Ikhtiar Ciptakan Masyarakat Informasi oleh Komunitas Literasi Digital di Indonesia

Ikhtiar Ciptakan Masyarakat Informasi oleh Komunitas Literasi Digital di Indonesia
info gambar utama

Perkembangan teknologi ialah sebuah keniscayaan. Kian hari, teknologi berkembang dengan pesat: internet dan media sosial sudah menjadi kawan banyak orang. Akan tetapi di balik itu, teknologi digital bisa menjadi lawan yang membahayakan manusia.

Bagaikan dua sisi mata pisau, perkembangan teknologi mendatangkan bahaya dan manfaat dalam waktu yang sama. Apabila tidak digunakan sebagaimana mestinya, manfaat teknologi hanya akan berujung kepada kontemporerisasi hal-hal buruk. Dapat dilihat dari maraknya kejahatan siber saat ini atau dampak buruk lainnya yang bersifat personal, seperti kecanduan gawai.

Di Indonesia, masih banyak ditemukan masyarakat yang abai akan hal ini. Teknologi dibiarkan tumbuh tanpa diiringi penjagaan yang seimbang. Atas dasar itu, beberapa komunitas literasi digital di Indonesia berikut ini menunjukkan geliatnya untuk memasifkan gerakan melek informasi digital di tanah air.

Mengulik Pengertian dan 4 Pilar Literasi Digital

Japelidi.id

Didirikan sejak 2017, Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) merupakan komunitas yang terdiri dari dosen, peneliti, dan pegiat isu literasi digital. Melansir laman resmi Japelidi.id, komunitas ini beranggotakan sebanyak 168 pegiat dari 78 universitas atau lembaga. Anggota Japelidi.id tersebar di 30 kota, dalam dan luar negeri.

Lahirnya Japelidi.id didasari atas semangat berlaborasi untuk menjadi penggerak kegiatan literasi digital di Indonesia. Dalam perjalanannya, komunitas yang dipimpin oleh Novi Kurnia ini telah mengadakan serangkaian program literasi digital, seperti penelitian, konferensi, penerbitan buku, kampanye, dan pelatihan.

Selain itu, Japelidi.id juga aktif menyuarakan isu literasi digital melalui produksi konten kreatif berupa infografis dan videografis di media sosial. Seluruh program tersebut dilaksanakan dengan kerja sama Japelidi.id dengan pemerintah maupun komunitas-komunitas lain.

Literasi Digital dan Upaya Perlindungan Anak di Ranah Daring

Relawan TIK

Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Juli 2011 silam meresmikan struktur organisasi Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (Relawan TIK) setelah mulai dirintis pada 2008. Relawan TIK saat ini sudah memiliki 3.200 anggota yang tersebar di 30 wilayah Indonesia. Selain itu, Relawan TIK juga memiliki 360 cabang dan 25 komisariat.

Relawan TIK merupakan wadah bagi para aktivis, pegiat, pemerhati, atau pelaku teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia. Relawan TIK berdiri sebagai organisasi nirlaba dengan tujuan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan TIK bagi anggota dan masyarakat luas.

Seiring dengan tujuan-tujuan tersebut, Relawan TIK memiliki beberapa program unggulan, seperti Akademi Relawan TIK Indonesia (ARTIKA), RTIK Berkreasi, Festival TIK, dan RTIK Talent. Melalui program-program tersebut, Relawan TIK ingin mewujudkan masyarakat informasi Indonesia.

Peran Anak Muda Tingkatkan Literasi dan Jaga Perdamaian di Ranah Digital

Keluarga Digital Indonesia

Keluarga Digital (KUGI) Indonesia merupakan sebuah lembaga nonprofit yang bergerak di bidang literasi digital. Hadir di Instagram, Twitter, dan Facebook, Keluarga Digital Indonesia menyuarakan kampanye literasi digital dan pemanfaatan internet secara positif.

Di media sosialnya, KUGI Indonesia hadir dengan tagar #KerenDenganInternet. KUGI Indonesia rutin mengunggah berbagai informasi terkait literasi digital. Secara khusus, KUGI Indonesia lebih banyak membagikan unggahan mengenai cara memupuk literasi digital dalam lingkungan keluarga.

Sesuai namanya, KUGI Indonesia memandang bahwa keluarga sebagai lingkungan terpenting untuk memulai literasi digital. Menyadari bahwa literasi digital masih dianggap sebagai hal yang tidak penting, KUGI Indonesia berupaya mentransformasikan persepsi masyarakat tersebut.

Peringkat Literasi Digital Para Traveler Indonesia di Antara Negara-negara Lain

ICT Watch

ICT Watch merupakan organisasi masyarakat sipil yang fokus pada pembangunan pengetahuan dan kemampuan literasi digital sumber daya manusia Indonesia. Selain literasi digital, ICT Watch juga menyuarakan kepeduliannya terhadap ekspresi online dan tata kelola siber.

Pada tahun 2002 silam, ICT Watch mengampanyekan advokasi literasi digital dengan menggagas Internet Sehat (Cyber Wellness). Gagasannya itu masih konsisten hingga saat ini. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan literasi digital yang nyata agar tidak menjadi slogan semata.

Ada tiga hal yang dikampanyekan oleh ICT Watch. Pertama, internet safety atau penggunaan TIK yang aman dan bijak. Kedua, internet right atau hak-hak berinternet dan kemampuan menggunakannya secara layak. Ketiga, internet governance, yakni tata kelola internet di kalangan pemangku kepentingan.

Referensi: japelidi.id | relawantik.or.id | Facebook KUGI Indonesia | iwatch.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini