Menilik Sumber Daya Perikanan Tawes di Waduk Gajah Mungkur

Menilik Sumber Daya Perikanan Tawes di Waduk Gajah Mungkur
info gambar utama
Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Sumber daya perikanan merupakan suatu potensi perikanan yang berasal dari suatu perairan, baik pada perairan lautan atau daratan. Sumber daya perikanan ini dapat menjadi suatu potensi, yang dapat dimanfaatkan bagi manusia untuk dikonsumi atau diolah menjadi bahan suatu produk.

Wilayah pengelolaan perikanan perairan darat di Indonesia terdiri dari 14 wilayah, yang didasarkan pada karakteristik habitat dan kondisi ekosistem perairan. Salah satu wilayah pengelolaan perikanan perairan darat di Indonesia adalah WPPNRI-PD 434, mencakupi perairan darat di Pulau Jawa bagian tengah-utara, Kepulauan Karimun Jawa, dan Pulau Bawean.

Di wilayah pengelolaan perikanan ini meliputi ekosistem perairan, seperti sungai, waduk, rawa, serta genangan air lainnya. Salah satu ekosistem perairan yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup melimpah di wilayah ini, yaitu Waduk Gajah Mungkur (WGM).

Waduk Gajah Mungkur merupakan waduk yang terbentuk dari bendungan Sungai Bengawan Solo, serta beberapa anakan sungai lainnya. Waduk yang memiliki luas sekitar 8.800 hektare ini memiliki enam inlet dan satu outlet, yaitu Sungai Bengawan Solo.

Adanya pembendungan tersebut, memberikan dampak yang signifikan terhadap keanekaragaman populasi ikan yang ada di wilayah tersebut. Hal tersebut umumnya disebabkan karena faktor abiotik seperti perbedaan arus air..

Faktor abiotik yang diukur berdasarkan penelitian menunjukan arus sungai yang berkisar antara 0,063-0,096 meter per detik, suhu perairan yang berkisar antara 26,9-33 derajat celcius, oksigen terlarut berkisar antara 4,36-6.7 mg per liter, turbitas berkisar antara 12,4-48,3 NTU, serta derajat keasaman yang berkisar antara 6,82-8,22.

Lima Kucing Hutan Eksotis Sumatra yang Terancam Punah

Tekstur sedimen pada WGM ini pada umumnya berupa lumpur. Kecepatan arus yang tinggi mempengaruhi keanekaragaman ikan yang paling banyak. Hal tersebut juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap habitat lingkungan perairan yang ditemukan, yaitu lebih beragam.

Ketersediaan vegetasi tumbuhan yang berada di sekitar lokasi WGM ini memiliki kondisi yangn berbeda antara daerah inlet dan outlet. Pada daerah masukan ditemukan banyak dan beragam vegetasi tumbuhan, sementara di daerah luaran tidak ditemukan vegetasi tumbuhan. Vegetasi tumbuhan tersebut mempengaruhi keragaman dan kelimpahan perikanan, karena merupakan salah satu sumber makanan ikan yang dimanfaatkan secara alami.

Adanya populasi ikan tawes di Waduk Gajah Mungkur

Ikan tawes (Barbonymus gonionotus) yang berasal dari wilayah perairan Tasikmalaya | Foto: Wibowo Djatmiko
info gambar

Sebagai lokasi masukan yang berasal dari berbagai sungai, WGM memiliki karakteristik yang khas dan dapat dibuktikan dengan cukup tingginya keanekaragaman perikanan air tawar. Ikan yang ditemukan di waduk ini antara lain ikan nila, jambal siam, tawes, saga, tawes, lukas, nilem, betutu, gabus, karper lumut, keprek abang, dan wader.

Hal tersebut diperkuat dengan penelitian dan ditemukan setidaknya 13 jenis ikan yang terdiri dari lima famili, yaitu Cyprinidae, Eleotrididae, Cichlidae, Channidae, dan Bagridae. Salah satu sumber daya perikanan yang cukup berlimpah di WGM ini adalah ikan tawes (Barbonymus gonionotus).

Ikan tawes yang ditemukan di lokasi ini memiliki populasi mencapai 10 sampai 20 persen dari berbagai ikan yang ditemukan. Tingginya kelimpahan relatif ikan tawes ini disebabkan karena adaptasi yang dapat dilakukan ikan tawes sangat baik.

Faktor abiotik berupa perbedaan kuat arus perairan, mempengaruhi keragaman ikan tawes. Kecepatan arus yang relatif tinggi di Sungi Bengawan Solo, diduga memiliki pengaruh terhadap morfologi ikan ini. Ada pula penelitian yang menunjukan kondisi morfologi ikan tawes yang ditemukan di beberapa lokasi perairan darat di Provinsi Jawa Tengah, memiliki perbedaan yang cukup bervariasi.

Legenda Pesut Mahakam, Lumba-lumba Endemik yang Dianggap Jelmaan Manusia

Ikan tawes yang ditemukan di Waduk Gajah Mungkur memiliki karakter morfologi, mirip dengan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Dengkeng daripada Sungai Opak. Perbedaan morofologi tersebut ditemukan pada bagian sirip dorsal, panjang moncong, dan tinggi batang ekor. Hal tersebut diduga karena kuat arus yang berbeda. Pada Sungai Opak memiliki kuat arus yang rendah, sementara pada Sungai Bengawan Solo memiliki suat arus yang tinggi.

Ikan tawes terancam predator dan sampah plastik

Ikan tawes | Foto: Junalis Mancing
info gambar

Ikan tawes merupakan salah satu ikan endemik yang berasal dari Sungai Bengawan Solo, yang memiliki warna keperak-perakan dan memiliki sifat pemakan tumbuhan. Meskipun populasinya saat ini dapat dikategorikan sangat tinggi, tetapi keberadaannya tetap perlu dijaga.

Keberadaan predator yang yang terdapat di ekosistem perairan yang menjadi habitat ikan tawes, menjadi salah satu ancaman yang perlu ditangani. Salah satu predator yang dapat memangsa ikan tawes ini adalah ikan betutu.

Ikan betutu ditemukan juga di WGM dapat memangsa ikan tawes dengan cepat. Ikan betutu dapat menyerang mangsanya dalam waktu enam menit pada ukuran lebih dari 15 sentimeter, dengan cara memakan seluruh bagian tubuh ikan tawes hingga mati.

Ikan betutu yang merupakan salah satu predator mematikan bagi ikan tawes, perlu disikapi dengan bijak agar populasi ikan tawes dapat terjaga. Salah satu caranya dengan melakukan penebaran benih ikan tawes secara berkala.

Berenang Bersama Pari Manta dan Melepas Penyu di Pulau Sangalaki

Ancaman lain yang dapat mengganggu kehidupan ikan tawes di WGM, yaitu adanya sampah plastik yang mencemari lingkungan perairan sungai Bengawan Solo. Sampah plastik tersebut umumnya berasal dari limbah rumah tangga di sekitar daerah aliran sungai Bengawan Solo.

Sampah plastik dapat menurunkan kelimpahan ikan, karena pencemaran dari kandungan plastik yang berbahaya bagi lingkungan perairan. Kondisi tersebut menyebabkan ikan dapat langsung mati dan sulit untuk beradaptasi.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan sampah plastik, terutama pada masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Bengawan Solo. Terdapat tiga langkah pengelolaan sampah plastik yang dapat diterapkan, yaitu pembentukan kelompok kerja sungai penanganan populasi sampah plastik, mengadakan sosialisasi padat karya mengenai kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai, dan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat agar membuang sampah pada tempat yang sesuai.*

Referensi: Ayyubi H, Budiharjo A, Sugiyarto. 2018. Karakteristik morfologis populasi ikan tawes Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1849) dari lokasi perairan berbeda di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Iktiologi Indonesia.

Fatma BIA, Triwahyudi P. 2020. Pelaksanaan pengelolaan sampah plastik di Sungai Bengawan Solo oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta. Jurnal Bagiian Hukum Administrasi Negara. 1 (1): 25-30.

Kambey RP, Mantiri ROSE, Lasut MT. 2019. Predatorisme dan kanibalisme ikan betutu (Oxyeleotris marmorata, Bleeker) di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 7 (1): 49-55.

Sriwidodo DWE, Budiharjo A, Sugiyarto. 2013. Keanekaragaman jenis ikan di kawasan inlet dan outlet Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Bioteknologi. 10 (2): 43-50.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

JZ
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini