Musamus, Karya Alam yang Jadi Filosofi Hidup Masyarakat Merauke

Musamus, Karya Alam yang Jadi Filosofi Hidup Masyarakat Merauke
info gambar utama

Apa yang terlintas di pikiran begitu mendengar sarang semut atau serangga? Bagi kebanyakan orang, sarang berukuran kecil yang berada di bawah tanah atau tersembunyi pada bagian tertentu di alam seperti pohon jadi gambaran umum yang terbayang mengenai sarang semut.

Kenyataannya, hal tersebut berbeda dengan apa yang akan ditemui di wilayah Indonesia bagian timur, tepatnya di padang savana Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua.

Jika berkunjung ke wilayah ini, masyarakat luar daerah yang belum terbiasa akan dibuat takjub dengan kumpulan dari gundukan tanah menyerupai batu, yang jika dilihat dari jauh bentuknya menyerupai kerucut dan menjulang tinggi.

Namun jika dilihat dari dekat, bagian dalam gundukan tersebut ternyata memiliki rongga yang menjadi sarang dari koloni serangga sejenis rayap bernama Macrotermes sp. Oleh masyarakat sekitar, gundukan ini disebut Musamus.

Indonesia, Negeri Surga Sarang Burung Walet

Sarang rayap yang dibuat dalam waktu satu hingga dua tahun

Musamus di Merauke
info gambar

Walau menurut bahasa masyarakat sekitar musamus memiliki arti sebagai rumah semut, namun sarang raksasa yang bisa memiliki ukuran mencapai lima meter ini sebenarnya tidak dibuat oleh semut.

Pembuatnya adalah hewan sejenis rayap yang selama ini banyak dikenal sebagai musuh bagi manusia karena dapat merusak berbagai perkakas rumah terutama yang terbuat dari material kayu. Berbeda dengan jenis tersebut, rayap pembuat sarang raksasa ini justru hidup jauh dari pemukiman manusia.

Melansir Indonesia Kaya, rayap jenis ini terkenal mandiri dan mampu membangun rumah mereka sendiri tanpa bermaksud merusak pemukiman manusia. Dengan anatomi tubuh yang kecil namun berkat cara hidup berkoloni, rayap-rayap tersebut mampu membuat rumah yang kokoh nan kuat untuk bertahan di berbagai cuaca ekstrem sekalipun.

Diketahui bahwa musamus terbentuk dari bahan dasar rumput kering, tanah, dan air liur rayap pembuatnya. Dengan bentuk yang menjulang tinggi ke atas permukaan tanah, tekstur permukaan sarang ini berlekuk-lekuk dan berwarna coklat kemerahan seperti warna tanah tempatnya berada.

Sementara itu, rangkaian lorong atau rongga yang berada di bagian dalamnya berfungsi sebagai tempat tinggal rayap sekaligus ventilasi yang menjaga kestabilan suhu agar tetap hangat. Keberadaan Lorong tersebut yang diyakini membuat musamus terlindung dari perubahan suhu yang ekstrim, bahkan kebakaran hutan sekali pun.

Walau di Indonesia hanya bisa dijumpai di Kabupaten Merauke, sebenarnya musamus juga muncul di Australia dan savana Afrika yang memiliki iklim panas serupa.

Disebutkan bahwa sebuah musamus biasanya bisa terbentuk hingga menjulang tinggi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun, pembuatannya pun umum dilakukan oleh koloni rayap pada waktu malam hari saat di mana hampir sebagian besar makhluk hidup beristirahat total, tanpa sepengetahuan manusia atau makhluk hidup lain di sekitarnya.

Menariknya, hal tersebut yang ternyata membuat musamus dijadikan sebagai filosofi hidup masyarakat Merauke.

Suku Marind Jaga Budaya Merauke dalam Tari Gatzi dan Iringan Tifa

Lambang Kabupaten Merauke yang menginspirasi

“Jangan tanya kerjaku, tapi lihat karyaku”

Kalimat tersebut merupakan ungkapan yang populer dan banyak dikenal oleh masyarakat Merauke. Konon, kalimat tersebut dicetuskan oleh seorang mantan Bupati Merauke yang hingga saat ini tidak diketahui namanya.

Namun yang jelas, sosok tersebut berharap agar masyarakat Merauke tidak perlu banyak bicara dalam bekerja dan tidak perlu menunjukan apa yang mereka kerjakan, namun orang lain dapat melihat hasil karyanya secara nyata, persis seperti apa yang dilakukan koloni rayap saat membuat sarang musamus yang kokoh dan kuat.

Saking istimewanya, musamus bahkan menjadi salah satu simbol pada lambang Kabupaten Merauke, simbol musamus diketahui menggambarkan kerja sama dan keharmonisan dalam mewujudkan cita-cita luhur antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat serta empat Suku Marind yang merupakan penduduk asli tanah Merauke.

Selain menjadi lambang wilayah, musamus juga dipilih menjadi nama sebuah perguruan tinggi yaitu Universitas Musamus yang awalnya berdiri sebagai Sekolah Tinggi Teknologi Merauke (STTM) pada tahun 2001.

Sampai di tahun 2006, STTM tersebut berubah secara resmi menjadi perguruan tinggi dengan nama Universitas Musamus Merauke (UNIMMER).

Masih sama seperti filosofi yang terkandung dalam makna musamus itu sendiri, universitas ini juga memegang teguh prinsip bekerja tanpa memperlihatkan prosesnya, melainkan hanya menunjukkkan hasil karya yang nyata.

Hingga saat ini, filosofi dan makna yang dimiliki musamus bahkan telah banyak dijadikan inspirasi tidak hanya bagi masyarakat Merauke sendiri, melainkan juga pihak lainnya di tanah air.

“Jangan tanya kerjaku, lihatlah karyaku. Menjulang tinggi yang dikerjakan dari dalam secara diam-diam dan kompak tanpa merusak lingkungan hidup.” demikian filosofi yang juga menginspirasi Menteri PUPR, Mochamad Basoeki Hadimoeljono.

Selain Markas ''Avengers'', Ini Destinasi Menarik Lainnya di Merauke

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini