Mengenal 3 Spesies Terumbu Karang Endemik yang Ada di Indonesia

Mengenal 3 Spesies Terumbu Karang Endemik yang Ada di Indonesia
info gambar utama

Terumbu karang merupakan salah satu jenis kekayaan alam Indonesia yang terbukti unggul dan mengalahkan keberadaan kekayaan alam serupa di negara lain. Menurut catatan LIPI, Indonesia selama ini telah menjadi rumah bagi 67 persen dari total terumbu karang keras di dunia.

Sebagian kawasan Indonesia nyatanya juga masuk dalam wilayah segitiga terumbu karang atau coral reefs triangle. Sekadar informasi, coral reefs triangle adalah kawasan yang menampung sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia. Daerahnya meliputi perairan wilayah timur Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.

Berdasarkan kondisi itu pula, Indonesia kaya akan spesies terumbu karang endemik, karena memang beberapa hanya dapat ditemukan di wilayah perairan tanah air.

Lalu apa saja spesies terumbu karang endemik yang dimiliki Indonesia? berikut 3 di antaranya.

Indonesia Nomor Wahid dalam Upaya Pemulihan Terumbu Karang di Bumi

Euphyllia baliensis

Dari namanya, akan langsung kentara jika spesies terumbu karang satu ini berasal dan banyak ditemukan di kawasan Bali. Spesies terumbu karang satu ini pertama kali ditemukan pada tahun 2011, dan memiliki fakta unik mengenai wujud dan keberadaannya.

Euphyllia baliensis memiliki bentuk layaknya bunga kamboja dengan warna polip besar dan panjang dengan cabang yang tipis. Wujudnya didominasi oleh warna merah dan cokelat. Sementara itu habitat alaminya berada di kawasan lepas pantai timur Bali, yaitu di perairan Candidasa, Kabupaten Karangasem.

Lebih lanjut, jenis karang satu ini juga diketahui hanya hidup di kedalaman 27-37 meter. Yang menarik, saking berharga dan membanggakan sebagai spesies terumbu karang endemik di Pulau Dewata, keberadan dijuluki Euphyllia baliensis kerap dijuluki dengan sebutan mutiara terpendam di Karangasem.

Keindahan Terumbu Karang, Perekam Riwayat Letusan Gunung Banda Api

Acropora suharsonoi

Apabila dibaca dengan seksama, nama latin dari spesies terumbu karang satu ini terbilang unik karena mengandung kata suharsonoi. Rupanya, nama tersebut berhubungan dengan sosok profesor yang menemukan jenis terumbu karang satu ini, yaitu Dr. Suharsono.

Dr. Suharsono menemukan Acropora suharsonoi, pada tahun 1995 saat sedang menyelam di perairan sekitar Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Waktu nyelam di Lombok, saya lupa sekitar tahun 1995-an ada karang, saya tahu persis itu jenis baru karena belum pernah nampak seperti itu,” ujarnya, mengutip penjelasan di laman resmi LIPI.

Acropora suharsonoi merupakan jenis terumbu karang primitif dengan ciri warna putih kekuningan. Terumbu karang ini biasa ditemui pada kedalaman lebih dari empat meter, dan bersifat endemik karena hanya ada di perairan Bali dan Lombok.

Namun, saat ini Acropora suharsonoi masuk dalam kategori terancam (endangered) pada daftar merah IUCN, karena populasinya yang semakin menurun.

Menilik Perkembangan Program Rehabilitasi Terumbu Karang di Indonesia

Indophyllia macassarensis

Beda dengan Acropora suharsonoi atau spesies terumbu karang sebelumnya, hanya sedikit literatur yang memuat penjelasan mengenai Indophyllia macassarensis. Hal tersebut lantaran keberadaannya yang cukup langka, dan hanya pernah ditemui sekitar dua kali di wilayah perairan Sulawesi.

Saking sulit ditemui, IUCN tidak memiliki catatan pasti mengenai status dari jenis terumbu karang satu ini. Kendati begitu, dapat dipastikan bahwa jenisnya merupakan endemik di Indonesia.

Sementara itu mengutip deskripsi yang dituliskan dalam Coralsoftheworld.org, spesies terumbu karang ini memiliki karakter berupa keberadaan yang soliter.

Memiliki diameter hingga 45 milimeter, terumbu karang ini biasa ditemukan pada titik substrat berpasir. Ciri lainnya, Indophyllia macassarensis juga memiliki warna cokelat pucat atau krem.

Adopsi Karang untuk Rehabilitasi Terumbu Karang di Bunaken

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini