Sejarah Hari Ini (23 Juni 1956) - Timnas Indonesia Jamu Finalis Liga Champions, Stade de Reims

Sejarah Hari Ini (23 Juni 1956) - Timnas Indonesia Jamu Finalis Liga Champions, Stade de Reims
info gambar utama

Ada satu masa klub semenjana Liga Prancis, Stade de Reims, memiliki masa jayanya.

Hal itu terjadi pada tahun 50-an di mana klub berjulukan Les Rouges et Blancs (Merah-Putih) ini menjuarai kasta tertinggi Liga Prancis, Ligue 1.

Taji Reims di liga lokal menular ke kancah internasional yakni Liga Champions atau saat itu masih disebut European Cup (Piala Eropa).

Bahkan Reims sanggup berkesempatan menggondol titel kompetisi antarklub sepak bola Eropa itu andai saja tidak dikalahkan tim kuat asal Spanyol, Real Madrid, dengan skor 3-4 di final di Stadion Parc des Princes pada 13 Juni 1956.

Pamor Reims cukup tinggi membuat mereka diundang ke Indonesia oleh Chung Hwa Tsing Nien Hui, sebuah tim sepak bola keturunan Tionghoa asal Surabaya yang saat itu merayakan HUT ke-10.

Reims tidak menyertakan empat bintangnya Rene Bliard, Raoul Giraudo, Michel Leblond, dan Robert Siatka yang saat itu sedang melakukan wajib militer.

Untungnya, playmaker handal Raymond Kopa tetap bisa dibawa dan menghibur masyarakat Indonesia meskipun ia statusnya sudah dibeli Real Madrid.

Lima hari setelah melakoni final melawan Real Madrid, Reims yang diasuh Albert Batteux mendarat di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta.

Dua hari kemudian atau 20 Juni 1956, Raymond Kopa dkk melakoni laga melawan klub lokal Persija Jakarta.

Saat itu anak-anak Macan Kemayoran digundul habis dengan skor 1-11 ketika bermain di Stadion Ikada (sekarang lapangan Monas), Jakarta.

Laga Persija Jakarta versus Stade de Reims di Stadion Ikada, Jakarta, pada 20 Juni 1956.
info gambar

Agenda laga eksibisi Reims di Indonesia berlanjut dengan menantang timnas Indonesia di tempat yang sama pada 23 Juni 1956.

Pertandingan itu disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Mohammad Hatta.

Timnas Indonesia tidak mampu berbuat banyak karena mereka dicukur 1-5.

Pada interval babak pertama, Reims sudah unggul 3-0 tetapi coba diperkecil oleh timnas Indonesia asuhan Antun "Toni" Pogacnik lewat aksi Endang Witarsa tiga menit sebelum turun minum.

Sempat ada ketegangan karena kiper Reims, Rene-Jean Jacquet, protes pada wasit Mohd. Sarim di tengah lapangan.

Jacques menilai Witarsa telah offside sebelum gol tercipta.

Satuan pengamanan sampai turun tangan karena sejumlah pemain Reims yang lain ikut protes pada sang wasit.

 Pemain Reims mengerubungi wasit Mohd. Sarim untuk protes sampai-sampai kesatuan keamanan mesti turun tangan ke lapangan pertandingan.
info gambar

Sayangnya pada babak kedua timnas Indonesia lengah sehingga Reims menambah dua gol lewat Raymond Kopa.

Meskipun kemasukan banyak gol, kiper Maulwi Saelan mendapatkan sorotan dan pujian karena aksinya.

"Cara bermain bagian pertahanan kita di petang itu sesungguhnya dapat dibuat bangga hingga terutama penjaga gawang Saelan. Ia kini tidak saja dikatakan bintang lapangan dan telah membela gawangnya secara sangat sublim, akan tetapi juga - bersandarkan pertimbangan-pertimbangan objektif - penjaga gawang ini sudah pasti dapat dimasukkan dalam tingkat internasional. Kita sungguh boleh merasa bangga dengannya," lapor redaksi Star Weekly yang menonton langsung pertandingan itu.

Reims meluangkan waktunya untuk pramusim di Indonesia hingga awal Juli 1956.

Laga terakhir yang mereka lakoni kembali melawan timnas Indonesia pada pekan awal bulan tersebut.

Seolah belajar dari kesalahan, timnas Indonesia sanggup menahan 0-0 Reims pada babak pertama meskipun pada akhirnya mereka kalah tipis 2-3.

Baca Juga:

Referensi: Rsssf.com | Preanger Bode | Star Weekly

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini