Pejuang Waktu, Tanamkan Kesadaran Peduli Sampah dari Diri Sendiri

Pejuang Waktu, Tanamkan Kesadaran Peduli Sampah dari Diri Sendiri
info gambar utama

Pejuang Waktu kembali mengadakan kegiatan lingkungan setelah vakum selama masa PPKM Darurat. Kegiatan ini memang dikhususkan untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga lingkungan kepada para anggota. Hal ini juga beriringan dengan penetapan penurunan PPKM menjadi level 3 beberapa waktu lalu. Karena itulah, komunitas peduli lingkungan asal Bogor, Jawa Barat, ini ingin merayakannya dengan kegiatan yang positif.

"Kita meyemarakkan kegiatan adaptasi kehidupan baru ini dengan hal yang positif. Menjaga lingkungan memperketat protokol kesehatan," terang Sutanandika, founder Pejuang Waktu saat dihubungi oleh GNFI, Rabu (1/9/2021).

Kegiatan yang diikuti oleh 15 peserta ini termasuk dalam kegiatan Cisadane Resik volume 8. Mereka melakukan kegiatan seperti menanam bibit pohon dan juga membersihkan sampah.

"...Kita juga terima bantuan dan dukungan dari dinas kehutanan. Diberi 630 batang pohon untuk kegiatan ini," tambahnya.

Sutan--sapaan akrabnya--mengaku cukup antusias melihat para anggota Pejuang Waktu yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Apalagi memang sudah cukup lama mereka tidak berkumpul.

Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah

Terakhir kali para anggota Pejuang Waktu melakukan kegiatan yaitu pada bulan Juni 2021. Saat itu mereka terlibat dalam aksi membersihkan sampah dan menanam bibit bersama masyarakat sekitar Pelabuhan Ratu yang menamai kegiatannya dengan Jampang Hejo.

Meski demikian, masih banyak anggota lain yang belum bisa terlibat. Pasalnya, masih adanya PJJ membuat banyak anggota yang tidak bisa datang untuk ikut bergabung.

"Sebagian masih PJJ. Jadi tidak bisa pada ikut. Jadi pemberitahuan cuma baru dua hari. Kegiatan yang serius. 2 mingguan lagi," jelasnya.

Pria yang berprofesi sebagai guru ini memang berharap kegiatan Cisadane Resik bisa menginspirasi banyak orang. Tentunya agar setiap kegiatan ini bisa melibatkan banyak orang untuk ikut serta. Hal ini memang menjadi tujuan dari Komunitas Pejuang Waktu agar bisa lebih banyak mengedukasi setiap orang. Khususnya para anggota yang masih aktif terlibat di setiap kegiatan.

"Minimal mengembalikan ingatan bahwa kita punya gerakan bersama. Untuk mengedukasi diri sendiri hal positif dan menularkan untuk orang lain. Bukan hanya perilaku buruk yang bisa ditularkan tapi positif juga lebih bisa menular juga."

Fenomena sampah di gunung

Berapa hari belakangan juga ramai diberitakan soal jumlah 1,6 ton sampah berhasil dibersihkan dari Gunung Rinjani. Sampah-sampah itu didominasi oleh sampah plastik.

Karena itulah, pada 7-9 Juli 2021, agen tour and travel Green Rinjani bersama pembuat film asal Prancis, Benjamin Ortega melakukan kegiatan bersih-bersih sampah di Gunung Rinjani. Kegiatan itu melibatkan 50 porter dan 6 trekking guide yang sigap membawa turun sampah-sampah menumpuk di sana.

Menukil Detik, pemilik Green Rinjani, Ari menyayangkan tindakan para pendaki yang kerap membuang sampah sembarangan di gunung tersebut. Ari juga berharap, dengan kegiatan yang ia dan rekan-rekannya lakukan dapat menginspirasi para pendaki untuk turut menjaga Gunung Rinjani.

Ia menegaskan bahwa Gunung Rinjani bukanlah tempat pembuangan sampah.

"Harapannya pendaki dan semua pihak ikut berpartisipasi, memberikan kontribusi untuk pelestarian alam, dengan penuh kesadaran membawa kembali sampahnya. Karena Rinjani bukanlah tempat pembuangan sampah. Melainkan Rinjani harus kita jaga bersama kelestarian alamnya," tuturnya.

BASF dan Aliansi Global untuk Kurangi Sampah Plastik

Senada dengan Ari, Sutan juga melihat permasalahan sampah gunung yang terjadi berulang. Dirinya menilai minimnya pemantauan dari petugas terhadap pendaki menjadi faktor utama. Selain itu dirinya, juga menyoroti pengelolaan sampah gunung yang memang belum maksimal. Padahal dengan adanya pengelolaan ini, akan bisa mengurangi jumlah sampah yang biasanya sulit diangkut dari gunung.

"Misal mana sampah organik, mana yang plastik, mana yang beling atau yang bisa jadi pupuk kompos. Jadi memang harus komperhensif ya," ucapnya.

"Jadi tidak hanya menghitung sampah, tapi juga dia harus tahu menjualnya ke mana. Ketika dikumpulkan botol air minuman di jual ke mana, plastik kemana, kaleng dari almunium ke mana. Jadi setelah dikumpulkan nanti ada yang angkut enggak? Ada yang milah enggak. Nantinya malah jualnya yang repot," beber Sutan.

Sutan juga berharap para influencer yang sering mendaki gunung untuk ikut berkampanye membersihkan sampah. Baginya tindakan ini bisa memberikan edukasi yang luas bagi para pendaki pemula.

"Saya pikir mereka menjaga lingkungan juga tapi mereka harus tunjukan. Mengedukasi mereka yang belum peduli dengan sampah di alam. Tidak cuma photo sunset. Tapi ditambahkan ini sampah yang kita bawa pulang," harapnya.

Edukasi jaga alam

Sebagai aktivis lingkungan, Sutan mengaku edukasi sangat berperan penting dalam upaya konservasi lingkungan. Edukasi ini penting, katanya, agar membangun kesadaran individu. Apalagi Ia melihat bila kesadaran didorong lewat aturan tidaklah efektif. Pasalnya banyak aturan yang lebih cenderung dilanggar ketimbang dipatuhi.

"Kalau kesadaran yang didorong lewat aturan cenderung dilanggar, apalagi kalau pengawasanya longgar. Kalau kesadarannya ada, liat sampah dikantongin dibawa pulang."

World Cleanup Day: Selamatkan Bumi Kita dari Sampah

Karena itulah, gerakan Pejuang Waktu berinisiatif mengedukasi para generasi muda agar peduli dengan sampah. Ia selalu mengingatkan kepada kadernya untuk menjaga sampah pribadi tidak dibuang ke sembarang tempat.

"Kita kumpulkan lalu diserahkan ke pada tukang pulung kan bagus juga. Beberapa orang sebelum ada Cisadene Resik sudah melakukan itu. Kita hanya menaikan lagi, jadi saat ada orang yang sudah memulai. Melihat ini, kita sudah melalukan," jelas Sutan.

Karena itulah kegiatan Cisadane Resik tidak hanya berfokus kepada para kadernya saja. Tapi juga pada perluasan edukasi kepada masyarakat sekitar.

"Kita mulainya bukan pada masyarakat sekitar tapi perluasan jaringan. Jadi Cisadane Resik set up bank sampah, bikin kegiatan masing-masing, berdiaspora," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini