Rayner Setiawan, Anak Indonesia Pertama yang Jadi Podcaster Sains Cilik

Rayner Setiawan, Anak Indonesia Pertama yang Jadi Podcaster Sains Cilik
info gambar utama

Selama ini ada cukup banyak insan tanah air yang berperan sebagai ilmuwan, membawa kabar baik nan membanggakan saat terlibat dengan berbagai macam proyek sains bertaraf internasional, atau mungkin sesederhana mencapai prestasi di bidang kejuaraan sains pada tingkat yang sama.

Rata-rata, sejumlah kalangan yang berhasil mencatatkan prestasi tersebut masih didominasi orang usia dewasa, atau beberapa dari usia pelajar setara mahasiswa dan sekolah menengah atas.

Tapi ternyata, ada seorang anak yang bisa dibilang masih berusia dini, namun sudah memiliki pengetahuan layaknya ilmuwan dan paham betul mengenai dunia sains dengan cara yang belum tentu dipahami orang dewasa pada umumnya.

Adalah Rayner Setiawan, seorang anak berusia 10 tahun yang akhir-akhir ini banyak dikenal berkat kejeniusannya, sebagai sosok yang memiliki pengetahuan dan pemahaman begitu mendalam di bidang sains.

Semakin istimewa, karena Rayner juga membagi ilmu yang dia miliki dengan membuat sebuah podcast di berbagai platform jejaring konten baik itu YouTube, Spotify, atau Instagram dengan tajuk SciencloPodia, yang di dalamnya berisikan berbagai pembahasan mengenai sains.

Lebih Dekat dengan Adi Utarini, Ilmuwan Bangsa dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia

Kecintaan terhadap sains

Dalam setiap konten sains yang dibahas pada jejaring platform miliknya, Rayner mendapat banyak penghormatan dan rasa kagum karena dinilai sukses merepresentasikan sejumlah isu sains yang dia bahas, dari sudut pandang yang mudah diterima dan dipahami oleh anak-anak seusianya.

Mengutip sebuah wawancara yang dimuat oleh Berita Anak Surabaya, Saat ditanya mengenai mengapa dirinya menyukai biologi dan sains, Rayner mengaku tidak bisa menjelaskan secara detail mengapa dirinya bisa memiliki ketertarikan terhadap hal tersebut, namun ia mengungkap jika biologi adalah suatu hal yang menarik.

"Biologi adalah hal yang menarik bagi saya, seperti sel-sel kecil yang bekerja sama membentuk struktur tubuh, itu adalah hal yang sangat menakjubkan bagaimana sel yang tidak punya pikiran bisa bekerja sama" terang Rayner dengan antusias.

Lain itu, dirinya juga menjelaskan mengenai ketertarikannya terhadap STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), dan menjelaskan mengapa STEM sangat penting menurut sudut pandang dirinya di usia yang masih sangat belia.

Menurut Rayner, STEM bisa sangat berpengaruh dan mengubah masa depan suatu negara, dan akan sangat baik jika ada banyak anak yang bisa menghadirkan teknologi sains untuk negaranya serta bisa ikut menghadirkan kehidupan yang lebih maju.

"Kita butuh lebih banyak anak yang bisa berinovasi di Indonesia" pungkas Rayner.

Kegemaran dan pengetahuannya terhadap sains tidak datang begitu saja, sama halnya seperti sosok-sosok jenius lainnya Rayner diketahui membaca buku dengan intensitas yang bisa dibilang ‘tak biasa’ setiap hari.

Jenis buku yang dibaca pun beragam mulai dari kalkulus hingga kimia, dia bahkan diketahui membaca buku biologi untuk kalangan pelajar mahasiswa yang memiliki berat sekitar 3,4 kilogram dengan total halaman mencapai sekitar 600-700 lembar. Dan biasanya, pembacaan buku-buku tersebut dia selesaikan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Sang ayah yang diketahui bernama Beni mengungkap, jika mereka sebagai orang tua tidak pernah secara spesifik mengarahkan Rayner untuk harus menggeluti bidang sains sampai sedalam seperti sekarang ini.

Beni memperkirakan jika ketertarikan Rayner terhadap sains memang lahir dari hal-hal yang ada di lingkungan sekitar, dan perannya sebagai orang tua awalnya hanya mendukung seperti membelikan beberapa buku di bidang terkait yang memang Rayner minati.

"Jadi secara tidak sadar ketertarikannya tumbuh di situ" terang Beni.

Pelajar Indonesia Raih Prestasi Membanggakan di Olimpiade Sains Internasional Kazakhstan

Memulai SciencloPodia

Perjalanan dalam membuat podcast sains dimulai saat Rayner masih berusia sekitar 5-6 tahun dengan membuat konten pertamanya di YouTube, yang membahas mengenai bakteri. Setelah itu, kontennya mulai berkembang dan membahas banyak hal sains yang lebih beragam.

Mengaku suka membicarakan tentang sains dengan orang dewasa, tak heran di podcast-nya dia kerap berkolaborasi dengan sejumlah ilmuwan yang ahli di masing-masing bidang, salah satunya yang mungkin sudah tidak asing di kalangan masyarakat adalah Indra Rudiansyah, di mana selama ini dikenal sebagai salah satu orang Indonesia yang berkontribusi dalam pembuatan vaksin AstraZeneca.

Yang membuat kagum, berbeda dengan konsep podcast atau wawancara pada umumnya yang biasa dirancang dengan membuat suatu daftar pertanyaan, Rayner mengaku jika dirinya melakukan pembahasan pada setiap podcast secara alami dan mengalir begitu saja.

"Sewaktu saya mulai berbicara dengan narasumber dan mereka mulai menjelaskan dari sudut pandang mereka, itu bagian paling favorit dari melakukan podcast, dan saya tidak punya catatan khusus" tuturnya.

Berkat pemahamannya juga, Rayner selama ini banyak dipandang layaknya seorang profesional ketika mewawancarai sejumlah ilmuwan dalam membahas beragam topik tentang sains.

"Saya senang berbicara dengan mereka karena punya pengetahuan yang lebih baik, jadi saya ingin bertukar pikiran dengan orang yang memang ahli di bidangnya" terang Rayner.

Lebih lanjut, Rayner mengungkap jika ia berharap banyak anak-anak yang memiliki minat sama seperti dirinya bisa mendapat pengetahuan yang sama seperti apa yang dia peroleh.

"Saya memulai SciencloPodia karena ingin berbagi ilmu, karena apa gunanya podcast kalau tidak berbagi."

Ungkapan menakjubkan juga disampaikan oleh Rayner saat ditanya mengenai sifat atau karakter apa yang menurutnya harus dimiliki oleh seorang ilmuwan sejati.

"Tidak pernah menyerah, mereka harus percaya, punya mimpi, dan baik hati, itu adalah hal-hal yang harus dimiliki ilmuwan." pungkasnya.

Peran Peneliti Asal Indonesia yang Berkontribusi Membuat Vaksin AstraZeneca

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini