Masalah Sampah di TN Kerinci Seblat dan Dampaknya pada Sektor Wisata

Masalah Sampah di TN Kerinci Seblat dan Dampaknya pada Sektor Wisata
info gambar utama

Siapa yang bisa menolak pesona Gunung Kerinci? Gunung tertinggi di Sumatra sekaligus gunung berapi tertinggi di Indonesia ini, bahkan menjadi salah satu dari sederet destinasi wisata yang paling diandalkan di Provinsi Sumatra Barat.

Sekilas informasi, Gunung Kerinci masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Dan faktanya, wilayah TNKS mendominasi lebih dari separuh wilayah administrasi Kabupaten Kerinci itu sendiri, yaitu sekitar 1.990 kilometer persegi dari total 3.328 kilometer persegi wilayah yang dimiliki.

Melihat keberadaan tersebut, tak heran jika pariwisata menjadi hal yang sangat diandalkan dari kabupaten satu ini. Dari sekian banyak destinasi yang ada, kawasan hutan dan Gunung Kerinci nyatanya jadi yang paling diandalkan dan banyak mengundang wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Kerap dijuluki sebagai 'Atap Sumatra', gunung yang memiliki ketinggian 3.805 mdpl ini memiliki kemegahan yang mampu mengundang rasa penasaran dan decak kagum para wisatawan. Mereka yang biasa melakukan kegiatan mendaki rela melalui medan yang sulit dan melelahkan demi menginjakkan kaki di puncak Gunung Kerinci.

Namun, sama halnya seperti kawasan wisata di berbagai penjuru Indonesia yang sudah pasti kerap didatangi jutaan pengunjung tiap tahunnya, ada satu permasalahan yang tak bisa dihindari dengan mudah, apa lagi kalau bukan sampah.

Gunung Papandayan, Kerentanan Sampah dari Pendaki dan Gerakan Zero Waste

Ancaman bagi penghasilan pariwisata dan keberlangsungan lingkungan

Sebagai kawasan wisata, TNKS termasuk di dalamnya wilayah hutan dan gunung sudah pasti memberikan dampak positif sebagai roda perekonomian bagi warga setempat yang menggantungkan kehidupannya dengan berjualan di sekitar kawasan wisata.

Selain itu, banyak juga masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya dengan membuka usaha yang berkaitan dengan kegiatan mendaki, seperti menjadi pemandu, pemilik homestay, hingga penyewaan peralatan pendakian.

Namun, di saat yang bersamaan dampak negatif yang ditimbulkan tak kalah besar, terutama terhadap permasalahan lingkungan.

Diketahui bahwa kumpulan sampah dapat secara mudah ditemukan di sepanjang jalur pendakian, shelter peristirahatan, titik sekitaran sumber air seperti sungai, hingga puncak Gunung Kerinci.

Bisa diduga, sampah yang berada di hampir setiap titik hutan dan Gunung Kerinci sudah pasti berasal dari sisa logistik para pendaki, di mana didominasi oleh kaleng gas berukuran kecil yang biasa digunakan untuk kegiatan memasak, kemudian ada juga plastik makanan dan bungkus mi instan, hingga pakaian yang sengaja dibuang karena kotor dan tak lagi layak pakai.

Seakan belum cukup, nyatanya tak sedikit pula ditemukan sampah pembalut yang dibuang oleh para pendaki wanita yang tidak bertanggung jawab.

Mirisnya, sebelum situasi pandemi melanda kondisi tersebut ternyata kerap mendapat banyak perhatian dan komplain dari berbagai wisatawan yang berasal dari mancanegara. Mereka ikut merasa prihatin dengan permasalahan sampah yang ada di hutan dan Gunung Kerinci.

Kondisi tersebut juga diyakini dapat memberikan pengaruh terhadap kunjungan wisatawan yang secara langsung memengaruhi perekonomian masyarakat sekitar.

Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam

Permasalahan dan kendala dalam menghadapi persoalan sampah

Aksi pungut sampah di Hutan Gunung Kerinci
info gambar

Dari segelintir permasalahan yang terjadi di berbagai Taman Nasional atau wilayah hutan dan gunung yang ada di Indonesia, kendala yang dihadapi dalam menyikapi persoalan sampah yang terjadi sebenarnya masih sama, yaitu tidak adanya pihak pengelola, dalam hal ini Balai Taman Nasional untuk membuat gerakan tegas menanggulangi sampah yang ada, sama halnya seperti situasi di kawasan TN Kerinci Seblat.

Mengutip Mongabay Indonesia, Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (BTNKS), mengaku masih memiliki kelemahan dari kelemahan dari sisi operasional.

Diungkapkan bahwa meski telah menetapkan aturan tentang membuang sampah, hal tersebut dirasa belum terlaksana secara menyeluruh dan tidak diikuti dengan pengawasan dan sosialisasi yang intensif oleh pihak yang berwenang.

Sedangkan dari sisi ketersediannya pun, kondisi sarana serta prasarana pengelolaan sampah di TNKS juga belum memadai baik dari jenis maupun jumlahnya.

Karena itu, tak heran jika selama ini aksi penindakan sampah yang sudah terlaksana kebanyakan dilakukan oleh berbagai pihak luar, dalam hal ini aktivis lingkungan seperti komunitas pencinta alam dan masyarakat.

Bahkan, pada tahun 2019 lalu penindakan keberadaan sampah di hutan dan Gunung Kerinci mendapat perhatian dan dukungan dari warga Belanda yang prihatin setelah melakukan pendakian di Gunung Kerinci, yang membuat mereka ikut dalam aksi pembersihan sampah selama tiga hari.

Aksi pembersihan yang juga diikuti oleh belasan porter dan pemandu lokal tersebut, dilakukan dengan penyusuran yang dimulai dari camp terakhir, hingga ke bawah pintu rimba.

Mereka yang berpartisipasi harus susah payah menyusuri jalur tebing yang banyak terdapat sampah akibat terbawa arus air. Kebanyakan sampah yang dibersihkan adalah sampah-sampah lama rentang waktu 1-5 tahun bekas logistik pendaki yang sulit terurai.

Setelah aksi pungut sampah selesai, 95 persen kondisi Gunung Kerinci akhirnya sudah bersih dari sampah.

"Sekarang dibutuhkan komitmen dan kesadaran dari pendaki untuk bersama-sama bertanggung jawab membawa sampah turun kembali," tegas Ferdi, koordinator yang memimpin aksi pungut sampah tersebut.

Deforestasi dan Sampah Plastik yang Dapat Mengganggu Ekosistem Kehidupan Hewan

Pendaki turun gunung tanpa bawa sampah, KTP bakal ditahan

Bersamaan dengan upaya pembersihan sampah secara rutin yang dilakukan oleh berbagai pihak, TNKS diketahui menerapkan suatu kebijakan demi mencegah penambahan sampah yang ada.

Disebutkan bahwa petugas TNKS saat ini telah memberlakukan jaminan KTP yang dititipkan di petugas saat akan melakukan pendakian ke gunung api tertinggi di Indonesia tersebut. Setelahnya, para pendaki diharuskan membawa kantong plastik dan membawa sampah pada saat turun ke pos penjagaan minimal satu kilogram per orang.

Adapun jika para pendaki Gunung Kerinci saat turun tidak membawa sampah, maka petugas akan menahan KTP yang ditinggalkan di pos penjagaan.

Hal tersebut otomatis mendapat respons positif dari salah satu anggota komunitas pencinta alam, yang kerap turut serta berpartisipasi dalam setiap aksi pungut sampah di Gunung Kerinci, yaitu Hendi. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap pendaki.

"Kalau gak mampu atau gak mau, ya nggak usah naik Gunung Kerinci," tandasnya dalam Metrojambi.com

Sampah di Gunung Gede Pangrango dan Dampaknya Pada Upaya Pelestarian Kawasan Konservasi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini