Jadi Perbincangan, Memahami Persoalan Kandang Baterai Bagi Peternakan Ayam

Jadi Perbincangan, Memahami Persoalan Kandang Baterai Bagi Peternakan Ayam
info gambar utama

Ayam dan telur sejak lama telah menjadi pangan utama bagi manusia, untuk memenuhi kebutuhan sumber protein yang paling mudah didapat. Karena itu, tak heran jika saat ini ayam sendiri masuk dalam kategori hewan ternak yang lazim dikonsumsi.

Dalam praktiknya sendiri peternakan ayam dibagi menjadi dua jenis, yakni ternak ayam yang dikhususkan untuk daging potong (pedaging), atau ternak ayam penghasil telur (petelur).

Bicara mengenai ternak ayam petelur, belakangan di kalangan masyarakat lagi-lagi ramai mengenai suatu topik yang mencuri perhatian. Tidak lain dan tidak bukan, adalah peternakan ayam petelur di Indonesia yang menerapkan metode kandang baterai (battery cage).

Metode tersebut dianggap sebagai praktik yang tidak layak, karena wujud kandangnya yang diyakini sebagai bentuk penyiksaan terhadap ayam. Semakin menjadi perbincangan panas, karena isu ini diikuti dengan kampanye yang menyuarakan ‘pemboikotan’ terhadap sejumlah restoran cepat saji yang memasok telur dari peternakan ayam dengan sistem kandang baterai.

Lantas seperti apa sebenarnya praktik kandang baterai yang dimaksud, dan apa penjelasan dari para peternak yang tidak setuju dengan tuntutan ini?

Mengenal Lanskap Teknologi Unggas, Digitalisasi Kandang Ternak Ayam Broiler

Dianggap sebagai praktik ternak kejam

praktik kandang baterai
info gambar

Sesuai namanya, kandang baterai dalam peternakan unggas (ayam) sendiri merupakan sistem yang menempatkan ayam dalam sebuah kandang berupa susunan baris dan kolom yang identik ditumpuk, disusun, atau dihubungkan bersama dalam satu lahan. Lewat susunan tersebut, maka wujudnya nampak seperti susunan baterai.

Lebih detail, The Humane League bahkan memaparkan jika ayam betina yang sudah masuk dalam kategori petelur maka hanya akan menghabiskan sisa waktu hidupnya dalam kandang tersebut, yang umumnya berlangsung selama dua tahun.

Saat ini hampir semua negara masih menerapkan peternakan ayam petelur dengan metode kandang baterai. Biasanya kandang terbuat dari kawat di semua sisi, tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Setiap peternakan atau negara biasanya memiliki standar ukuran kandangnya masing-masing.

Ada yang kecil, dan ada yang lebih besar. Kemudian dalam satu kandang ada yang diisi oleh 4 hingga 10 ekor ayam. Terdapat beberapa hal yang diyakini menjadi permasalahan dari praktik kandang satu ini, baik dari segi kesehatan dan kondisi ayam, hingga potensi penyakit mewabah yang ditimbulkan.

Pertama dari segi kesejahteraan ayam, kandang yang sempit diyakini dapat membuat mereka mengalami tekanan psikologis, trauma, penggantian kulit secara paksa akibat situasi yang tertekan, hingga penyakit osteoporosis.

Ya, bukan hanya manusia, ayam juga dapat mengalami kondisi osteoporosis karena mereka berada di kandang yang pengap dan kurang bergerak. Hal tersebut akan membuat mereka mengalami kondisi abnormal karena tidak terbiasa meregangkan sayap sehingga menyebabkan kerapuhan hingga patah tulang.

Kedua dari segi bahaya penyakit, ayam yang diternak dengan kepadatan kandang baterai ini dapat meningkatkan risiko zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, misalnya flu burung, Covid-19, dan sejenisnya.

Lain itu sejumlah gambaran kandang yang tidak memadai juga dapat menekan kondisi ayam petelur, hal tersebut yang dinilai sebagai tindakan menyiksa dan dianggap sebagai praktik peternakan paling kejam.

Peternakan Indonesia Kembali Dilanda PMK Setelah 3 Dekade, Apa Bahayanya?

Larangan kandang baterai dan pilihan alternatif

peternakan ayam dengan metode pembebasan
info gambar

Masih banyak berlaku di sejumlah negara termasuk Indonesia, nyatanya ada beberapa negara yang sejak lama sudah melarang dengan keras praktik kandang baterai ini.

Masih menurut sumber yang sama, adapun sejumlah negara yang secara nasional telah melarang penerapan ternak unggas petelur dengan sistem kandang baterai adalah:

  • Bhutan, pelarangan sejak tahun 2012,
  • Uni Eropa, penghapusan bertahap yang juga sudah selesai pada tahun 2012,
  • Jerman, menyelesaikan pelarangan bertahap pada tahun 2006,
  • India, pelarangan bertahap yang selesai tahun 2017,
  • Selandia Baru, penghapusan bertahap yang akan selesai di t ahun 2022,
  • Norwegia, mulai dilarang sejak tahun 2012,
  • Swiss, pelarangan penuh sejak tahun 1992.

Alih-alih menerapkan kandang baterai, sejumlah negara tersebut telah menerapkan metode alternatif yakni berupa peternakan ayam dengan metode pelepasan, dikenal juga dengan istilah free-range chicken farm atau enriched cages.

Tidak ditumpuk dalam satu kandang sempit, ayam-ayam petelur justru dibebaskan di lahan terbuka, atau jika ditempatkan dalam kandang, kandangnya berukuran lebih luas dengan sejumlah area khusus untuk berbagai kebiasaan mereka seperti bersarang, mengeram telur, dan lain-lain.

Apakah metode ini ampuh menjadi solusi di negara lain? Iya. Tapi apakah metode ini bisa bisa atau mungkin sudah diterapkan di Indonesia? Jawabannya sudah ada yang menerapkan namun untuk saat ini dinilai masih belum tepat dengan kondisi rantai pasok makanan di tanah air.

Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

Suara dari kacamata peternak

Meski menjadi solusi di negara lain, sayangnya pilihan alternatif untuk melakukan peternakan ayam dengan metode pembebasan lebih banyak memiliki sisi negatif bagi para peternak, khususnya dari segi biaya produksi yang dapat memengaruhi harga jual di pasaran.

Mengutip beberapa suara yang dituliskan oleh mereka--para peternak--yang mengaku sudah mencoba untuk menerapkan sistem ternak pembebasan, hasil yang didapat cenderung bersifat kerugian dan pada akhirnya akan menaikan harga telur di pasar yang sudah pasti akan menimbulkan protes dari konsumen.

Pertama, pembebasan ternak otomatis membutuhkan lahan yang besar. Selain itu dibutuhkan juga biaya SDM tambahan untuk menjangkau telur yang dihasilkan dan tersebar, berbeda dengan telur pada kandang baterai yang akan langsung tertampung dalam wadah khusus.

Kedua, ada juga sejumlah faktor eksternal yang dapat menimbulkan kerugian bagi para peternak. Di antaranya telur yang rentan pecah karena berada di luar, entah karena terinjak atau bahkan dimakan oleh ayam lain, dan sebagainya.

Karena itu, ada yang berpendapat jika tuntutan mengubah peternakan ayam petelur di Indonesia untuk meninggalkan metode kandang baterai, dinilai akan menjadi kebijakan atau aturan searah. Hal tersebut lantaran di saat bersamaan tidak ada solusi bagi para peternak.

Balitbangtan Kembangkan Teknologi Perpanjang Umur Telur Ayam

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini