Sosok Pelestari Musik Sunda Asal Inggris Itu Bernama Simon Cook

Sosok Pelestari Musik Sunda Asal Inggris Itu Bernama Simon Cook
info gambar utama

Masyarakat Indonesia yang aktif mengikuti perkembangan di dunia seni khususnya musik tradisional pasti masih ingat dengan sosok Pete Smith, pria asal Inggris yang memiliki kecintaan terhadap gamelan Jawa, dan menghabiskan sekitar 20 tahun hidupnya untuk mempelajari sekaligus menjadi pengajar dan pelestari kesenian tersebut baik di Indonesia maupun negara asalnya.

Tidak jauh berbeda dengan Smith, cerita mengagumkan serupa juga dimiliki oleh warga asing yang memiliki rasa kecintaan tak kalah besar terhadap kesenian dan budaya Indonesia, yakni Simon Cook. Jika Smith lebih cenderung menekuni gamelan Jawa, lain halnya dengan Simon yang lebih condong ke gamelan Sunda.

Lain itu tidak hanya menekuni seni musiknya, Simon dapat dibilang telah menjadi bagian dari budaya Sunda itu sendiri karena dirinya telah mempelajari dan mencintai berbagai hal mulai dari bahasa hingga makanan tradisional, yang sudah lekat dengan kehidupannya sehari-hari.

Bagaimana awal mula Simon bisa memiliki ketertarikan yang mendalam dengan kesenian dan budaya Sunda?

Simak Cerita Dedikasi Pria London Ini pada Gamelan Jawa

Pakar etnologi musik yang terpikat gamelan

Simon Cook
info gambar

Sebelum mengenal gamelan, diketahui jika Simon dulunya adalah seorang pengajar musik yang memang gemar mendalami berbagai jenis alat musik unik yang jarang dimainkan di depan khalayak umum, misalnya saja theremin, claviola, melodica, dan zanzithophone.

Sebenarnya pengenalan Simon terhadap alat musik gamelan juga dimulai dari gamelan Jawa pada tahun 1979. Saat belajar di Yogyakarta, dirinya bertemu dengan seorang tokoh gamelan bernama Sri Hastanto--yang kini sudah wafat--, dan disarankan untuk mempelajari musik tradisional dari daerah lain.

Terpikat dengan musik yang masih serupa, Simon kemudian tertarik dengan gamelan Sunda yang memiliki ciri khas berupa kecapi dan suling. Akhirnya setelah menghabiskan sekitar dua setengah tahun di Yogyakarta, ia pindah ke Bandung dan mendalami gamelan Sunda di Kota Kembang.

Selama mendalami tentang gamelan Sunda pula, Simon diketahui belajar langsung dari para pakar atau empu yang saat ini telah tiada, beberapa di antaranya Uking Sukri dan Entis Sutisna.

"Guru-guru saya banyak yang sudah gak ada sebenarnya. Waktu saya ke Bandung di awal 1990-an, saya cari empu-empu yang sekarang sudah meninggal," ujar Simon, mengutip BBC Indonesia.

Makna Kehidupan di Balik Gamelan Jawa

Kemahiran yang diakui penembang Sunda asli

Simon Cook
info gambar

Ingin mendalami ilmu kesenian Sunda dengan serius, Simon diketahui menimba ilmu secara langsung dengan belajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yang dulunya masih bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Berkat menjalani kesempatan tersebut dirinya memiliki banyak relasi dari kalangan para pegiat seni yang hingga saat ini juga dikenal sebagai pengajar hingga penembang Sunda asli, salah satunya dosen dan Ketua Jurusan Karawitan ISBI Bandung, Lili Suparli.

"Dia sangat mahir gamelan Sunda, terutama gamelan degung dan gamelan-gamelan lain, juga memainkan sulingnya sangat bagus, apalagi nembang juga dia bisa, dia bermain rebabnya juga bisa, kan itu rebab dikategorikan waditra atau instrumen boleh dikatakan cukup sulit, tapi dia mampu memainkan itu sebagai orang Inggris…" ujar Lili.

Masih menurut sumber yang sama, sementara itu teman kuliah lainnya saat di ISBI dulu yakni Hendrawati Ashworth, memberikan pengakuan jika dicermati kemahiran Simon dalam menguasai musik gamelan Sunda dianggap bisa membuat orang Sunda malu sendiri karena tidak memiliki kemampuan layaknya Simon.

"Ketika Pak Simon main musik Sunda, dilihat dari keterampilan dalam memainkan musik Sunda seperti orang Sunda asli. malah orang Sunda asli belum tentu bagus main musik Sundanya," ujar Hendrawati.

Seniman Gamelan yang Membuat Amerika Terkesan

Mengenalkan dan melestarikan gamelan Sunda di Inggris

Simon Cook dan kelompok gamelan Sunda di Inggris
info gambar

Setelah kembali ke Inggris, Simon kini diketahui melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan dan melestarikan berbagai hal tentang budaya Sunda termasuk alat musik gamelan ke kampung halamannya tersebut.

Ia bersama teman-temannya yang terdiri dari peneliti, dosen, dan musisi gamelan diketahui mendirikan kelompok Gamelan Sekar Enggal di Inggris, dan rutin berlatih gamelan setidaknya dua kali dalam seminggu pada masa pandemi sejak dua tahun terakhir.

“Abdi atoh pisan tiasa neraskeun budaya Sunda di Inggris ieu (Saya senang sekali bisa meneruskan budaya Sunda di Inggris)” ujar Simon.

Selain itu, Simon juga diketahui mengajar gamelan di sekolah internasional Pusat Budaya Bracknel dan Royal Holloway, University of London. Pengetahuannya akan musik Sunda juga ia tuangkan dalam sebuah buku yang kini banyak menjadi rujukan bagi para etnomusikolog di Inggris.

Terlepas dari kecintaannya terhadap budaya Sunda yang tidak hanya ditujukan kepada gamelan, melainkan juga bagian lain seperti bahasa dan makanan tradisional, rupanya hal tersebut dapat dikatakan sudah mandarah daging karena dirinya memiliki pasangan hidup yang asli berasal dari orang Sunda.

Sang istri yang diketahui akrab dipanggil Ceu Oom, justru mengaku tidak semakin mahir menguasai bahasa Inggris meski telah lama tinggal di sana, hal tersebut lantaran Simon lebih terbiasa berbicara menggunakan bahasa Sunda selama di rumah.

Sementara itu jika bicara mengenai hal yang tidak dapat dilupakan selama tinggal di Indonesia khususnya Bandung, Simon mengakui jika dirinya sangat menyukai makanan lalapan Sunda.

“Lihat saja perut saya besar begini, pasti (karena) makanan, bukan kena hati tapi kena perut” candanya sambil diselingi tawa.

Meski sudah mendalami musik gamelan Sunda selama lebih dari 10 tahun, Simon tetap merasa jika ilmu yang dimiliki masih sangat sedikit. Namun ke depannya, ia mengaku akan terus menekuni apa yang saat ini sedang dijalani.

“Mudah-mudahan banyak yang senang dan mau mengikuti belajar kesenian Sunda. Mudah-mudahan akan diteruskan (dilestarikan)” pungkas Simon.

Penuh Antusias, 300 Pelajar dan Guru di Prancis Ikuti Pelatihan Alat Musik Gamelan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini