Kenapa Ponsel Google Pixel Tidak Dijual Resmi di Indonesia?

Kenapa Ponsel Google Pixel Tidak Dijual Resmi di Indonesia?
info gambar utama

Kawan GNFI, sebagai pemilik sistem operasi (OS) Android, Google juga merilis beberapa ponsel yang mereka peruntukkan untuk menjalankan OS Android secara absolut. Varian produknya lazim dikenal dengan nama Google Pixel.

Tentu saja, layanan ponsel Google Pixel tak akan sama dengan ponsel-ponsel dari merek lain yang menjalankan OS serupa. Ada beberapa layanan Google Mobile Service (GMS) yang ada pada varian Pixel, namun tak disematkan pada ponsel lain. Google Cloud Service misalnya.

Meski begitu, pada awalnya Google memang bekongsi dengan beberapa produsen ponsel untuk menerapkan OS Android absolut ini. Sebut saja Samsung, HTC, Motorola, Huawei, dan LG, melalui produk ponsel bernama Google Nexus.

Lantas jika demikian, mengapa Google tak menjual ponselnya secara resmi di Indonesia? Mengingat Indonesia menjadi salah satu pasar ponsel terbesar di dunia.

Dalam catatan Newzoo, pada 2019 Indonesia masuk peringkat ke-6 sebagai negara dengan jumlah pengguna ponsel terbanyak di dunia dengan 73 juta pengguna, satu tangga di atas Jepang (70 juta pengguna).

Pengguna ponsel terbanyak di dunia 2019

Sebab ponsel Google Pixel tak dijual resmi di beberapa negara

Terkait soal penjualan ponsel Google Pixel, ternyata ada alasan tersendiri mengapa beberapa negara--termasuk Indonesia--tak mengizinkan ponsel canggih ini dijual secara resmi.

Seperti diberitakan HiTekno, ada salah satu fitur yang bernama Motion Sense yang bekerja layaknya radar tertanam pada ponsel Google Pixel.

Fitur ini dianggap sebagai penyebab masalah kurang diterimanya ponsel Google Pixel pada beberapa negara, terkait lisensi spektrum pada fitur tersebut yang bekerja melalui frekuensi 60 GHz.

Untuk menggunakan fitur itu pada sebuah ponsel yang dijual pada beberapa negara tujuan, produsen/vendor harus meminta izin kepada negara tujuan pasar. Nah, itulah yang menjadi kendala.

Indonesia, India, dan Jepang, tak berkenan fitur itu hadir dalam sebuah ponsel yang dijual di negaranya.

Meski demikian, salah satu upaya Google untuk bisa mendapat pasar di negara tujuan tersebut adalah dengan mematikan fitur itu, seperti yang akan mereka lakukan untuk varian Google Pixel 4 di pasar Jepang dan India.

Bagaimana dengan Indonesia sebagai pasar ponsel yang cukup moncer? Belum ada alasan apapun dari Google.

Peluncuran Google Pixel 4a

Secara umum, Selasa (4/8/2020) Google telah resmi meluncukan ponsel anyarnya yakni Pixel 4a, yang merupakan versi dengan banderol terjangkau dari varian Pixel 4 sebelumnya--Pixel 4 dan Pixel 4 XL--yang hadir pada Oktober 2019.

Ponsel ini tampil dengan layar yang membentang seluas 5,81 inci berteknologi OLED dengan resolusi Full HD+ 1080x2340 piksel dan menawarkan aspek rasio 19,5:9 serta refresh rate 60 Hz.

Pada layar itu terdapat kamera selfie berlensa 8 MP dengan sensor Sony IMX355 dan dukungan fitur stabisasi pengambilan video (EIS).

Pada bagian belakangnya, Google hanya memberikan kamera tunggal beresolusi 12.2MP dan LED flash dalam modul berbentuk persegi seperti kepunyaan Pixel 4 dan Pixel 4 XL. Selain itu Google masih menggunakan pemindai sidik jari konvensional yang ditempatkan di bagian belakang.

Kamera ini dibekali dengan fitur ikonik untuk pemotretan malam hari, alias Night Sight dengan fitur Astrophotography (fotografi antariksa), Portrait Mode, fitur Top Shot yang mampu memilih hasil jepretan terbaik, Live HDR+, Super Res Zoom, serta fitur OIS yang mampu meredam guncangan ketika merekam video.

Sementara untuk performanya, Pixel 4a ditenagai dengan chipset Snapdragon 730G serta dipadukan dengan RAM 6 GB dan memori internal 128 GB.

Baterai ponsel ini berkapasitas 3.140 mAh dan mendukung pengisian cepat 18 watt serta fitur Power Delivery 2.0 melalui port USB-C.

Pixel 4a hanya tersedia dalam satu varian warna, yakni hitam. Harganya dipatok di angka 349 dolar AS atau sekira Rp5,1 jutaan dan akan mulai dikapalkan pada 20 Agustus.

Ponsel ini juga akan tersedia di Inggris, Irlandia, Jerman, Australia, Jepang, Kanada, dan India pada bulan Oktober 2020.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini