Ketika Teknologi Mempermudah Pembelajaran Daring di Berbagai Penjuru Daerah Indonesia

Ketika Teknologi Mempermudah Pembelajaran Daring di Berbagai Penjuru Daerah Indonesia
info gambar utama

Tahun ajaran baru 2021/2022 resmi dimulai dengan euforia yang sama, para peserta didik yang memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi sejatinya selalu memiliki rasa antusias akan lingkungan pendidikan yang baru.

Sayangnya, situasi pandemi saat ini memaksa keadaan di sektor pendidikan untuk tetap bergantung pada sistem pembelajaran jarak jauh atau daring.

Di lain sisi, masih ada tantangan besar bagi siswa dan tenaga pengajar khususnya di luar daerah kota-kota besar, untuk tetap bisa menjalankan proses pembelajaran di tengah keterbatasan yang ada, terutama dalam hal teknologi.

Beruntung, hal tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah melalui Kemdikbudristek, yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi dunia yang memiliki kepedulian akan masa depan pendidikan berbasis teknologi di tanah air, terutama di tengah situasi pandemi, yaitu Google.

Terbukti berhasil dalam satu tahun ke belakang, program yang dilakukan atas kerja sama Kemendikbudristek dan Google nyatanya telah mempermudah sistem pembelajaran yang dilakukan oleh empat orang guru yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, dengan memanfaatkan berbagai layanan yang dimiliki dalam layanan Google Workspace for Education.

Sekadar informasi, Google for Education adalah layanan yang terdiri dari rangkaian produk atau alat digital milik Google, yang dapat menunjang kebutuhan dalam pembelajaran daring, di antaranya Google Classroom, Google Meet, Google Drive, dan masih banyak lagi.

Menilik Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Berbasis Teknologi di Tanah Air

Pemanfaatan teknologi di wilayah Indonesia bagian Timur

Pembelajaran berbasis teknologi di salah satu SMP wilayah Indonesia Timur (Dok. Google Indonesia)
info gambar

Cerita pembelajaran daring yang dipermudah berkat adanya teknologi dibagikan oleh Veronikus Littik, kepala sekolah dari SMP Negeri 12 Satarmese, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Veronikus mengungkap, bahwa di sekolah tersebut ada sebanyak 27 guru yang bertanggung jawab untuk mendidik 407 siswa secara daring di tengah situasi pandemi. Tentu ada banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya ketidakstabilan listrik, alur kerja yang ketinggalan zaman, dan perangkat rusak yang menurunkan produktivitas guru.

Dijelaskan bahwa terlalu banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi karena masalah teknis pada perangkat teknologi yang dimiliki. Selain itu, kondisi di mana hanya beberapa siswa yang memiliki telepon genggam juga menambah tantangan yang dimiliki dalam berkomunikasi saat pembelajaran daring.

Akhirnya, sekolah ini mendapat bantuan 15 unit Chromebook dari pemerintah beserta akses untuk layanan Google Workspace for Education, yang berhasil membantu para guru mempermudah sistem pengajaran kepada para siswa.

Dijelaskan bahwa beberapa layanan yang sangat membantu proses pembelajaran daring dari sekolah satu ini yaitu Google From yang digunakan untuk menilai pekerjaan siswa secara lebih efektif, dan komunikasi lebih mudah antara guru dengan siswa yang dilakukan melalui Google Chat.

Menggali Lebih Dalam Kondisi Pendidikan Indonesia

Keamanan dan kemudahan mengatur berkas penilaian di sekolah

Pembelajaran berbasis teknologi di SMP Negeri 1 Lingga Timur, Kepulauan Riau (Dok. Google Indonesia)
info gambar

Cerita lainnya juga dibagikan oleh tenaga pengajar yang berasal dari SMP Negeri 1 Lingga Timur, Kepulauan Riau. Seorang guru bernama Sholehan menjelaskan, bahwa ia bersama 11 guru lainnya kerap menghadapi berbagai masalah sebelum memiliki akses pembelajaran berbasis teknologi yang lebih mumpuni.

Adapun permasalahan yang dimaksud yaitu ketika para siswa mengirimkan tugas melalui aplikasi pesan manual, sehingga membebani penyimpanan ponsel yang dimiliki oleh para tenaga pengajar.

Selain itu, berkas tugas yang tidak dikumpulkan dalam satu folder menyulitkan guru untuk menilai pekerjaan para siswa. Sistem ujian yang masih menggunakan ponsel masing-masing siswa juga dinilai sulit diawasi sehingga memungkinkan para siswa mencari jawaban dari internet di tengah pelaksanaan ujian.

Google Classroom nyatanya hadir sebagai solusi dari permasalahan di atas, memiliki fitur yang membuat guru dapat memberikan materi dan tugas, melaksanakan pembelajaran virtual, memberikan penilaian, mengelola kelas, hingga membuat arsip dan laporan.

Selain itu dengan adanya mode terkunci pada formulir yang digunakan saat ujian, sekolah berhasil mengurangi kecurangan karena siswa tidak dapat membuka browser untuk mencari jawaban.

Upaya Operator Seluler Membantu Siswa dan Guru Menjalani PJJ

Solusi untuk sistem dan perangkat yang bermasalah

Pembelajaran berbasis teknologi di SD Negeri 161 Karya, Sulawesi Selatan (Dok. Google Indonesia)
info gambar

Manfaat lain yang didapat oleh tenaga pengajar dan siswa juga dialami oleh Eka Gustiani bersama dengan 9 guru lainnya, yang mengajar 151 siswa di SD Negeri 161 Karya, Sulawesi Selatan.

Sebelum adanya fasilitas Chromebook yang didapat dari pemerintah dan Google Workspace for Education, para guru menggunakan laptop pribadi dengan spesifikasi terbatas, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk membuka dokumen individual secara offline yang dikirim oleh siswa.

Lewat fasilitas baru dan teknologi mumpuni yang didapat, dijelaskan bahwa para guru tidak lagi mendapatkan keluhan tentang laptop atau file yang bermasalah, berkat kolaborasi berkas yang bisa diakses secara bersamaan pada Google Drive.

Buku Pintar, Warisan Ilmu Pengetahuan Sebelum Google Hadir

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini