karena seringnya digambarkan pada relief dinding candi di masanya. Seperti Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Candi Mirigambar di Kabupaten Tulungagung, dan candi Surawana di Kabupaten Kediri, yang memiliki relief yang menceritakan tokoh Panji.

Candi-candi Tertinggi di Bumi Pertiwi

Peneliti dari Universitas Frankurt Jerman, Lydia Kieven, mengatakan jejak cerita Panji ini salah satunya terpatri pada potongan-potongan relief yang ada di Candi Penataran. Di sana ada panel kecil yang menggambarkan sosok lelaki bertopi yang dapat ditafsirkan sebagai Panji. Adegan di relief yang menggambarkan ada seorang lelaki bertopi yang menyeberangi air dengan duduk di atas ikan.

''Sastra Panji adalah salah satu contoh khas untuk kreativitas pada Jawa Timur. Naskahnya atau versi lisan diciptakan pada zaman itu dan tidak berdasarkan pada sastra India,'' kata Kieven, menukil Republika.

Menurut Kieven, memang ada pendapat berbeda-beda mengenai awal cerita Panji—apakah pada zaman Kerajaan Kediri, Singosari, atau baru pada Kerajaan Majapahit? Nah, walaupun belum bisa ditentukan, yang penting bahwa cerita Panji adalah bukti kreativitas budaya Jawa Timur.

''Pada zaman Majapahit cerita Panji menjadi populer dan sekaligus dihargai. Salah satu alasannya adalah karena simbolisme politiknya: yakni usaha untuk menyatukan dua kerajaan historis—Kerajaan Jenggala (dengan putra Panji) dan Kerajaan Daha (dengan Putri Candrakirana)—adalah aspek penting dalam kedamaian dan harmoni kerajaan. Penggambaran cerita Panji digunakan sebagai simbol religius dan sekaligus lambang politik,'' bebernya.

Kepopuleran cerita Panji juga diceritakan dalam Negarakertagama. Dalam 'Kakawin' ini dikisahkan Raja Hayam Wuruk menari dalam pentas Wayang Topeng yang mementaskan cerita Panji. Dan, di samping fungsi politik, kesenian Panji ternyata masih menjadi bertambah penting dalam arti religius pada abad ke-15, sewaktu kekuasaan Majapahit sudah mulai runtuh.

''Saat itu, banyak orang istana menghindar dari persaingan dan kekacauan politik dengan mencari ketenangan lewat agama. Misalnya, di Candi Kendalisodo yang letaknya terpencil itu, di sana dinding-dindingnya dihiasai relief yang menggambarkan cerita panji,'' kata Kieven

Di daftarkan ke UNESCO

Pada 2017 lalu, naskah mahakarya cerita Panji didaftarkan atau dinominasikan ke UNESCO agar menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia untuk kategori naskah kuno atau Memory of The World (MoW).

“Hasil dari pendaftaran itu akan keluar pada bulan Oktober nanti,” ujar Wardiman Djojonegoro, promotor nominasi itu saat menjadi pembicara dalam seminar Panji di gedung Monumen Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (25/3/2017), seperti ditulis dalam laman Kemdikbud.

Mantan menteri pendidikan dan Kebudayaan ini menuturkan, pengajuan ke UNESCO didaftarkan sejak 2016 oleh Perpustakaan Nasional (perpusnas). Upaya ini, kata dia, sudah dirintis sejak setahun sebelumnya.

Cerita Panji merupakan mahakarya kebudayaan sastra lisan berasal dari Jawa Timur pada masa Kerajaan Kediri (Daha), yang kemudian merakyat pada zaman Majapahit sehingga tumbuh dan berkembang ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke kawasan Melayu, Laos, Myanmar, Kamboja, dan Thailand.

Awal Mula Pendirian Kerajaan Majapahit Ternyata Berasal dari Daerah Ini

Kisah-kisah cerita Panji dipergelar dalam kesenian Wayang Beber (Pacitan), Wayang Topeng (Malang), Wayang Tengul (Bojonegoro), Wayang Klithik (Kediri), Penthul Tembem (Madiun), Kethek Ogleng (Madiun), Tari Topeng (Cirebon), Terompong dan Riong (Bali) , Kongbonglek dan Kongbonglai (Thailand).

Di kawasan Indochina, cerita Panji diadaptasi sesuai dengan situasi setempat. Tokoh Raden Inu Kertapati diadaptasi dalam karya sastra dan drama tari dengan nama yang bervariasi, seperti Inao/อิเหนา (Siam), Inav/Eynao (Khmer), atau E-naung (Birma). Sementara Dewi Sekartaji dikenal sebagai Bussaba/Bessaba.

Di Malaysia, Cerita Panji disebut sebagai Hikayat Panji Semirang, yang diangkat menjadi teks bacaan di sekolah. Bahkan pernah dibuatkan film hitam-putih berjudul Panji Semerang produksi Singapura pada tahun 1961.

Cerita Panji membentuk ekspresi kebudayaan seperti adat istiadat, aliran kepercayaan, filsafat, adibusana, sampai adiboga, sehingga dapat dikatakan bahwa jangkauan Cerita Panji meluas dan melebar, sehingga layak disebut sebagai kebudayaan Panji di antara kemahakayarayaan perbendaharaan Peradaban Nusantara.

“Ini juga sesuatu yang membanggakan bagi kita semua bangsa Indonesia. Masih banyak hal yang bisa digali dari cerita ini,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini