Program MJC, Kolaborasikan Freelancer dan Pengusaha di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Program MJC, Kolaborasikan Freelancer dan Pengusaha di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja
info gambar utama

Jika ada yang bilang mencari pekerjaan di masa pendemi Covid-19 itu sulit, boleh jadi tak sepenuhnya benar.

Upaya-upaya pemerintah pusat maupun provinsi untuk terus meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi, sepertinya mulai berdampak melalui beberapa rangkaian program pelatihan SDM serta menggenjot Go Digital untuk para pelaku UMKM dan dunia usaha.

Berdasarkan catatan Kementerian Koperasi dan UMKM, pada 2020 terdapat 129 juta penduduk Indonesia yang menggunakan eCommerce untuk transaksi jual-beli, dengan nilai transaksi mencapai Rp266 triliun.

Faktor pendukung utamanya adalah besarnya populasi penduduk Indonesia, yang saat ini mencapai sekitar 272 juta jiwa, di mana 137 juta di antaranya adalah angkatan kerja. Selain itu, sebanyak 175 juta penduduk atau sebesar 65,3 persen populasi merupakan pengguna internet.

Salah satu upaya yang terus di dorong pemerintah provinsi (pemrov) untuk meningkatkan ekonomi masyarakat adalah dengan melibatkan pekerja lepas (freelance) yang dikolaborasikan dengan para pelaku usaha dan UMKM. Seperti apa yang digagas oleh Pemprov Jawa Timur melalui program Millennial Job Centre (MJC).

Secara umum, MJC merupakan program pengembangan kompetensi bagi pemuda yang menekankan pada “On The Job Learning” dengan memberikan kesempatan pekerjaan temporer (project) berbayar untuk para pekerja lepas. Pekerjaan itu datang dari klien dunia usaha, seperti UMKM, perusahaan, atau organisasi.

Pendek kata, MJC adalah wadah bagi millennial dan dunia usaha agar terhubung sesuai dengan profil, kekuatan, dan kebutuhan masing-masing pihak. Lain itu, MJC juga mengombinasikan aspek digital dan non-digital untuk membuka kesempatan kerja yang didukung penuh oleh pihak pemerintah dan swasta di level nasional.

Sejak diinisiasi pada 2019, saat ini program MJC telah melibatkan 1.491 talenta pekerja lepas, 35 klien, 75 mentor, serta 1.956 project.

Dapat Pendanaan 80 Juta Dolar AS, Startup Ini Dorong 6,5 Juta UMKM Go Digital

Mentoring yang menciptakan efek domino dunia usaha

creativesidea
info gambar

Dalam sebuah kesempatan, GNFI sempat berbincang dengan Lalu Mahendra, mentor dari program MJC untuk para pekerja kreatif visual. Dalam menjalankan program mentoring itu, Ia berkolaborasi dengan East Java Super Corridor (EJSC) wilayah Malang.

EJSC merupakan wadah kreativitas anak-anak muda yang tersebar di 5 wilayah Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jawa Timur, yakni di Jember, Pamekasan, Bojonegoro, Malang, dan Madiun.

Dalam kesempatan itu, Lalu menyebut bahwa apa yang dilakukan Pemrov Jatim melalui MJC membuka banyak sekali kesempatan bagi para freelancer untuk berkolaborasi dengan para pelaku usaha. Dan tentunya, hal itu memberikan efek domino bagi mereka, baik dari sisi bisnis maupun peningkatan kemampuan (skill up).

Teranyar, Lalu dan talenta-talenta MJC menginisiasi program yang disebut talent academy, tengah melakukan beragam mentoring untuk freelance kreatif visual, seperti fotografer, videografer, dan desainer visual, yang sudah barang tentu nantinya karya mereka dapat membantu para pelaku UMKM dan perusahaan untuk lebih memahami konsep konten visual.

''Kami ingin memberikan gambaran atau edukasi kepada mereka bagaimana sebuah konsep visual mampu berdampak pada bisnis atau penjualan produk. Dan itu tentu berdampak pada nilai ekonomi, baik untuk freelancer atau pengusaha,'' ungkap Lalu, Rabu (1/9/2021).

Lalu juga bilang, bahwa inisiatif ini mendapatkan banyak respons dari para freelancer kreatif visual, mulai dari yang biasanya motret wedding/pernikahan, foto produk, foto alam, vlogger, dst.

''Secara garis besar, kami ingin memberikan pemahaman bahwa memotret atau mengkaryakan sebuah visual tak hanya sekadar bagus, tapi memiliki nilai jual dan manfaat. Jadi, mentoring yang dilakukan tak hanya pada sesi-sesi hunting foto, dsb. Tapi lebih konkret,'' tandasnya.

Optimisme UMKM Go Digital Lewat Dukungan Transaksi di Platform eCommerce

Tak punya alat yang memadai, tak masalah

mentoring memotret
info gambar

Dalam program ini, tak sedikit talenta yang datang tanpa memiliki perangkat yang memadai, seperti tak memiliki kamera, tak memiliki perlengkapan studio, dst. Namun, para talenta tersebut tidak dipaksa untuk membeli perangkat pendukung tersebut, melainkan diajarkan bagaimana mengoptimalkan perangkat yang dimilikinya, serta disediakan tempat untuk melakukan workshop.

''Tak masalah ketika mereka tak punya kamera, kami akan mengajarkan bagaimana mengoptimalkan memotret dengan menggunakan ponsel. Yang pasti, passion seninya dan keinginan untuk berkembang harus ada,'' jelasnya.

Dari beberapa talenta yang tak memiliki perangkat pendukung, pada akhirnya mereka membentuk komunitas yang saling mengisi dan melengkapi, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan efisien.

''Uniknya, karena mereka itu berinisiatif untuk saling mengisi kekosongan antara satu dan lainnya, dengan membentuk komunitas di luar mentoring. Itu yang membuat saya salut,'' bangganya.

Menilik Sejarah Hari UMKM Nasional, Penggerak Utama Perekonomian Indonesia

Memberikan dampak dan semangat positif

Lalu tak menampik bahwa semangat yang saat ini terjadi pada para talenta, adalah dampak psikologis yang ditimbulkan dari inisiatif pemprov dalam membuat program pemberdayaan SDM, serta menyediakan atau membuka peluang saluran-saluran pekerjaan--berupa project.

''Boleh dibilang, dari program yang dilakukan Pemrov Jatim ini membuat mereka--para freelancer--yakin akan kemampuan, dan optimistis mendapatkan project. Karena banyak sekali project-project yang sudah sudah menanti mereka di luar sana.''

motret produk umkm
info gambar

Pada kesempatan sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, pernah menyebut bahwa saat ini dunia sudah berubah, dan masa depan ada di tangan freelancer. Oleh sebab itu, Provinsi Jawa Timur ingin menjadi provinsi pertama yang mempersiapkan talenta mudanya sebagai freelancer di era gyg economy.

“Dulu, definisi mapan adalah kerja di perusahaan besar, tetapi sekarang banyak perusahaan tersebut sudah tidak ada lagi. Maka muncul konsep baru, misalnya ketika saya perlu desainer, programmer, marketer makanya saya mencari freelancer. Maka dari itu, freelance is the future,” kata Emil, Selasa (22/6), seperti dikabarkan Beritajatim.

Emil juga tak memungkiri bahwa salah satu yang dikeluhkan masyarakat saat ini--terutama di masa pandemi--adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Menurutnya, di tengah kenaikan angka pengangguran, menjadi freelance dan pengusaha adalah sebuah solusi.

Mantan Bupati Trenggalek ini juga bilang, bahwa Jawa Timur adalah Provinsi yang cukup besar, sehingga berdampak pada peluangnya yang juga besar. Ia berharap para talenta yang mengikuti beragam program MJC dapat memberikan perubahan, bukan hanya di kota tetapi juga di desa.

“...Mari buktikan bahwa para pejuang transformasi digital millennial yang hadir saat ini bisa memberikan perubahan. Bukan hanya di kota, tapi juga di desa masing-masing,” pungkasnya.

Google Kucurkan Rp155 Miliar untuk UMKM dan Kurangi Pengangguran di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini