Mengenal Nasi Cadong, Makanan Para Napi di Penjara

Mengenal Nasi Cadong, Makanan Para Napi di Penjara
info gambar utama

Presenter Rey Utami menjalani masa tahanan 1 tahun 4 bulan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya dan Pondok Bambu. Setelah bebas, Rey menceritakan pengalamannya selama menjalani masa tahanan. Salah satu hal yang dirinya ingat, adalah makanan yang disajikan oleh pihak rutan kepada para tahanan. Makanan itu bernama nasi cadong yang diberikan setiap hari.

“Kalau di Polda kita dikasih ini pagi, sore. Kalau di Pondok Bambu tiga kali, pagi, siang, sore,” ujar Rey yang dikutip dari kanal Youtube Rey Utami & Benua.

Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza

Pada momen itu, Rey mengaku harus tetap memakan lauk yang diberikan agar tidak sakit. Bahkan saking tidak kuatnya dirinya beberapa kali harus menahan tangis.

"Kalau nggak makan mati, gue sering di dalem penjara makan nasi cadong sambil nangis,” kenang Rey.

Senada dengan Rey, artis Vanessa Angel mengaku enggan mengonsumsi lauk tahanan ini. Bahkan dirinya mengungkap kondisinya tidak baik, karena ia pernah menyebut ingin mati saja pada pengacaranya.

"Bahkan kadang kini dia gak makan, mau mati saja! Kata lawyernya.. Ya Tuhan," tulis mantan pacar Vannesa, Bibi, di Instagram.

Apa itu nasi cadong?

Nasi cadong merupakan nasi jatah penjara yang dibagikan pada narapidana. Nasi dengan aneka lauk ini disebut-sebut tak terlalu enak. Lauknya bervariasi meski sederhana, seperti ikan asin, tempe, terong, atau sayur kacang. Biasanya ada rotasi atau penambahan menu pada nasi cadong seperti lele goreng, telur rebus, olahan daging, atau pisang.

Konon porsi nasi cadong terbilang sedikit sehingga tidak terlalu mengenyangkan. Tekstur nasinya juga disebut-sebut pera karena dibuat dari beras bermutu rendah.

Pembagian nasi cadong sebagaimana biasa, pagi hari sekitar pukul 7, siang sekitar pukul 1, dan sore sekitar pukul 5. Pimpinan Tabloid Obor Rakyat, Darmawan Sepriyosa, mengaku hanya mengonsumsinya sesekali saja sejak masuk tahanan.

Dipermalukan di Sel Tahanan, Bisakah Menuntut?

"Tetapi sejak hari pertama pun saya hanya sesekali makan nasi cadong. Seringnya beli ke berbagai kantin yang ada di luar atau pun di dalam blok. Sering tidak harus beli sendiri. Ada saja yang membayari, biasanya para senior di Tipe 3," aku pria yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang ini, menukil Jernih.

Berbeda dengan yang lain, pedangdut Saipul Jamil yang pernah mendekam di penjara mengatakan kalau nasi bungkus ini enak. Ia bahkan lebih memilih nasi cadong ketimbang makanan lain.

"Nasi cadong itu nasi anti kolesterol, nasi yang sehat. Dagingnya bebas kolestrol, dari nilai gizinya diperhatikan. Kalau sakit kan yang repot mereka. Daging sama sayurnya diolah dengan baik. Benar-benar kayak orang yang lagi dirawat di rumah sakit gitu," jelasnya dalam Detikcom.

Menurut mantan suami Dewi Persik itu, nasi cadong bahkan lebih enak dari pada nasi padang. Apalagi, menurutnya makanan itu juga sehat untuk tubuhnya.

Makanan tahanan tak pernah nikmat

Penjara sebagai sistem hukuman pencabutan kemerdekaan untuk para pelaku kriminal sudah ada di Hindia Belanda sejak abad ke-19. Ia tegak di atas pasal 10 Wetboek van Stafrecht voor de Inlanders in Nederlansch Indie atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terbitan 1872

Para narapidana (napi) pada masa itu hidup berjejal dalam sel. Sistem penempatan bersama dalam satu sel seperti itu berdasarkan Gestichten-Reglement (Peraturan Penjara) 1917. Napi akan masuk sel perorangan hanya dalam situasi khusus seperti terserang penyakit menular dan bahaya.

Selama di penjara, kepala para napi dicukur plontos. Mereka memperoleh dua setel pakaian: satu untuk bekerja di luar sel, satu lagi buat beristirahat di sel.

Para napi akan membuka pagi dengan minum teh. “Dan dengan uang sendiri dapat bikin air kopi,” catat Koesnoen dalam Politik Pendjara Nasional, seperti ditulis Historia.

Deretan 6 Makanan Khas Indonesia yang Serupa tapi Tak Sama

Dia juga mengungkap menu makan napi pada masa kolonial. Antara lain beras, daging sapi, ikan asin, telur bebek, kacang kedelai, kacang hijau, kacang tanah, kelapa, sayur segar, terasi, lombok segar, garam, gula kelapa, minyak kelapa, ubi-ubian, dan pisang.

Kelihatannya lezat. Tapi porsinya kecil. Tak imbang dengan kerja para napi.

Kisah makanan para tahanan pun pernah diceritakan Mia Bustam, perempuan pelukis anggota Lekra yang menjadi tahanan politik (tapol) 1965. Awalnya dirinya mendapatkan makanan dua kali setiap hari, jam 10 pagi dan 3 sore.

Menunya pun berupa nasi ditambah oseng-oseng buncis atau kacang panjang, labu siam, dan lauk, berupa tempe atau tahu bacem. Lain waktu, menunya berupa gudeg dengan sambal goreng krecek dan tolo.

Tapi itu tidak lama, setelah itu, setiap hari mereka hanya makan grontol, nasi jagung, dan sayur kubis. Porsi grontolnya pun amat sedikit. Mia dan rekan-rekannya pernah iseng menghitung jumlah butir grontol jatah makan itu, yakni 250 butir jatah untuk tapol perempuan dan 150 butir untuk tapol lelaki.

Saking sedikitnya jumlah makanan, beberapa tapol menderita kelaparan hingga meninggal dunia. Tiap hari jumlahnya makin naik, dari 2, 8, belasan, hingga puluhan orang.

Ketika menginterogasi Mia, Hardjono, dosen yang ikut menginterogasi bercerita bahwa Tim Pemeriksa Daerah (Taperda) bingung bagaimana harus memberi makan tapol yang jumlahnya amat banyak, padahal dana untuk konsumsi hampir tak ada.

“Suruh saja mereka pulang semua, kecuali yang benar-benar terlibat, maka problem akan terpecahkan dengan sendirinya,” kata Mia.

Memperbaiki kualitas makanan tahanan

Seperti dikabarkan Tirto, Direktorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM, lewat akun Twitter-nya pada 20 Juli 2020 lalu, memberikan informasi terkait menu makan siang napi berinisial WBP di LP Atambua, Nusa Tenggara Timur. Menu makan siang itu nasi cadong, yang hanya berisi nasi, sedikit sayur dan daging, serta pisang.

Rangkaian cuitan akun tersebut menggambarkan kondisi overcrowding, yakni situasi kritis di lapas akibat kepadatan narapidana yang berakibat kelebihan kuota. Dampaknya tentu dirasakan terhadap standar minimum pelayanan untuk napi, termasuk makan, minum, hingga tempat tidur.

"Dengan overcrowding yang lebih dari 300 persen, anggaran Kemenkumham dalam hal ini @DITJEN_PAS bekerja extra keras untuk penuhi kebutuhan minimal tersebut," tulis akun tersebut.

Kondisi ini ternyata sudah disorot oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly pada 2017 lalu. Yosonna menyebut, jumlah total tahanan dan narapidana hingga April 2017 sekitar 220 ribu orang di seluruh Indonesia. Namun pemerintah hanya mengalokasikan anggaran untuk makan mereka sekitar Rp15 ribu sehari untuk 3 kali makan.

"APBN-nya itu sekitar Rp15.000 satu hari. Kan diberikan ke pihak ketiga, berarti dia akan cari untung lagi. Katakan dia untung Rp2.000, (sisa) Rp13.000, kalau Rp3.000 diambil dia, (sisa) Rp12.000. Rp4.000 per makan, mau jadi apa?" tanya Yasonna, melansir Detikcom.

Menurut Yasonna, dengan anggaran demikian, kualitas makanan yang bisa disajikan pun tak akan memenuhi standar gizi yang cukup. Karena itu, banyak tahanan/napi yang berharap ada kiriman makanan dari keluarganya.

Pabrik Tempe Skala Besar Bakal Dibangun di Amerika Serikat

"Jadilah dia hanya kepala ikan, tempe, ubi kayu, beras sedikit. Ikan yang kualitas rendah. Sesekali telur ayam. Itulah gizinya tidak terpenuhi, maka sangat berharap sekali keluarga datang bawa makanan," tuturnya

Pemerintah pun sudah melakukan berbagai langkah. Salah satunya menambah anggaran sejumlah Rp1,79 triliun untuk biaya makan tahanan. Penyebab kenaikan biaya makan itu, lantaran jumlah narapidana yang bertambah, bahkan semakin melebihi kapasitas lapas dan rutan.

"2019 menjadi Rp1,79 triliun adalah lompatan besar karena ada penambahan narapidana. Rata-rata Rp20.000 untuk makan setiap narapidana per hari sesuai dengan daerahnya," kata Yasonna yang dikabarkan Kompas.

Memang merujuk data dari Kemenkumham, biaya makan narapidana tahun 2017 sebesar Rp 1,088 triliun, sementara pada 2018 naik menjadi Rp 1,391 triliun.

Selain itu, jumlah penghuni Lapas sepanjang tahun 2018 bertambah 24.197 orang sehingga totalnya menjadi 256.273 orang. Padahal, kapasitas hunian hanya bisa memuat 126.164 orang.

"Jumlah napi semakin banyak, makanya tiap tahun biaya makan sering terlampaui dari anggaran yang telah ditetapkan pemerintah."

Ketidakadilan makanan para tahanan?

Memang ada kecenderungan masyarakat kita untuk menghukum si tertuduh tanpa ampun. Ketika ada masalah yang terjadi, apapun sifat dan jenis dari kasusnya, warga sepertinya tidak puas kalau orang tersebut belum sampai dijebloskan ke dalam tahanan dan dihukum seberat-beratnya.

Padahal meski status mereka adalah napi, tentu perlakuan manusiawi tetap diperhatikan. "Seperti perintah Pancasila, terutama sila ke dua, yakni dalam rangka merawat kemanusiaan," imbuh Pendiri Rumah Pancasila (Rupan) dan Klinik Hukum di Semarang, Yosep Parera, yang dikutip dari Tagar.

Yosep menyoroti besaran anggaran negara untuk napi di lapas maupun rutan. Dana makan kisaran Rp20 ribu per napi tiap hari dianggapnya tidak manusiawi.

"Kami sudah survei di sejumlah lapas di Jawa Tengah, semuanya sama, sekitar Rp20 ribu per hari untuk satu napi. Sehari makan tiga kali cuma Rp20 ribu itu dapat apa? Ini tidak memanusiakan manusia," kata Yosep pada 2019 lalu.

Beberapa Jenis Bakso yang Cocok Menemani Makan Siang

Yosep menyebut, jatah makan Rp20 ribu tersebut hanya berlaku untuk napi yang mendekam di lapas dan rutan. Tahanan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diberikan jatah makan Rp45 ribu per hari. Dan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat jatah lebih besar, yakni Rp75 ribu per hari per orang.

"Kenapa dibedakan? Apa yang membuat beda? Seharusnya, semua sama di mata hukum," tegasnya.

Menurutnya, warga binaan seharusnya bisa diperdayakan untuk kerja sosial. Seperti menjadi pembersih jalan. Dari aktivitas itu mereka akan mendapat upah yang bisa digunakan untuk menambah uang makan selama di penjara.

"Termasuk untuk memberi nafkah keluarga mereka. Keluarga mereka kan juga perlu uang untuk mencukupi kebutuhannya," kata dia.

Senada dengan Yosep, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan pentingnya napi harus disiapkan dan dilatih menjadi manusia produktif.

"Di Lapas Kedungpane buktinya, mereka bisa jadi produktif, mereka bekerja, lapasnya kreatif kerja sama dengan perusahaan dan hasilnya malah bisa diekspor. Itu bisa memenuhi kebutuhan dan ada pendapatan," jelasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini