Kaleidoskop 2021: Perkembangan Sains dan Teknologi yang Bangkitkan Kondisi Nasional

Kaleidoskop 2021: Perkembangan Sains dan Teknologi yang Bangkitkan Kondisi Nasional
info gambar utama

Tahun 2021 mungkin masih belum dan bukan menjadi tahun terbaik bagi Indonesia, terutama jika menilik pada riwayat gelombang kedua pandemi yang kembali terjadi di pertengahan tahun dan menelan banyak korban jiwa.

Namun harus diakui, bahwa setidaknya perkembangan yang di saat bersamaan memunculkan tonggak sejarah baru untuk kebangkitan dan kemajuan negeri ini datang dari bidang Ilmu Pengetahun dan Teknologi (IPTEK), yang tidak hanya mampu membangkitkan kondisi nasional di tahun 2021 namun juga memberikan dampak positif berkelanjutan untuk tahun-tahun selanjutnya di masa yang akan datang.

Bukan isapan jempol belaka, kemajuan yang memberikan dampak kebangkitan tersebut sudah ditandai bahkan sejak akhir tahun 2020 lalu, dengan adanya kabar positif melalui upaya vaksinasi yang sudah mulai masuk ke Indonesia, dan pada akhirnya terealisasi di awal tahun 2021 serta menandai pemulihan skala nasional yang terjadi secara bertahap di tanah air.

Seperti apa kabar baik yang terjadi di Indonesia dari segi IPTEK dan diklaim berhasil membangkitkan kondisi nasional dari jerat pandemi? Berikut GNFI rangkum dalam salah satu rangkaian catatan Kaleidoskop 2021.

Kaleidoskop 2021: Cerita Tentang Manusia dan Alam Sepanjang 2021

Vaksinasi perdana awali pemulihan nasional pasca pandemi

Ilustrasi vaksinasi di Indonesia | Toto Santiko Budi/Shutterstock
info gambar

Bagaikan memberi harapan dan jalan keluar dari permasalahan Covid-19 yang terjadi tidak hanya di Indonesia melainkan juga seluruh dunia, kabar baik di bidang sains terjadi tepat di awal tahun 2021, yaitu pada tanggal 13 Januari saat vaksinasi perdana dilakukan kepada Presiden Joko Widodo.

Menggunakan vaksin Sinovac yang kala itu memang baru pertama kali diputuskan oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM aman untuk dipakai, penyuntikan kepada orang pertama di Indonesia tersebut seakan menjadi bukti bahwa harapan akan kebangkitan dari kepungan pandemi nyata adanya.

Memang tidak langsung terjadi secara masif, butuh waktu untuk membuat upaya vaksinasi skala besar dapat diterima secara merata oleh seluruh masyarakat di penjuru Indonesia bahkan hingga saat ini.

Lain itu, hal tersebut juga berjalan bersamaan dengan semakin banyaknya jenis vaksin Covid-19 yang masuk dan dapat digunakan di Indonesia sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, bahkan untuk penggunaan bagi kalangan anak-anak.

Melansir data dari covid19.go.id, tercatat bahwa per tanggal 5 Desember 2021 sudah ada sebanyak 142.432.347 orang yang mendapatkan vaksinasi dosis pertama, dan 99.009.581 orang yang mendapatkan vaksinasi dosis kedua. Tentu, angka tersebut akan terus bertambah di tahun selanjutnya mengingat target dari vaksinasi nasional sendiri berada di angka 208.265.720.

Sementara itu jika menilik ragam jenis vaksin yang digunakan di Indonesia, sampai saat ini diketahui ada beberapa jenis vaksin yang banyak diandalkan selain Sinovac di mana terdiri dari Pfizer, AstraZeneca, Moderna, Janssen, Sinopharm, dan beberapa vaksin lainnya.

Upaya gencar yang dimiliki dalam target vaksinasi nasional ini rupanya membuahkan hasil, setidaknya Indonesia dinilai sebagai negara yang berhasil menangani Covid-19 lewat dua pencapaian.

Pencapaian yang dimaksud yaitu sebagai negara di peringkat teratas se-Asia Tenggara dan peringkat ke-54 dunia dalam pemulihan Covid-19 menurut laporan Covid Recovery Index dari Nikkei Asia, dan Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang masuk daftar negara dengan level 1 risiko penularan Covid-19 paling rendah menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC.

Tentu, pencapaian ini sejatinya tidak serta merta membuat Indonesia menjadi lupa diri, nyatanya semua pihak masih memiliki tugas besar dalam persiapan menghadapi kemungkinan gelombang tiga terutama jika bicara mengenai adanya Covid-19 varian baru yakni omicron yang belakangan ramai diberitakan.

Sementara itu di sisi lain jika membahas mengenai vaksinasi, kita mungkin memang masih mengandalkan vaksin yang berasal dan dibuat dari pihak luar, namun nyatanya ada beberapa insan tanah air yang juga ikut terlibat dalam pembuatan vaksin yang selama ini tidak hanya dipakai di Indonesia namun juga di berbagai negara lainnya.

Adalah Indra Rudiansyah dan Carina Citra Dewi Joe, dua ilmuwan muda asal Indonesia yang terlibat dalam pembuatan vaksin AstraZeneca di Oxford University, Inggris bersama dengan profesor vaksinologi asal universitas ternama tersebut yakni Sarah Gilbert.

Memahami Seluk-beluk Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Pertumbuhan masif startup

GoTo
info gambar

Di saat yang bersamaan seiring dengan upaya vaksinasi yang terus gencar dilakukan, satu industri di tanah air yang nyatanya menunjukkan geliat positif dan perkembangan pesat datang dari bidang perusahaan rintisan atau lebih dikenal dengan istilah startup.

Penanda dari tumbuhnya industri startup di tanah air terjadi setelah munculnya gebrakan besar dari meleburnya dua startup paling bernilai di Indonesia yaitu Gojek dan Tokopedia, dan membentuk satu entitas bisnis besar baru bernama GoTo.

Bukan lagi menjadi unicorn, penggabungan tersebut menjadikan Indonesia resmi memiliki startup yang berada pada status decacorn untuk pertama kalinya. Bahkan per bulan Mei lalu, data yang dimiliki CB Insights menunjukkan bahwa valuasi GoTo tercatat berada di peringkat ke-11 global dengan valuasi sebesar 18 miliar dolar AS.

Ibarat menjadi penarik bagi pancingan performa startup di tanah air, yang di saat bersamaan juga mengundang berbagai investor dari pihak luar gencar menggelontorkan dananya untuk menyokong sederet perusahaan serupa yang ada di Indonesia, semenjak langkah korporasi GoTo mencuri perhatian dunia bisnis internasional terhitung di tahun 2021 ini juga cukup banyak bermunculan startup yang naik level dari centaur menjadi unicorn.

Kenaikan level datang dari perusahaan ekspedisi pertama yang menyabet gelar tersebut yakni J&T dengan capaian valuasi di angka 7,8 miliar dolar AS pada bulan April. Tiga bulan setelahnya atau dua bulan setelah terbentuknya GoTo, pada bulan Juli catatan startup yang juga naik level ke status unicorn diraih oleh OnlinePajak dengan capaian valuasi senilai 1,7 miliar dolar AS.

Belum berhenti sampai di situ, hanya berselang satu bulan tepatnya di bulan Agustus, Blibli menambah daftar platform eCommerce yang masuk ke daftar startup unicorn setelah berhasil melampaui capaian valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. Setelahnya, Xendit sebagai startup yang bergerak di bidang fintech juga berhasil meraih gelar tersebut setelah mendapat pendanaan seri C di bulan September.

Di lain sisi, pertumbuhan startup menjadi unicorn yang gencar terjadi rupanya memunculkan pandangan mengenai kekecewaan sejumlah pihak yang menyayangkan bahwa kemajuan tersebut terjadi karena masifnya investasi dari pihak asing, dan dinilai minim investasi serta campur tangan dari pihak dalam negeri sendiri.

Merespons fenomena tersebut dan tidak ingin kesalahan di masa lampau terulang, pemerintah akhirnya menginisiasi adanya program Merah Putih Fund, yaitu program pendanaan khusus bagi startup Indonesia yang aspek secara keseluruhannya murni melibatkan pihak Indonesia.

"Satu founder-nya harus orang Indonesia, kedua operasional perusahaannya di Indonesia, ketiga go-public-nya mesti di Indonesia, bukan go-public di Singapura," ujar Erick Thohir, selaku Menteri BUMN.

"Kita tidak anti asing, tapi kita juga tidak mau market kita dipakai pertumbuhan negara lain. Kita harus pastikan market kita untuk pertumbuhan negara kita," pungkasnya.

Jajaran Startup Indonesia yang Masuk Daftar Forbes Asia 100 To Watch

Komersialisasi 5G, era baru IoT dan otomatisasi industri

Ilustrasi 5G Indonesia | Adansijav Official/Shuttestock
info gambar

Perkembangan sekaligus kemajuan lain yang tak kalah mencuri perhatian di Indonesia adalah mengenai terealisasinya kehadiran konektivitas 5G. Setelah selama beberapa tahun menjadi angan-angan dan impian yang masih dipersiapkan secara matang, akhirnya komersialisasi dari generasi baru konektivitas internet tersebut terealisasi untuk pertama kalinya pada bulan Mei 2021.

Tiga perusahaan operator seluler yang diketahui sudah menghadirkan konektivitas 5G di tanah air hingga saat ini yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, yang secara beruntun menghadirkan kemajuan teknologi tersebut pada bulan Mei, Juni, dan Agustus lalu.

Sampai saat ini, diketahui memang baru ada sebanyak sembilan kota di tanah air yang sudah dapat menikmati konektivitas 5G secara terbatas, adapun sembilan kota tersebut meliputi wilayah Jabodetabek, Bandung, Batam, Balikpapan, Makassar, Surakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan.

Sementara itu di saat yang bersamaan, hadirnya 5G di era yang baru ini nyatanya tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan konektivitas internet bagi perorangan, keberadaan 5G diperoyeksikan akan menjadi penunjang bagi kebutuhan dalam skala besar mulai dari adanya wujud nyata Internet of Things (IoT) hingga penyokong otomatisasi dalam dunia industri dan manufaktur.

Sedikit kembali mengulik pemahaman mengenai IoT, istilah satu ini didefinisikan sebagai kemampuan dari koneksi internet yang dapat membuat berbagai objek (diharapkan tidak hanya perangkat teknologi) dapat mentransmisikan atau mengirim data secara nirkabel sehingga terhubung satu sama lain dan menciptakan integrasi yang dapat semakin menunjang mobilitas pengguna dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari hal tersebut, hadirnya konektivitas 5G diyakini dapat menjadi penunjang guna mentransmisikan data dengan berbagai perangkat secara cepat dan tepat, dan merealisasikan berbagai wujud perangkat dan ekosistem IoT mulai dari skala kecil layaknya smart home, big data, cloud computing, dan virtual assistant, hingga skala besar layaknya smart city dan skala industri.

Bicara mengenai skala industri, satu operator seluler yang diketahui sudah menjajal peluang di bidang tersebut adalah Smartfren. Meski belum menjadi salah satu operator yang menghadirkan 5G secara komersial untuk pengguna individu, operator satu ini rupanya lebih memfokuskan target penggunaan konektivitas 5G untuk kebutuhan industri.

Hal tersebut dibuktikan dengan upaya mereka yang pada tahun 2021 ini diketahui sedang menjajal konektivitas 5G dalam pita frekuensi yang jauh lebih tinggi yakni berbasis mmWave.

Secara sederhana, jika 5G yang ditawarkan oleh tiga operator sebelumnya dapat memberikan kecepatan internet di kisaran 671 Mbps, maka Smartfren yang menguji coba 5G pada pita frekuensi lebih tinggi dapat menghadirkan kecepatan internet hingga 1,8 Gbps, sebuah koneksi yang akan sangat memberikan sistem dan teknologi baru dalam otomatisasi industri.

Selain Perluas Jangkauan, 5G Diproyeksikan Masuki Sektor Industri di Tahun 2022

Industri dan pangsa pasar ponsel di tanah air

Ilustrasi penjualan ponsel | bodnar.photo/Shutterstock
info gambar

Masih berhubungan dengan hadirnya konektivitas 5G secara komersial yang otomatis melibatkan penggunaan perangkat ponsel pintar bagi masyarakat sebagai pengguna individu, upaya untuk meningkatkan performa industri dalam negeri rupanya juga dilakukan dalam bentuk peningkatan standar Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) perangkat ponsel 5G yang beredar dalam negeri.

Merefleksikan bahwa dalam beberapa waktu yang akan datang perangkat tersebut akan semakin masif digunakan di Indonesia, pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) per tanggal 21 Oktober 2021 pada akhirnya menetapkan penaikan TKDN minimal untuk perangkat 4G dan 5G yang akan digunakan di Indonesia menjadi 35 persen, dari yang sebelumnya berada di angka 30 persen.

“Ketentuan TKDN sebesar 35 persen ini akan diberlakukan enam bulan sejak ditetapkannya peraturan menteri ini, dan untuk itu agar para vendor perangkat telekomunikasi dapat segera mulai menyesuaikan,” ujar Johnny G. Plate, selaku Menteri Kominfo dalam konferensi pers kala itu.

Penetapan dalam meningkatkan TKDN tentu terjadi bukan tanpa alasan, hal tersebut sebagai bentuk upaya agar industri dalam negeri dapat lebih terlibat dalam pengembangan dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi berbasis teknologi 4G dan 5G, terutama jika melihat potensi pasar ponsel pintar di tanah air yang menguntungkan para vendor.

Karena jika bicara mengenai pasar ponsel pintar atau smartphone, harus diakui bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara tempat di mana persaingan yang cukup sengit dalam hal pangsa pasar antara sejumlah vendor smartphone terutama berbasis Android terjadi, apa lagi kalau bukan antara Samsung, Xiaomi, Oppo, Realme, dan Vivo.

Tehitung sejak awal tahun 2021 tepatnya pada Q1 dan Q2, empat dari lima vendor smartphone selalu mencatatkan pertumbuhan pasar di area hijau atau positif. Misalnya pada Q1, Xiaomi, Oppo, Realme, dan Vivo mencatatkan pertumbuhan pangsa pasar dengan akumulasi rata-rata mencapai 33 persen, sedangkan Samsung menjadi satu-satunya vendor yang mengalami penurunan pangsa pasar sebesar -5 persen.

Sementara itu di Q2, Samsung, Xiaomi, Oppo, dan Realme mencatatkan pertumbuhan pangsa pasar dengan akumulasi rata-rata 35,75 persen, dengan Xiaomi sebagai penyumbang pertumbuhan terbesar yakni mencapai 112 persen. Sementara itu Vivo menjadi satu-satunya vendor yang mengalami penurunan pangsa pasar sebesar -28 persen.

Kembali harus berhadapan dengan gelombang kedua pandemi yang memberikan pengaruh bagi perekonomian, tak dimungkiri bahwa pasar smartphone di Indonesia juga mengalami penurunan.

Pada laporan Q3, nyaris semua vendor mengalami penurunan pangsa pasar dan berada di area merah dengan akumulasi rata-rata penurunan berada di angka -17,5 persen. Hanya ada satu vendor yang berhasil bertahan di zona hijau yakni Samsung dengan catatan pertumbuhan pasar sebesar 7 persen.

Entah berpengaruh atau tidak, namun sisi positif dari berhasilnya Samsung bertahan di tengah pangsa pasar Indonesia yang menurun karena pandemi, diikuti dengan kabar baik yang menyebut bahwa pabrikan ponsel asal Korea Selatan tersebut akan memindahkan kapasitas produksi mereka dari Vietnam ke negara lain, salah satunya Indonesia.

Dengan adanya rencana tersebut, Indonesia yang selama ini telah menyumbang produksi ponsel Samsung secara global sebesar 4 persen atau sekitar 10 juta unit per tahun, akan mengalami peningkatan dan berubah menjadi 6 persen atau sekitar 18 juta unit dalam kurun waktu yang sama.

Demi melancarkan rencana tersebut, pihak Samsung kabarnya akan menggelontorkan dana investasi untuk penambahan kapasitas produksi di Indonesia sebesar 50 juta dolar AS atau setara Rp720 miliar.

Setiap Tahun, Jumlah Kepemilikan Ponsel di Indonesia Kian Meningkat

Industri otomotif dan bibit pergerakan kendaraan listrik

Mobil listrik buatan Wuling Motors yang dipamerkan di Monas pada 2019 | Shutterstock (Mamat Suryadi)
info gambar

Berpindah dari ponsel pintar, hal lain yang tak kalah mengundang perhatian karena adanya sejumlah langkah dan pergerakan besar juga datang dari industri otomotif, yang tidak hanya melibatkan kendaraan konvensional melainkan juga pertumbuhan akan kehadiran kendaraan listrik.

Awal dari geliat bangkitnya industri otomotif di tanah air ditandai dengan kembali terlaksananya dua gelaran otomotif terbesar setelah keduanya sama-sama harus absen di tahun 2020 saat hantaman pandemi pertama kali melanda.

Sudah bisa menyesuaikan dengan situasi, pameran otomotif pertama yakni Indonesia International Motor Show (IIMS) hadir dengan tema IIMS Hybrid 2021. Ya, sesuai namanya gelaran satu ini memang terlaksana dengan dua metode yaitu online dan offline.

Berlangsung selama 11 hari pada tanggal 15-25 April, gelaran tersebut diketahui berhasil dihadari oleh sebanyak 100.074 pengunjung offline dan di saat bersamaan juga berhasil mencatatkan kunjungan sebanyak 723 ribu kali dengan total impresi sebesar 6.344.782 untuk gelaran yang dilangsungkan secara virtual atau online.

Tidak hanya itu, gelaran yang memang diperuntukkan guna mendorong transaksi di industri otomotif ini juga berhasil memfasilitasi penjualan kendaraan sebanyak 2.580 unit dengan total transaksi lebih dari Rp1 triliun.

Sementara itu menyambut akhir tahun 2021, gelaran otomotif lainnya yang berhasil terselenggara adalah Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), yang di saat bersamaan juga didapuk sebagai pameran otomotif terbesar di Asia Tenggara pasca pandemi melanda.

Berhasil menjaring lebih banyak pengunjung ketimbang IIMS, GIIAS 2021 berhasil membukukan sebanyak 293.252 pengunjung selama berlangsung dalam kurun waktu 11 hari sejak tanggal 11-21 November.

Berbeda dengan IIMS sebagai gelaran yang memang diperuntukkan guna mendorong transaksi di industri otomotif, GIIAS memang lebih diutamakan sebagai pameran tempat di mana para pabrikan otomotif memperkenalkan sekaligus memamerkan berbagai kendaraan yang rilis dengan penyegaran dan inovasi terbaru.

GIIAS 2021 kemarin diketahui telah menjadi ajang untuk peluncuran dari 16 kendaraan baru dan panggung untuk memajang sebanyak 21 varian kendaraan listrik.

Bicara mengenai kendaraan baru, pada kesempatan tersebut pula untuk pertama kalinya diluncurkan mobil Hyundai pertama yang dibuat di pabrik Indonesia yaitu Hyundai Creta. Mobil berjenis compact crossover asal Korea Selatan tersebut nyatanya menjadi mobil pertama yang secara penuh digarap oleh pabrik manufaktur Hyundai yang berada di kawasan industri Karawang, dan akan menjadi mobil pertama garapan pabrik Indonesia yang diekspor ke luar negeri.

Bicara mengenai industri kendaraan listrik, meski penggunaannya di tanah air belum terjadi secara masif namun langkah besar muncul dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah pembangunan lokasi pabrik baterai kendaraan listrik pertama sekaligus terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Sempat mengalami berbagai kabar pembangunan dan investasi dari sejumlah pihak sejak tahun 2020 lalu, beberapa pihak yang sebelumnya disebut berpotensi menjalin kerja sama dalam mewujudkan pabrik kendaraan listrik di RI terdiri dari Contemporary Amperex Technology (CATL) asal China, Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF) asal Jerman, pabrikan mobil listrik bergengsi Tesla besutan Elon Musk (AS), dan LG Energy Solution yang berasal dari Korea Selatan.

Pada akhirnya, pihak yang secara nyata mewujudkan investasi tersebut adalah gabungan konsorsium asal Korea Selatan yang diprakarsai oleh LG, dan konsorsium dari Indonesia yang diwakili oleh gabungan dari sejumlah perusahaan BUMN terkait.

Pada bulan September lalu, pembangunan pabrik tersebut sudah berjalan dengan diawali tahap groundbreaking langsung oleh Presiden di Kompleks Karawang New Industrial City, Kabupaten Karawang.

Nilai investasi yang diterima Indonesia dalam proyek industri baterai terintegrasi pertambangan, smelter, refinery, precursor cathode, dan sel baterai untuk mobil listrik tersebut diketahui mencapai 9,8 miliar dolar AS atau setara Rp142 triliun.

Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini