Menelusuri Hubungan Erat Antara Kebangkitan Nasional dengan Bakti Dokter Indonesia

Menelusuri Hubungan Erat Antara Kebangkitan Nasional dengan Bakti Dokter Indonesia
info gambar utama

Masyarakat Indonesia umumnya mengenali tanggal 20 Mei sebagai momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sebagaimana yang tercatat dalam daftar hari penting dari Perpusnas.

Namun, belum banyak yang mengetahui, jika di tanggal sama juga menjadi peringatan dari hari penting lain yang berakitan dengan Harkitnas, yakni Hari Bakti Dokter Indonesia. Sebagian mungkin bertanya-tanya, apa kaitan antara Harkitnas dengan Hari Bakti Dokter Indonesia.

Nyatanya, kedua peringatan ini terhubung dari cikal-bakal sebuah instansi yang membentuk baik organisasi Budi Utomo sebagai pencetus gerakan kebangkitan nasional, dan instansi pendidikan kedokteran tertua di Indonesia saat ini, yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bagaimana detail keterkaitan antara keduanya?

Jogja jadi Embrio Kebangkitan Nasional, Sultan HB X Wajibkan Lagu Indonesia Raya

Sekolah kedokteran tertua STOVIA

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Pribumi, adalah instansi pendidikan kedokteran yang ada di Indonesia pada zaman kolonial Belanda.

Keberadaannya sendiri sebenarnya sudah hadir sejak tahun 1849, namun masih menggunakan sejumlah nama yang berbeda, mulai dari Sekolah Dokter Djawa, hingga School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen yang artinya Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi.

Nama STOVIA baru digunakan pada tahun 1898, yang menurut catatan riwayat di laman FK UI kala itu mengharuskan pendidikan kedokteran ditempuh selama 7 tahun lamanya.

STOVIA berperan dalam gerakan kebangkitan nasional karena nyatanya, pencetus dari organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo), merupakan kalangan cendekiawan, alumni, hingga para siswa yang masih menimba ilmu di STOVIA.

Beberapa tokoh kunci yang memprakarsai berdirinya organisasi Budi Utomo adalah dr. Soetomo, yang kemudian dikenal sebagai Dokter penggerak Kebangkitan Nasional, dr. Cipto Mangunkusumo, Gunawan, Suraji, dan R.T. Ario Tirtokusumo.

Hari Kesehatan Dunia, Peran Dokter dalam Perjuangan Kemerdekaan

Hadirkan cara baru dalam membangkitkan perjuangan

Salah satu ruang di Museum Kebangkitan Nasional
info gambar

Budi Utomo yang terbentuk pada tahun 1908 sendiri menjadi organisasi pertama yang diyakini membawa perubahan besar dalam gerakan perjuangan Indonesia. Jika sebelumnya perjuangan selalu dilakukan dalam bentuk perlawanan fisik, namun dengan adanya organisasi ini perjuangan mulai dilakukan dengan cara diplomatis melalui sebuah organisasi resmi.

Mengutip Detikcom,hadirnya organisasi ini juga telah berhasil menyelaraskan perjuangan yang tadinya masih bersifat kedaerahan, menjadi lebih menyatu dan bersifat nasional. Karena itu, tak heran jika pembentukan organisasi Budi Utomo akhirnya menjadi latar belakang situasi yang diperingati sebagai momentum Kebangkitan Nasional.

Jika menelusuri makna namanya, Budi Utomo sendiri berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu bodhi atau budhi yang berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, atau pengadilan. Sementara Utomo berasal dari perkataan Jawa yaitu utama, yang dalam bahasa Sansekerta berarti tingkat pertama atau sangat baik.

Sehingga jika dipahami secara menyeluruh, pembentukan organisasi Budi Utomo memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui pendidikan dan kebudayaan. Bukan lagi melalui cara konflik fisik yang banyak dilakukan sebelumnya.

Dan terbukti, setelah organisasi Budi Utomo terbentuk mulai banyak ikut bermunculan organisasi-organisasi serupa yang tumbuh dan mulai mencakup persatuan secara nasional, bukan lagi kedaerahan.

Beberapa di antaranya organisasi Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, Indische Partij, Muhammadiyah, dan lain sebagainya.

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Museum

Kaitan Harkitnas dan Bakti Dokter Indonesia

Pada akhirnya setelah ditelusuri secara ringkas, Harkitnas dan Hari Bakti Dokter Indonesia sendiri memang memiliki hubungan yang erat, meski keduanya disahkan dalam kurun waktu yang cukup berjauhan.

Harkitnas sendiri telah ditetapkan oleh Presiden pertama RI Soekarno pada tahun 1959, sementara itu Hari Bakti Dokter Indonesia juga memilih tanggal 20 Mei untuk penetapannya setelah disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008.

Budi Utomo yang menjadi titik awal perjuangan secara diplomasi untuk lepas dari penjajahan, dalam perjalanannya menjadi institusi pembelajaran bagi remaja-remaja pribumi. Sementara itu STOVIA yang menjadi cikal-bakal pendidikan dokter di Indonesia sendiri menjadi wadah untuk mereka dalam menumbuhkan semangat nasionalisme.

Di saat bersamaan, hari Bakti Dokter Indonesia sendiri bertujuan untuk mengenang jasa-jasa dokter pendiri organisasi Budi Utomo, yang menggerakkan kebangkitan nasional. Dan di masa kini, para dokter yang meneruskan jejak pendahulu lulusa STOVIA di masa lampau, diharapkan dapat meneruskan semangat kebangkitan nasional dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka di bidang kesehatan.

Kebangkitan Nasional: Mengingat Kembali Semboyan Negara Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini