Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta

Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta
info gambar utama

Kawan GNFI, nama Mak Lampir tentu tak ada yang tak mengenalnya di Indonesia. Tawanya yang terkekeh mengandung aura mistis akrab di telinga sejak era 80-an melalui sandiwara radio ''Misteri Gunung Merapi''.

Cerita radio itu kemudian diadaptasi ke layar lebar di era 90-an dengan judul ''Perempuan Berambut Api'' dan ''Cambuk Api''.

Kepopulerannya di layar lebar pun kemudian diteruskan melalui sinetron di era 2000-an dengan judul serupa, namun dalam latar era yang lebih modern.

Lantas, siapa sebenarnya Mak Lampir? Mengapa ia begitu terkutuk di mata pemirsa atau pendengar radio? Berikut kisahnya yang kami sarikan dari berbagai sumber.

Mak Lampir sang putri raja

Konon ceritanya, Mak Lampir merupakan seorang putri dari kerajaan kuno, yakni Champa (Chiem Thanh). Sebuah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam Tengah dan Selatan yang diperkirakan ada pada abad ke-7 hingga tahun 1832.

Menurut beberapa cerita, nama Mak Lampir sebenarnya adalah Siti Lampir Maimunah. Legenda Mak Lampir pun sebenarnya berasal dari Sumatra Barat.

Mitologinya cukup terkenal di beberapa wilayah di tanah Sumatra, sebut saja di Kabupaten Agam, Bukit Tinggi, tempat Gunung Merapi berdiri.

Legenda Mak Lampir juga dikaitkan dengan cerita legenda 7 Manusia Harimau yang juga berasal dari Sumatra Barat, sebagian Provinsi Bengkulu, dan Lampung.

Cinta Mak Lampir muda yang ayu dan pemalu

Semasa remaja, Mak Lampir adalah seorang gadis yang cantik, baik, dan sangat pemalu. Kemudian ketika dewasa ia jatuh cinta dengan seorang pemuda pengembara.

Sang pengembara itu dikenal dengan panggilan Datuk Panglima Kumbang, yang merupakan seorang bangsawan yang bergelar Datuk dan merupakan panglima dari alam kegelapan. Datuk Panglima Kumbang disebut dapat merubah wujudnya menjadi seekor macan kumbang atau harimau.

Cinta Mak Lampir pun tak bertepuk sebelah tangan, karena nyatanya sang Datuk pun menyukai Mak Lampir. Sayang, sejoli itupun harus menerima kenyataan jika hubungan keduanya tak mendapat restu, karena pihak kerajaan Champa mengetahui sang Datuk berasal dari kaum siluman, begitupun sebaliknya.

Sakit hati dengan kedua orang tuanya, Mak Lampir kemudian memutuskan untuk melarikan diri dan menyepi di kaki Gunung Merapi. Ia pun bertapa agar bisa masuk ke alam siluman dan menemukan pujaan hatinya. Sayang, upayanya belum membuahkan hasil.

Di dalam pertapaannya itu, kemudian Mak Lampir bertemu dengan seorang pertapa lain yang akhirnya menjadi gurunya dan membuatnya jadi wanita yang sangat sakti.

Guru Mak Lampir itu bernama Nenek Serintil, yang dikatakan cukup sakti mandraguna dari aliran hitam Anggrek Jingga.

Nenek Serintil dikisahkan adalah seorang pertapa berasal dari pulau Jawa yang memuja Batara Kala, sosok dewa yang disimbolkan sebagai raksasa yang berwajah menyeramkan.

Pengembaraan cinta berujung petaka

Karena telah memiliki kesaktian, akhirnya Mak Lampir kembali mencoba mencari sang pujaan hati, melalui penjelajahan ke alam siluman.

Hingga pada suatu hari Mak Lampir mendapat kabar bahwa sang Datuk tewas dalam sebuah pertempuran. Hancur sudah hati Mak Lampir mendengar sang pujaan hati meninggalkannya.

Namun dengan kesaktiannya, Nenek Serintil membekali Mak Lampir dengan sebuah ilmu yang mampu membangkitkan kaum siluman yang telah mati. Hanya saja, kecantikan mak lampir harus menjadi tumbalnya.

Mak Lampir pun akhirnya melakuan syarat itu dan berhasil membangkitkan Datuk Panglima Kumbang. Hanya saja, kini parasnya tak lagi ayu, namun berubah menjadi buruk rupa dan menyeramkan.

Meski dengan wujud buruk rupa dan menyeramkan, Mak Lampir berharap Datuk Panglima Kumbang tetap mencintainya dan menerimanya dengan tulus. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Pengorbanan yang dilakukan oleh Mak Lampir bertepuk sebelah tangan.

Sakit hati dengan perlakukan sang pujaan hati, akhirnya memicu dendam tak berkesudahan dalam diri Mak Lampir, dan berjanji akan terus memerangi kaum siluman dan Datuk Panglima Kumbang.

Pergi ke Jawa untuk bersekutu dengan jin

Untuk terus memerangi kaum siluman, Mak Lampir pun menggalang kekuatan dengan jin penguasa gunung Merapi di Jawa.

Selain untuk menggalang kekuatan dengan bangsa jin, tujuan pindahnya Mak Lampir ke pulau Jawa adalah untuk membuat ilmu yang dimilikinya menjadi semakin sempurna. Gunung Merapi di pulau Jawa ia jadikan pesemayaman dan mendirikan sebuah kerajaan gaib.

Mitiosnya, karena hal tersebut Mak Lampir bisa hidup hingga ratusan tahun dan tak bisa mati akan mengganggu umat manusia, terutama pasangan sejoli.

Kerajaan jin itulah yang diyakini oleh masyarakat sekitar yang membuat Gunung Merapi menjadi sangat angker dan menyeramkan.

Kisah Mak Lampir akhirnya menjadi salah satu mitos paling legendaris di Indonesia. Terlepas dari benar tidaknya cerita, namun nyatanya kultur dan budaya Indonesia hingga kini masih kental dengan kepercayan gaib.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini