Kaleidoskop 2021: Beragam Kabar Baik dari Industri Pariwisata di Tengah Kondisi Pandemi

Kaleidoskop 2021: Beragam Kabar Baik dari Industri Pariwisata di Tengah Kondisi Pandemi
info gambar utama

Sejak kasus pertama teridentifikasi pada Desember 2019, pandemi Covid-19 nyatanya masih berlangsung hingga akhir tahun 2021 ini. Kehidupan di era pandemi tentu bukan hal yang mudah karena memiliki dampak besar, baik terhadap kesehatan dan perekonomian secara global.

Industri pariwisata termasuk salah satu sektor yang mengalami keterpurukan di masa pandemi. Penerapan kebijakan pembatasan sosial, imbauan untuk tetap berkegiatan dari rumah, dan berbagai aturan baru menyangkut perjalanan membuat orang sulit untuk bepergian untuk tujuan wisata.

Pengusaha di bidang pariwisata pun harus mengalami kesulitan di masa pandemi. Kunjungan wisatawan berkurang drastis otomatis berdampak langsung pada penurunan pendapatan yang berujung pada kerugian dan kebangkrutan. Banyak objek wisata yang biasanya selalu ramai, tampak begitu sepi.

Seiring berjalannya waktu, baik dari pihak pengelola tempat wisata, pengusaha sektor pariwisata, dan pemerintah sama-sama menyiapkan strategi untuk membangkitkan industri pariwisata. Vaksinasi Covid-19 yang mulai masuk ke Tanah Air pun menjadi momen pemulihan skala nasional dan menjadi angin segar bagi pariwisata Indonesia.

Perjalanan wisata sepanjang tahun ini mungkin agak berbeda dengan sebelum masa pandemi. Meski harus terseok-seok untuk kembali bangkit, rupanya ada banyak kabar baik dari dunia pariwisata selama 2021 ini.

Berikut rangkuman GNFI dalam Kaleidoskop 2021.

Upaya pemerintah bangkitkan pariwisata di masa pandemi

Bali | @Guitar photographer Shutterstock
info gambar

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan sektor pariwisata di tengah kondisi pandemi. Pihak Kemenparekraf menyiapkan infrastruktur dasar yang memiliki kaitan dengan konektivitas di sejumlah destinasi wisata hingga mengadakan pelatihan bagi para pekerja di sektor pariwisata.

Pemerintah juga menerapkan protokol CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) dengan tujuan keamanan dan kenyamanan pengunjung saat berwisata.

CHSE merupakan sebuah pedoman bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif meliputi jasa transportasi, penginapan, rumah makan, pusat informasi wisata, tempat menjual suvenir dan oleh-oleh, desa dan dusun yang jadi bagian dari lokasi wisata, dan seluruh destinasi wisata.

Kemenparekraf sempat membuat program untuk memulihkan ekonomi seperti wisata vaksin, Work From Bali, pembukaan wisata Bali, Travel Corridor Arrangement, dan beberapa acara di daerah. Namun, semua itu harus ditunda karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali pada 3-20 Juli 2021.

Pembatasan sosial yang berdampak masif pada pariwisata ini juga menjadi momen saat Kemenparekraf mengajukan bantuan hibah pariwisata ke komite PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) sejumlah Rp3,7 triliun.

Kaleidoskop 2021: Perkembangan Sains dan Teknologi yang Bangkitkan Kondisi Nasional

Perkenalan konsep wisata baru

Museum Tsunami Aceh | @Laudeiqbal Shutterstock
info gambar

Pada masa pandemi, kegiatan wisata mengalami perubahan dari sebelumnya. Namun di sisi lain wisatawan jadi bisa merasakan pengalaman liburan yang berbeda dari biasanya. Berikut beberapa konsep wisata baru yang bisa dicoba:

Tur virtual

Bagi yang tak memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan, kini tengah mengetren tur virtual. Setiap orang dapat ‘mengunjungi’ berbagai objek wisata hanya dengan modal gawai dan jaringan internet.

Di Indonesia, Kemenparekraf bekerja sama dengan situs Traval.co dan menyajikan wisata virtual dengan fitur video dan foto 360 derajat. Berbagai perusahaan wisata lokal pun meluncurkan situs untuk wisata virtual seperti Indonesia Virtual Tour dan Traveloka.

Sejak bulan April hingga September 2021, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi juga menggelar kegiatan tur virtual ke 26 Taman Nasional dan taman wisata alam di Indonesia. Tur ini bisa diakses melalui YouTube Direktorat PJLHK (Ayo ke Taman Nasional).

Dark tourism

Selain tur virtual, konsep wisata baru juga dikenal dengan nama dark tourism. Kegiatan wisata yang satu ini lahir dari kesedihan dan wisatawan akan diajak untuk mengunjungi tempat-tempat terjadinya tragedi atau peristiwa besar seperti perang hingga bencana. Dalam perjalanan wisata ini, pengunjung bisa belajar mengenai sejarah dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Contoh destinasi dark tourism di Indonesia antara lain Museum Sisa Hartaku di Yogyakarta, Museum Tsunami di Aceh, Tugu Peringatan Bom Bali di Bali, dan Monumen dan Museum Lubang Buaya di Jakarta.

Wellness tourism

Kemenparekraf juga mendorong pengembangan wellness tourism atau wisata kesehatan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Wisata kesehatan memiliki tujuan mempertahankan gaya hidup sehat, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan jiwa raga.

Yogyakarta, Solo, Bali, dan Tawangmangu merupakan daerah yang dikembangkan untuk wisata kesehatan dengan keunikannya masing-masing. Solo akan berfokus pada wisata herbal, jamu-jamuan, meditasi, aromaterapi, dan makanan sehat. Sementara itu, wisata kesehatan di Yogyakarta mengunggulkan tradisi pijat ala Jawa, meditasi, terapi seni, dan retret.

Di Bali, kegiatan wisata kebugaran dipadukan dengan unsur kebudayaan dan memiliki beberapa destinasi yang cocok, seperti kawasan Ubud, Karanganyar, Kintamani, Sanur, hingga Canggu. Untuk di Tawangmangu lebih fokus pada wisata herbal karena di sana ada sekitar 800 jenis tanaman herbal yang dibudidayakan.

Ekowisata

Ekowisata merupakan kegiatan wisata alam yang dilengkapi dengan tanggung jawab pada alam, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Tak hanya mengandalkan kondisi alam yang hijau, destinasi ekowisata juga harus memiliki nilai edukatif dan konsep berkelanjutan.

Di Indonesia ada beberapa destinasi ekowisata yang terkenal misalnya Tangkahan (Sumatra Utara), Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur), Raja Ampat (Papua Barat), Kawah Ijen (Jawa Timur), dan Pulau Nusa Penida (Bali).

Kaleidoskop 2021: Cerita Tentang Manusia dan Alam Sepanjang 2021

Pengembangan desa wisata

Desa Penglipuran Bali | @Godila Shutterstock
info gambar

Sepanjang tahun 2021 ini, Kemenparekraf juga tengah berfokus pada pengembangan desa wisata di Indonesia yang diyakini dapat menggerakan perekonomian masyarakat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa desa wisata punya potensi yang harus dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Konsep desa wisata harus memiliki beberapa unsur seperti objek wisata alam, budaya, wisata buatan, dan didukung dengan atraksi, akomodasi, fasilitas penunjang, dan mengangkat unsur kearifan lokal.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 , akan ada 224 desa wisata yang mendapat dukungan melalui pendampingan desa wisata. Pada tahun ini, ada 67 desa wisata yang akan disiapkan untuk pendampingan dan dibagi menjadi desa wisata berbasis alam, budaya, dan buatan.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap desa wisata, Kemenparekraf menyelenggarakan program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Ajang penghargaan ini dibuat untuk desa wisata dengan prestasi dan memenuhi kriteria penilaian sesuai standar Kemenparekraf.

Dengan tema “Indonesia bangkit” ADWI 2021 berharap dapat memberikan semangat pada pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata untuk bangkit di tengah kondisi pandemi.

Pada kesempatan kali ini, ada 1.831 desa wisata yang mengikuti ADWI 2021 dan telah terpilih 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Desa Wisata Huta Tinggi (Kabupaten Samosir), Desa Wisata Pulau Untung Jawa (Kabupaten Kepulauan Seribu), Desa Wisata Bonjeruk (Kabupaten Lombok Tengah), Desa Wisata Wae Rebo (Kabupaten Manggarai), dan Desa Wisata Arborek (Kabupaten Raja Ampat).

Pengembangan Desa Wisata di Sumba, Boyke Hutapea: Potensinya Bisa Lebih dari 100 Desa

Penghargaan bagi industri pariwisata Indonesia

Ubud | @Elena Ermakova Shutterstock
info gambar

Sepanjang tahun 2021, ada beberapa penghargaan yang diraih oleh industri pariwisata Tanah Air. Dimulai dari tiga pantai di Bali yang masuk dalam daftar 25 pantai terbaik di Asia tahun 2021 dalam kategori Travelers' Choice versi TripAdvisor.

Tiga pantai tersebut adalah Pantai Kelingking di posisi ke-4, Pantai Nusa Dua di posisi ke-21, dan Pantai Sanur menempati posisi ke-22.

Nama Pantai Kelingking kembali masuk dalam daftar 20 Pantai Terindah di Dunia versi Money.co.uk, sebuah media asal Inggris. Namun, kali ini Pantai Kelingking di Nusa Penida itu menempati posisi pertama dan mengalahkan pantai-pantai lain seperti Pantai Bondi (Australia), Pantai Tropea (Australia), Cala Saona (Spanyol), Durdle Door (Inggris), dan Pantai Lanikai (Amerika Serikat).

Masih dari Pulau Dewata, ada pula penghargaan yang diberikan TripAdvisor pada Koral Restaurant dalam daftar Top Picture-Perfect Restaurants 2021 dan merupakan bagian dari Travelers’ Choice Best of the Best 2021. Hal yang membanggakan adalah Koral Restaurant menempati peringkat teratas.

Dalam keterangan TripAdvisor, restoran yang berada di hotel The Apurva Kempinski Bali ini memiliki suasana akuarium yang memukau, dilengkapi dengan makanan yang luar biasa dan layanan terbaik. Restoran ini berlokasi di kawasan elite Nusa Dua dan memiliki konsep underwater restaurant pertama di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara.

Juru masak di restoran ini pun tak sembarangan, yaitu Chef Andrea Astone asal Italia dengan pengalaman bekerja di restoran Michelin bintang dua di Lyon, Prancis.

Selain pantai dan restoran, ada pula hotel di Ubud, Bali, yang menerima penghargaan bergengsi dari majalah Travel and Leisure. Tahun ini, Capella Ubud Bali menempati peringkat pertama dalam World Best 2021: Best Resorts Hotel in Asia. Penghargaan ini rupanya didapatkan Capella Ubud Bali dua tahun berturut-turut.

Tak hanya hotelnya, nama Ubud pun berada di peringkat keempat dalam daftar 25 Kota Terbaik di Dunia Tahun 2021 versi Travel and Leisure. Posisi Ubud unggul dibandingkan pesaingnya seperti Kyoto (Jepang), Florensia (Italia), Mexico City dan Oaxaca (Meksiko), serta Chiang Mai dan Bangkok (Thailand).

Kabar baik pun terus bermunculan sampai di penghujung tahun 2021 ini. Pada awal Desember, Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) mengumumkan penghargaan Best Tourism Village 2021 kepada 44 desa dari 32 negara di dunia. Salah satunya adalah Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia, Desa Nglanggeran berhasil lolos penilaian UNWTO. Desa wisata ini dikenal dengan potensi wisatanya seperti Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Air Terjun Talang Purba, Kampung Piyu, dan Air Terjun Kedung.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini