Apakah Google Pixel 6-series Bisa Laku Saat Dijual Resmi di Indonesia? Mestinya Bisa

Apakah Google Pixel 6-series Bisa Laku Saat Dijual Resmi di Indonesia? Mestinya Bisa
info gambar utama

Bagi Anda yang kerap memerhatikan kabar soal kemunculan ponsel-ponsel baru, tentu sudah tahu jika Google sudah merilis ponsel teranyar mereka (20/10/2021), yakni Google Pixel 6-series (Pixel 6 dan Pixel 6 Pro).

Sebagai pengguna ponsel google dari generasi Nexus (Google Nexus) hingga Pixel series (Google Pixel), saya sedikit ‘baper’ karena Indonesia lagi-lagi tak masuk daftar penjualan ponsel flagship anyar Google tersebut.

Memang, tak ada sejarahnya varian Google Pixel dijual secara resmi di Indonesia. Tapi, inilah momentum Google untuk unjuk gigi di belantara ponsel flagship yang dijual di Indonesia. Terlebih dengan penyematan cipset buatannya (Tensor), yang masuk dalam daftar ke-7 cipset ponsel paling powerful di tahun 2021.

cipset powerful 2021
info gambar

Padahal Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar Google, mengingat jumlah pengguna internet yang terus melonjak saban tahunnya.

Merujuk data World Bank dan Google, pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia pada periode 2015-2020 menjadi yang paling pesat se-ASEAN. Dari 92 juta pengguna pada 2015 menjadi 215 juta pengguna pada 2020.

Bahkan data Newzoo yang diolah Katadata, disebutkan pada 2020 Indonesia menempati peringkat ke-4 pengguna ponsel terbanyak di dunia, dengan catatan 160,23 juta pengguna, selangkah di bawah AS. Penetrasi pengguna ponsel di Indonesia juga disebut telah mencapai 58,6 persen dari total populasi.

pengguna ponsel di dunia
info gambar

Tuh, pasar yang gurih, bukan?

Di beberapa negara—termasuk Indonesia—media dan para konten kreator kategori teknologi juga memberikan apresiasi dengan me-review dan mengomparasi antara cipset debutan Google ini dengan cipset anyar besutan Apple (A15 Bionic) yang tertanam pada iPhone 13-series.

Wajar saja, karena keduanya sama-sama memiliki fabrikasi cipset 5-nanometer (5 nm) berbasis 5G.

Itu artinya, awareness terhadap ponsel anyar Google ini sudah bukan ‘kaleng-kaleng’ lagi bagi para pengguna ponsel di dunia—tak terkecuali di Indonesia—untuk mengetahui lebih detail produk ponsel Google yang satu ini.

Dari ingar-bingar tersebut, sayang seribu sayang jika Google tak merilis ponselnya secara resmi di Indonesia, mengingat spesifikasi yang ditawarkan tentu ada potensi ponsel ini bisa moncer di Indonesia.

Google tak serius jualan ponsel dan memperluas market? Gak juga

pengguna google pixel 6
info gambar

Jikalau ada yang bilang Google tak serius jual produk ponsel, sepertinya anggapan itu kurang tepat. Pertengahan tahun lalu (Juni 2020), Francisco Jeronimo yang menjabat associate VP for European devices dari lembaga riset International Data Corporation (IDC), melampirkan hasil temuan di akun twitternya yang menyebut bahwa ada pertumbuhan signifikan pada pengapalan ponsel Pixel.

Pada medio 2019, Google telah mengirimkan 7,2 juta unit ponsel (0,4 persen dari market share dunia), dengan catatan petumbuhan 52 persen ketimbang tahun sebelumnya (2018), untuk pasar AS, Eropa Barat, dan Jepang.

Catatan itu bahkan menyalip salah satu jenama ponsel populer Tiongkok, OnePlus. Meski demikian, penjualan Pixel masih jauh dari jajaran 10 besar ponsel paling laris di dunia. Demikian tulis Ars Technica.

penjualan google pixel
info gambar

Sejatinya, produk ponsel Google--yang berbasis android tentunya--memang diciptakan untuk mendukung performa UI/UX dan keamanan (security) penggunanya. Soal keamanan, tentu saja Google merancangnya secara optimal dan berlapis pada perangkatnya.

Lain itu, pembaruan sistem operasi (OS update) maupun pembaruan keamanan (security update), ponsel Google adalah yang paling pertama hadir, baru kemudian muncul pada ponsel-ponsel berbasis android lainnya.

Misalnya OS teranyar Google, yakni Android 12, maka para pengguna Google Pixel-lah (Pixel 3-series ke atas) yang pertama kali bisa mencicipinya. Bahkan pada varian Pixel 6-series yang baru dirilis, sudah terinstal Android 12 secara default.

Pada beberapa varian Pixel sebelumnya (Pixel 1-5), pembaruan OS dan security update yang disediakan rata-rata mencapai 3-4 tahun. Beda dengan ponsel-ponsel android lain yang hanya mendapatkan 2-3 tahun pembaruan OS.

Misal pada varian Pixel 3-series yang dirilis pada Oktober 2018. Saat pertama kali ponsel ini dirilis, maka sudah terinstal android 9.0 Pie, dan terus menerima pembaruan OS dan keamanan tiap tahunnya, yakni android 10 (2019), android 11 (2020), dan android 12 (2021, yang merupakan pembaruan OS terakhir untuk varian ini).

Bahkan kabarnya, untuk varian Pixel 6-series akan mendapatkan security update selama 5 tahun ke depan, yang artinya ponsel ini masih sangat ideal—keamanannya--untuk digunakan sepanjang periode 2021-2026.

“Pengguna masih akan mendapatkan setidaknya 3 tahun pembaruan OS, setelah itu kami berkomitmen untuk memastikan bahwa Pixel akan tetap up-to-date dan aman,” begitu kata Google pada The Verge.

Dari penjelasan tadi, jelas terlihat jika Google membuat ponsel secara serius, untuk kebutuhan serius, dan untuk pasar yang tak main-main.

Lantas, jika isunya soal harga, apakah ponsel ini cukup affordable jika dijual di Indonesia? Berapa banyak masyarakat Indonesia yang cukup tajir untuk membeli ponsel berbanderol belasan hingga puluhan juta rupiah? Sepertinya tak sedikit.

Saya mencoba menelusuri terkait harga ponsel Pixel 6-series ini melalui jastip (jasa titip) atau importir, baik dari media sosial atau eCommerce (toko online) di Indonesia.

Di toko online, beberapa penjual memberlakukan pra-pemesanan (pre-order/PO) Pixel 6-series dengan banderol antara Rp15-20 juta. Sementara di salah satu grup di Facebook, ada yang menjual mulai dari Rp12 jutaan, harga itu sudah termasuk pajak impor dan pendaftaran IMEI di Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Boleh jadi, harga-harga tadi setara dengan ponsel-ponsel flagship lain yang secara resmi sudah dijual di Indonesia, sebut saja Samsung, Xiaomi, Oppo, Huawei, bahkan iPhone.

Dari hasil penelusuran itu, ternyata yang memesan Google Pixel 6-series pun tak sedikit. Jadi, bayangkan saja jika dijual tak resmi saja cukup laris, bagaimana jika dijual secara resmi? Ada potensi, bukan.

Pendek kata, isu soal harga sepertinya bukan alasan Pixel 6-series tak bisa masuk ke Indonesia secara resmi. Jika ada yang bilang kemahalan, nampaknya segmentasi pasar Pixel 6-series bukan untuk kaum ‘mending-mending’.

Lanjut...

Bukan ponsel kelas medioker

Bicara soal fitur ponsel, terutama dari sektor fisik dan kamera, nyatanya Pixel 6-series tak kalah dengan jajaran ponsel-ponsel flagship lainnya. Bahkan bisa dibilang kelas Pixel 6-series mengincar para pengguna smartphone experience.

Spesifik membahas soal bodi ponsel Pixel 6-series, mungkin inilah ponsel Google paling radikal yang pernah dibuat.

Jika sebelumnya ponsel-ponsel Google Pixel hanya dilengkapi fitur pemindai sidik jari secara fisik (di bagian belakang ponsel), kali ini Pixel 6-series hadir dengan pemindaian sidik jari di bawah layar (under display fingerprint).

Memang, untuk yang satu ini--sidik jari bawah layar--teknologinya cukup tertinggal, karena ponsel-ponsel lainnya telah menggunakan teknologi ini rata-rata sejak 2019.

Tapi ada hal lain yang cukup signifikan terkait Pixel 6-series ini, yakni soal layar LTPO Amoled dengan refresh rate 120Hz QHD+ 6,71 inci pada varian Pixel 6 Pro, dan inilah ponsel Pixel dengan ukuran layar paling jumbo di antara generasi Pixel lainnya.

Sementara untuk varian Pixel 6, dibekali layar Amoled 90Hz QHD+ 6,4 inci. Layar kedua varian itu tentu diproteksi Gorilla Glass Victus.

pixel 6 pro
info gambar

Untuk varian Pixel 6 Pro--seri paling mahal, Anda akan menemui fisik layar yang melengkung (edge) pada sisi kiri dan kanan ponsel.

Lalu pada bagian belakang ponsel, bakal ditemui tampilan housing kamera yang unik, dengan bekal 3-kamera yang masing-masing dibekali sensor utama sudut lebar, ultrawide, dan lensa telefoto (4x optical-zoom). Google mengklaim, sensor sudut lebar utama mengambil 150 persen lebih banyak cahaya.

Jika Anda kurang paham dengan kalimat terakhir tadi yang menggambarkan soal komposisi sensor dan cahaya, coba merujuk paparan laman PC. Ditulis di sana, setidaknya varian Pixel 6 Pro masih bisa ‘baku hantam’ soal hasil kamera dengan Samsung S21 Ultra dan iPhone 13 Pro Max.

pixel 6
info gambar

Steven Winkelman—penulis PC--menyebut, Pixel 6 Pro cukup mumpuni bagi pengguna yang menginginkan foto point-and-shoot yang solid, karena sensor kameranya dapat bekerja dengan baik dalam skenario pencahayaan apapun.

Fitur kamera ponsel ini juga memudahkan untuk menghapus objek yang tak diinginkan—melalui fitur Magic Eraser, dan memungkinkan Anda membuat beberapa penyesuaian kecil dalam memotret.

Mengapa saya membahas kamera? Karena salah satu alasan orang membeli ponsel dengan banderol mahal karena ingin mendapatkan hasil pemotretan yang ciamik, dan tentunya lengkap dengan fitur-fitur pendukung.

Soal fitur-fitur selain kamera, tentu Anda bisa mencari di laman Google dan YouTube, banyak sekali yang membahas tentang hal itu.

Jika melihat ekosistem Google di Indonesia, jangan ditanya

pembelajaran machine leraning
info gambar

Dari paparan di atas, sepertinya ideal jika ponsel ini masuk secara resmi di Indonesia. Tentunya tak hanya dikaitkan soal spesifikasi dan harga ponsel, tapi juga merujuk populasi dan ekosistem yang dijalankan Google di Indonesia, semisal layanan Cloud, fitur kecerdasan buatan (AI), machine learning, dst.

Nah, ekosistem Google di Indonesia juga sejatinya sudah cukup kuat.

Pada Juni 2020, Google resmi mengoperasikan layanan Cloud pertamanya di Indonesia. DKI Jakarta dipilih menjadi region pertama untuk Google Cloud Platform (GCP) di Indonesia, dan ke-9 di Asia Pasifik.

Google Cloud adalah platform layanan komputasi awan yang ditawarkan oleh Google. Region Jakarta diluncurkan dengan disertai kemasan layanan standar Google, yakni Compute Engine, Google Kubernetes Engine, Cloud SQL, Cloud Storage, Cloud Spanner, Cloud Bigtable, dan BigQuery.

Lain itu, di ajang Google Science Fair 2019, salah satu anak muda terbaik Indonesia juga berhasil menjadi salah satu dari 5 penerima penghargaan di ajang itu.

Sebelumnya pada Oktober 2017, Google Indonesia juga secara resmi telah menjalin kemitraan dengan Gerakan Nasional 1.000 StartUp Digital melalui sebuah kegiatan mentoring dan diskusi gratis. Perserta dari program ini juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Hal yang paling erat menggambarkan hubungan Google dengan Indonesia yang cukup 'mesra' adalah, Google telah menerapkan bahasa Jawa dan Sunda sebagai media komunikasi yang bisa dipakai penggunanya di Indonesia.

Suara dengan bahasa Jawa dan Sunda itu dapat digunakan di aplikasi Google App, Google Translate, dan Gboard di ponsel android.

Dengan begitu, pengguna yang aktif berbahasa Jawa dan Sunda dapat mengakses informasi pada produk layanan Google itu dengan mudah. Mereka punya bahasa alternatif yang bisa digunakan, selain bahasa Inggris atau Indonesia.

Bahkan baru-baru ini, Google mendukung pemerintah Indonesia untuk melakukan pengadaan laptop berbasis OS Chrome, melalui produk Chromebook. Penggarapan perangkat tersebut secara spesifik ditujukan untuk kebutuhan pelajar di bangku sekolah, dalam hal ini untuk mengoptimalkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sudah jelas, kurang erat bagaimana lagi hubungan Google dengan Indonesia?

Akan tetapi, pada akhirnya opini saya ini mengerucut pada beberapa kesimpulan.

Boleh jadi memang Google tak mendatangkan divisi penjualan ponselnya di Indonesia, karena belajar dari beberapa kasus ponsel-ponsel flagship—dengan spesifikasi mumpuni—yang nyatanya harus mundur teratur dari pasar Indonesia, sebut saja Motorola, HTC, OnePlus, dan yang terakhir LG, karena tak mampu bersaing dan menyerah oleh gempuran ponsel-ponsel asal China.

Mungkin juga, Google belum menemukan formula yang cocok--soal tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)--untuk memasarkan ponselnya di Indonesia. Atau alasan yang paling ekstrem, Indonesia bukan market produk ponsel mereka.

Hal lainnya, bisa saja soal isu fitur Motion Sense belum menjadi pembahasan serius dalam rencana Google memasukkan perangkat ponselnya secara resmi di Indonesia.

Sekadar informasi, Motion Sense adalah fitur yang bekerja layaknya radar dan tertanam pada ponsel Google Pixel. Fitur ini dianggap sebagai penyebab masalah kurang diterimanya ponsel Google Pixel di beberapa negara, hal itu terkait lisensi spektrum yang bekerja melalui frekuensi 60 GHz.

Untuk menggunakan fitur itu pada sebuah ponsel yang dijual pada beberapa negara tujuan, produsen--dalam hal ini Google--harus meminta izin kepada negara tujuan pasar.

Pada awalnya, Indonesia, India, dan Jepang, tak berkenan fitur itu hadir dalam sebuah ponsel yang dijual di negaranya. Namun, ada satu upaya Google untuk bisa mendapat pasar di negara tujuan tersebut, yakni dengan mematikan fitur itu.

Mereka berhasil melakukannya pada varian Pixel 4-series untuk pasar Jepang dan India. Jika begitu ceritanya, seharusnya Indonesia juga bisa, dong.

Ah, tapi siapa yang bisa menerka, cuma Google dan pemerintah Indonesia yang tahu jawabannya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini