Lebih Dekat dengan PLTP Kamojang, Pembangkit Listrik dan Wisata Panas Bumi Tertua di Indonesia

Lebih Dekat dengan PLTP Kamojang, Pembangkit Listrik dan Wisata Panas Bumi Tertua di Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Indonesia memiliki wilayah yang terletak pada lajur sabuk gunung api aktif, atau biasa dikenal sebagai ring of fire. Hal ini memiliki pengaruh bagi local resources yang dimiliki bangsa ini, khususnya panas bumi (geothermal).

Potensi bumi yang dimiliki Indonesia tersebar sepanjang Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Busur Banda, Sulawesi Utara, hingga Halmahera. Potensi yang tinggi ini diketahui tersebar di sekitar 276 titik dengan total kapasitas yang diperkirakan sebesar 29.038 GW. Sayangnya, dari total panasbumi tersebut, hingga saat ini baru dimanfaatkan sebesar 11.494 MW atau sekitar 5 persen dari total potensi.

Sebagai usaha untuk memanfaatkan potensi panas bumi, Indonesia telah memiliki beberapa Unit Pembangkit EBT (energi baru terbarukan). Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Power Generation O&M Services Unit (POMU) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

RUPTL Resmi Dirilis, Porsi Pembangkit EBT Diperbesar Demi Dukung Transisi Energi Hijau

Dieksplorasi sejak zaman kolonial Belanda

PLTP Kamojang | Ema Fitriyani/Kumparan
info gambar

Sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama dan paling tua di Indonesia, PLTP Kamojang memiliki sejarah yang cukup panjang. Di wilayah PLTP Kamojang, terdapat Kawah Kamojah (KMJ)-3 atau disebut juga Kawah Kereta Api. Ialah sumur panas bumi pertama di Indonesia yang dibor oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1926.

Pertama kali dicium potensinya oleh Pemerintah Belanda melalui pemboran dangkal pada 5 sumur. Proyek ini sempat terhenti setelah tahun 1928, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada tahun 1978 dengan menjalin kolaborasi bersama Pemerintah New Zealand. Proyek ini dijalankan kembali dengan melakukan beberapa pemboran tambahan. Akhirnya, PLTP Kamojang resmi beroperasi pada tahun 1982.

Hingga saat ini, sumur-sumur tersebut masih mengeluarkan uap panas bumi, kendati hanya dibor hingga kedalaman 60 meter. Hal tersebut mengindikasikan bahwa panas bumi merupakan energi yang terbarukan dan berkelanjutan (sustainable energy).

Selain menjadi sumber listrik dan energi terbarukan, Kamojang juga dimanfaatkan sebagai lokasi wisata bernama Kawah Kamojang. Sebagai salah satu objek wisata Garut yang cukup terkenal selain Gunung Papandayan dan Curug Orok, PLTP Kamojang menyediakan beberapa kawah yang dapat dikunjungi oleh pelancong. Kawah ini terletak di daerah Samarang, garut, jawa barat yang berada di ketinggian 1.730 M DPL.

Melihat Kolaborasi Jakarta dalam Koferensi Tata Kota Cerdas Berkelanjutan 2021

Potensi dan kapasitas produksi PLTP Kamojang

Dilansir dari laman ESDM, pada tahun 1978 Kamojang telah sukses beroperasi dan menjadi PLTP pertama di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 250 KW. Tak lupa, dilakukan pula peresmian pengoperasian oleh Menteri Pertambangan dan Energi, yang pada waktu itu dijabat oleh Profesor Soebroto.

PLTP Kamojang pertama kali beroperasi dengan 1 Unit Pembangkit dan terus ditingkatkan hingga menjadi 7 Unit Pembangkit dengan total kapasitas terpasang 375 MW. PLTP Kamojang memiliki 3 unit pembangkit berkapasitas sebesar 140 MW, PLTP Darajat dengan 1 unit sebesar 55 MW, dan PLTP Gunung Salak dengan 3 unit pembangkit sebesar 180 MW.

Penghargaan dan program tanggung jawab sosial

PLTP Kamojang | Media Indonesia - Despian Nurhidayat
info gambar

Melalui Kompas, Head of Corporate Communication PT Indonesia Power, Rahmi Sukma mengatakan bahwa PLTP Kamojang berkomitmen untuk tidak mengesampingkan aspek pencapaian kinerjanya. Terbukti hingga Juli 2019, Kamojang POMU telah menunjukan kinerja baik dengan berhasil mendapatkan pencapaian EAF (Equivalent Availability Factor) dan EFOR (Equivalent Force Outage Rate) sampai dengan Juli 2019 berada di angka 96,44 dan 0,68.

Beberapa penghargaan dalam bidang lingkungan maupun Corporate Social Responsibility (CSR) juga diraih oleh Kamojang POMU. Misalnya Penghargaan Proper Emas yang diterima dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia dan penghargaan Mitra Pembangunan Jawa Barat Program CSR/PKBL dari Gubernur Jawa Barat.

Rahmi juga menyebutkan bahwa sistem tata kelola yang baik dengan mengedepankan aspek keselamatan dan lingkungan, salah satu kunci prestasi PLTP Kamojang.

Indonesia Akan Memiliki Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia Berlokasi di Bogor

PLTP Kamojang juga memiliki berbagai program CSR, misalnya budidaya tanaman kopi pelag yang ditanam di kaki Gunung Papandayan. Program ini dilakukan oleh mitra binaan, fungsinya sebagai tanaman penyangga longsor di daerah pegunungan dan sebagai area tangkapan air.

Program CSR lainnya adalah pemberdayaan pada nelayan ikan di Situ Bagendit yang merupakan area obyek wisata di wilayah Garut, dan penanaman 1000 pohon hingga 2021 untuk mengurangi emisi karbondioksida.

Keberhasilan PLTP Kamojang menjadi bukti bahwa potensi sumber energi panas bumi di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi utama, khususnya untuk menggantikan sumber energi fosil. Hal ini juga menjadi langkah untuk beralih ke energi hijau yang lebih ramah lingkungan demi kemandirian energi Indonesia di masa mendatang.*

Referensi: ESDM | Media Indonesia | Kompas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini