Amerika Serikat Resesi, Indonesia Punya Potensi Tidak ‘’Ikutan’’ Resesi

Amerika Serikat Resesi, Indonesia Punya Potensi Tidak ‘’Ikutan’’ Resesi
info gambar utama

Amerika Serikat, salah satu perekonomian terbesar dunia, resmi mengalami resesi.

Apa itu resesi? Literatur ekonomi menyebutkan, suatu perekonomian atau negara disebut mengalami resesi ketika pertumbuhannya dua kuartal berturut-turut (year on year/yoy) menunjukkan angka negatif. Dalam bahasa ekonomi, pertumbuhan ekonomi negatif ini juga disebut kontraksi.

Nah, mengapa Amerika disebut masuk ke jurang resesi? Mari kita lihat indikatornya.

Pada kuartal pertama 2020, angka pertumbuhan Negeri Paman Sam itu negatif, yakni -4,8 persen.

Pada kuartal kedua yang baru lalu, ternyata perekonomian Amerika makin terpuruk dengan angka pertumbuhan -32,9 persen, angka pertumbuhan terburuk sejak 1947.

Lalu, bagaimana Indonesia?

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus lalu mengumumkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua berada di angka negatif, -5,32 persen. Angka pertumbuhan yang tidak menggembirakan sebenarnya sudah diprediksi, mengingat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan sejak April hingga kini dengan berbagai transisinya melambatkan aktivitas produktif warga.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi adalah fenomena global akibat pandemi COVID-19. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook edisi April 2020 memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini ada di angka -3 persen.

Prediksi pertumbuhan negatif ini disertai asumsi bahwa tren penyebaran COVID-19 mencapai puncaknya pada kuartal kedua dan surut pada semester kedua tahun ini.

Kembali ke kondisi ekonomi Amerika, Indonesia perlu mengantisipasinya karena Amerika adalah salah satu mitra dagang strategis.

Krisis Ekonomi Sekarang Tidak Sama Seperti Krisis 1998 dan 2008

Krisis Ekonomi Covid-19
info gambar

Sebelum Amerika Serikat, negara seperti Filipina, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, termasuk salah satunya Jerman, ramai-ramai mengumumkan bahwa mereka masuk dalam jurang resesi. Dan hampir semua negara itu adalah negara mitra dagang Indonesia.

Melihat negara-negara yang berada di sekeliling Indonesia sudah masuki jurang resesi, tak heran jika masyarakat Indonesia juga mengkhawatirkan ancaman resesi serupa. Di satu sisi, Indonesia beruntung karena pada kuartal pertama tahun ini, angka pertumbuhan ekonomiannya masih berada di area positif di tengah negara lain sudah lebih dulu terkontraksi.

Meski begitu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif di Next Policy, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan bahwa melihat kondisi ancaman resesi yang terjadi di beberapa negara, sejatinya memang memiliki dampak yang luas.

"Karena memang pusatnya adalah [akibat] dari COVID-19 yang pada akhirnya menghantam dari sisi produksi," kata Fithra kepada GNFI (6/8), "cuma berbeda dengan tipikal resesi atau krisis yang pernah kita alami pada 1998 atau tahun 2008."

Kala itu, Fithra menjelaskan, resesi atau krisis berasal dari sektor keuangan yang memiliki tipikal dampak yang sangat cepat menjalar menghantam ke seluruh sektor perekonomian. Selain sisi makroekonomi yang terganggu, dari sisi kebijakan-kebijakan di sektor keuangan pada saat itu, juga belum sebaik seperti masa sekarang.

"Kalau kita lihat sekarang, ini agak berbeda. ]Krisis] berasal dari sisi supply. COVID-19 menghantam dari sisi supply yang secara natural berbeda dengan sektor keuangan," papar doktor ekonomi lulusan Universitas Waseda, Jepang, ini.

"Kalau di sektor supply ini dia jalannya lambat, tapi kita sudah merasakannya dengan proses adaptasi yang alami. Jadi dari sisi aura negatifnya, lebih negatif di tahun 1998 jika dibandingkan dengan tahun ini."

Neraca Dagang Indonesia Nyatanya Stabil Surplus

Neraca Dagang Indonesia
info gambar

Resesi yang dilihat dari penurunan angka atau kontraksi pertumbuhan ekonomi itu sendiri mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat cenderung turun. Hal ini tentu akan berdampak dengan nasib perdagangan global karena adanya penurunan global demand.

Salah satu kekhawatiran yang bisa saja terjadi, ketika Amerika Serikat resmi masuk dalam jurang resesi adalah menurunnya angka ekspor ke Negeri Paman Sam itu.

Mengutip dari Antonius Budiman, Kasubdit Amerika, Direktorat Perundingan Bilateral, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan RI, pada 5 Agustus, diketahui bahwa Indonesia merupakan eksportir Amerika Serikat di peringkat ke-22 dengan pangsa pasar sebesar 0,81 persen dan total nilai perdagangan mencapai 2,5 triliun dolar AS.

Sedangkan dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, Indonesia menjadi eksportir Amerika Serikat terbesar ke-5 setelah Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Fithra sendiri tidak menafikan bahwa dampak dari resesi yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara lain akan sangat membatasi perdagangan internasional di Indonesia.

"Tapi itulah bedanya kita (Indonesia) dengan negara-negara lain karena benang merahnya adalah mereka sangat tergantung pada jaringan produksi global. Ketergantungan terhadap perdagangan internasionalnya cukup tinggi," terang Fithra.

Contohnya seperti Singapura, yang diungkapkan Fithra, bahwa ketergantungan mereka terhadap perdagangan internasional mencapai 174 persen.

CEIC Data mencatat bahwa pada 2019 saja rasio ekspor Singapura terhadap PDB negaranya mencapai 104,91 persen. Bahkan angka yang sudah dianggap sangat tinggi itu sudah mengalami penurunan jika dibandingkan pada 2006 yang mencapai puncak tertinggi rasionya sebesar 183,8 persen.

Oleh sebab itu Singapura dinobatkan menjadi negara dengan rasio ekspor terhadap PDB terbesar di dunia.

Sedangkan Indonesia, menurut dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (PRJMN) 2020-2024, rasio nilai ekspor terhadap PDB baru mencapai 19 persen.

Meski mengalami tren penurunan rasio imbas dari resesi ekonomi yang terjadi secara global, hal ini dinilai tidak akan memperburuk pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Sampai saat ini, perlambatan ekonomi Amerika belum berpengaruh pada ekspor-impor Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2020, statistik Kemendag mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia justru mencetak angka surplus hingga 54,8 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan defisit di angka -18,7 miliar dolar AS.

Selama pandemi COVID-19, Indonesia memang pernah mengalami defisit neraca perdagangan pada April 2020 dengan angka -344,7 juta dolar AS. Namun, kabar baik selanjutnya datang bahwa pada Mei 2020 dan Juni 2020, Indonesia membukukan angka surplus neraca perdagangan dengan masing-masing angka 2,09 miliar dolar AS dan 1,27 miliar dolar AS.

Surplus neraca perdagangan disebabkan oleh realisasi ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor. Meski begitu, Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, tetap menilai bahwa kabar menggembirakan ini bukan serta merta naiknya angka ekspor saja, melainkan angka impor yang juga tumbuh.

Fithra bilang bahwa salah satu penyebab angka impor Indonesia naik adalah tingginya permintaan dalam negeri untuk bahan baku dan barang modal.

"Ini menunjukkan geliat industri [dalam negeri] naik. Artinya dengan mengimpor bahan baku untuk proses produksinya yang nantinya hasilnya dibuat untuk ekspor. Dan itu surplus sampai bulan Juni," katanya.

Potensi Ekonomi Q3 2020 Tumbuh Positif dan Terhindar dari Resesi

Fithra mengungkapkan bahwa Indonesia masih punya potensi untuk terhindar dari resesi atau terhindar dari kontraksi pertumbuhan ekonomi di kuarta ketiga 2020. Ini karena selama Q2 2020, Indonesia sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Hal pertama yang bisa dilihat adalah angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang justru mengalami peningkatan meski di tengah pandemi. Angka PMI inilah menunjukan kekuatan geliat industri di dalam negeri masih tetap tumbuh.

Untuk diketahui, angka indeks standar PMI adalah 50. Artinya, jika di atas 50, maka kekuatan industri suatu negara bisa dikatakan kuat. Jika di bawah angka 50, Fithra menyebutnya masih terjadi lag.

"Kalau kita lihat secara historikal dari bulan Januari yang angka indeksnya 49,3, naik menjadi 51,9 di bulan Februari. Sempat anjlok di bulan Maret-April jatuh di angka 20-an. Wajar. Karena memang itu kita paling buruk-buruknya pada bulan Maret-April," jelas Fithra.

Pada rentang Maret-April, Indonesia memang sedang menjalankan PSBB hampir di seluruh negeri. Trading Economics mencatat saat bulan Maret angka PMI Manufaktur Indonesia jatuh ke angka 45,3 dan pada bulan April kembali anjlok ke angka 27,5.

"Tapi di bulan Mei-Juni-Juli, ini naik secara gradual. Di bulan Mei menjadi 28,6. Juni 39,1. Juli sudah 48. Artinya, meskipun masih di bawah 50, ini hampir kembali ke level normal," lanjut Fithra, "ini sejalan juga dengan tren ekspor-impor karena surplus neraca dagang. Ini kan berarti menunjukkan pertumbuhan geliat industri karena keduanya memiliki korelasi yang cukup positif."

Grafik Angka PMI Manufaktur Indonesia 2020

Melihat data, Indonesia masih bisa diperkirakan untuk tumbuh positif di Q3 2020. Jika Indonesia ingin benar-benar tumbuh positif, Fithra menyebutkan bahwa Indonesia juga harus berjuang dan fokus pada konsumsi domestik, "karena itu punya peran paling besar dibandingkan dengan perdagangan internasional."

Fithra mencontohkan negara China yang bisa memulihkan keadaan ekonominya dengan mengandalkan kekuatan konsumsi domestiknya.

"Yang pertama kali kena COVID-19 kan mereka asal mulanya. Tapi sekarang nggak ada tuh tanda-tanda resesi. Meskipun memang pertumbuhannya jatuh lebih dari setengahnya, tapi masih positif. Artinya, dalam kondisi seperti itu kita bisa saja keluar dari resesi kalau kita bisa memperbaiki dari sektor konsumsi domestik,’’ jelas Fithra.

Indonesia bisa! Masih punya banyak kemungkinan untuk tumbuh positif. Asal…

"Pekerjaan rumah pemerintah harus dikerjakan. Eksekusi anggarannya harus betul-betul cepat dan tepat. Kalau tidak, kita akan kehilangan momentum," ungkap Fithra.

Kalau ternyata kita kontraksi di Q3?

"Resesi itu sebenarnya nggak perlu ditakuti karena itu cuma [pertumbuhan negatif] dua kuartal berturut-turut. Kita lihat setahun bagaimana, bisa positif atau nggak.Saya rasa kita masih punya peluang tumbuh positif di Q3," tutup Fithra.

Amerika Serikat Resesi, Dolar Melemah, Kenapa Rupiah Tak Menguat?

Melihat kondisi Amerika Serikat yang berada di jurang resesi, faktor fundamental menjadi alasan dolar AS melemah. Merujuk pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), saat Amerika mengumumkan angka perekonomiannya pada 30 Juli lalu, rupiah berada di level Rp14.653 per dolar AS.

Sepanjang bulan Agustus, sebelum BPS akhirnya memperlihatkan angka kontraksi ekonomi Indonesia, level terlemah rupiah berada di area level Rp14.713 per dolar AS. Malah setelah pengumuman BPS, pergerakan rupiah sempat menguat di level Rp14.623 per dolar AS dan lanjut menguat ke level Rp14.587 per dolar AS pada 6 Agustus 2020.

Penguatan itu terlihat terkoreksi di level Rp14.647 per dolar AS di akhir perdagangan pekan pertama Agustus.

"Pergerakannya [rupiah terhadap dolar AS] nggak ada tren khusus sebenarnya. Masih konsolidasi, naik turun,’’ ungkap Kepala Divisi Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, kepada GNFI (6/8).

Menurut Ariston, salah satu alasan rupiah tidak mampu menguat signifikan di tengah sentimen negatif terhadap dolar didorong karena masih ada kekhawatiran pasar.

"Karena kekhawatiran pasar mendorong orang masuk ke aset safe haven (aset aman), termasuk aset dolar," jelasnya.

Pergerakan Rupiah

Sudah menjadi perilaku pasar ketika merasa tidak aman, maka pelaku pasar akan cenderung menggandrungi aset-aset aman seperti emas, yen Jepang, dan dolar AS.

Aset dolar ini, dijelaskan Ariston, salah satunya adalah obligasi pemerintah Amerika Serikat. Terlihat bahwa tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat pada tenor 10 tahun terus mengalami penurunan. Terutama sejak perekonomian Amerika Serikat sudah terlihat kontraksi di kuartal pertama tahun ini.

"Minat terhadap obligasi tinggi, berarti orang balik ke dolar. Jadi dolar menguat."

Meskipun, dari indikator indeks dolar, dolar masih terhitung melemah jika kekuatannya dibandingkan mata uang lainnya.

Untuk diketahui, ketika para pelaku pasar memilih membeli obligasi, harganya akan meningkat. Jika harga meningkat, maka itu berbanding terbalik dengan yield-nya. Itu artinya nilai yield akan turun.

"Karena minatnya tinggi, jadi pelaku pasar nggak apa-apa kalau bunganya rendah, yang penting aman. Jadi itu bisa mengindikasikan kekhawatiran pasar cukup tinggi dengan kondisi saat ini. Sehingga mereka mencari aset aman. Rupiah kan termasuk aset berisiko,’’ jelas Ariston.

Terkait dengan resesi, Ariston juga melihat bahwa resesi yang terjadi kini hanya sebuah definisi. Dia mengatakan, "Resesi itu yang penting [definisinya] angka minus selama dua kuartal beruntun."

Itulah sebabnya mengapa pergerakan rupiah tidak mengalami pelemahan yang sangat tajam ketika BPS mengumumkan Indonesia diambang jurang resesi secara teknikal.

Yang terpenting untuk bisa menopang kekuatan rupiah, Ariston menilai, sentimen positif harus muncul dari sisi pemulihan ekonomi dalam negeri. Meski pada kenyataannya, Ariston tidak menafikan perilaku para pelaku pasar. Terutama terkait pergerakan rupiah yang cenderung lebih terpengaruh pada faktor eksternal dibandingkan internal.

Terutama saat pergerakan rupiah masih sangat terpengaruh pada kekuatan dolar.

Masih adanya potensi pasar untuk kepemilikan aset aman, menjadi salah satu sentimen negatif yang akan selalu membayangi tertekannya pergerakan rupiah.

"Selain soal pandemi yang belum terkendali, kisruh antara Amerika Serikat dan China juga masih terjadi sampai sekarang. Semakin memanas," ungkap Ariston.

Diketahui kisruh antara Amerika Serikat dan China masih menjadi perhatian para pelaku pasar. Apalagi Amerika Serikat mulai memberlakukan banyak aturan agar Negeri Tirai Bambu itu tidak terlalu banyak berinvestasi di Amerika Serikat.

Setelah memblokade perusahaan Huawei, Presiden Donald Trump memblokir TikTok, bahkan memaksa agar pihak China menjual perusahaan itu kepada pihak Amerika Serikat.

Salah satu alasannya adalah TikTok dituding mengancam keamanan nasional Amerika karena diduga akan menyalurkan data pribadi warga AS ke China.

Tak hanya TikTok, aplikasi percakapan daring (chat) asal China seperti WeChat juga masuk dalam daftar perusahaan China yang akan dilarang.

"Sedang digodok peraturannya. Kemudian Amerika Serikat juga akan mengetatkan perusahaan-perusahaan [China] yang mau listing di sana," kata Ariston.

Mengingat kedua negara adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia, maka tidak dipungkiri ini akan berimbas pada kepercayaan para pelaku pasar terhadap aset-aset berisiko, seperti rupiah. Mau tidak mau, sentimen negatif dari isu Perang Dagang Amerika Serikat-China masih tetap akan membayangi pergerakan rupiah.

Ariston memperkirakan bahwa kekuatan rupiah hingga akhir tahun bisa berpotensi menguat ke level Rp14.000 per dolar AS. Sebaliknya, potensi untuk melemah berada di level Rp15.200 per dolar AS.

Adakah potensi kembali ke level terlemah di Rp16.000-an per dolar AS seperti pada bulan April?

"Probabilitasnya masih ada, cuman mungkin mengecil. Karena bank sentral, pemerintah, sudah merespon dan sudah mengantisipasinya," tutup Ariston.

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Badan Pusat Statistik | Statistika Kementerian Perdagangan | Trading Economics | Jakarta Interbank Spot Dollar Rate | CNBC Indonesia | Bisnis Indonesia

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini