Kaleidoskop 2021: Membangun Peradaban Nasional Melalui Pintu Gerbang Sejarah

Kaleidoskop 2021: Membangun Peradaban Nasional Melalui Pintu Gerbang Sejarah
info gambar utama

Sepanjang 2021, beragam peristiwa beriringan terjadi menambah ruang kenangan untuk masa depan. Segala peristiwa ini terkadang berkelindan dengan peristiwa masa lalu yang penuh kenangan bahkan pelajaran.

Segala peristiwa tadi juga dihadirkan sebagai upaya merekontruksi peradaban bangsa pada masa lalu. Sehingga setiap generasi memiliki memori yang terus diwariskan, baik tentang peradaban pengetahuan, teknologi, hingga budi pekerti.

Dalam segi sejarah, pada 2021 lalu GNFI secara khusus mengangkat salah satu candi terbesar yang berada di Jawa Timur. Bangunan bernama Candi Panataran ini didirikan pada lahan seluas 12.496 meter persegi.

Bangunan ini menjadi lambang Kabupaten Blitar dan Kodam V Brawijaya. Selain itu, di candi ini terekam juga kisah romantis, Panji dan Kirana yang dipahatkan pada dindingnya. Walau hingga kini, belum diketahui siapa yang memulai pembangunan candi bernama asli Rabut Palah ini.

Beberapa raja tercatat meletakkan warisannya dalam proses pemugaran Candi Panataran, seperti Raja Kertajaya dari Kadiri (1119) kemudian para raja dari Majapahit seperti Raja Jayanegara (1319-1323), selanjutnya Ratu Tribhuwana (1347) dan Raja Hayam Wuruk (1369-1375).

Namun setelahnya candi ini ditinggalkan, banyak spekulasi seperti pengaruh letusan Gunung Kelud atau karena runtuhnya Majapahit. Hebatnya, bangunan suci tersebut tetap dikunjungi oleh pemeluknya yang tercatat dalam karya Bujangga Manik.

Akhirnya berkat usaha para leluhur, percandian Penataran tetap utuh selama lebih 400 tahun. Bahkan walau kerajaan berganti, Candi Panataran masih tegak berdiri dan ramai dikunjungi.

Penemuan lukisan purba tertua

lukisan purba
info gambar

Indonesia memang banyak menyimpan bentuk peradaban yang bisa disebut tertua di dunia. Seperti penemuan lukisan bergambar babi kutil sulawesi (Sus celebensis) di Gua Leang Tedongne yang terletak di lembah rahasia dekat kota Makassar, pada Januari lalu.

Para peneliti percaya bahwa lukisan babi itu setidaknya telah ada 45.500 tahun yang lalu, dan mungkin menjadi gambar hewan tertua di dunia melalui seni figuratif paling awal.

Berukuran 136 x 54 cm, babi kutil Sulawesi ini dicat menggunakan pigmen oker merah tua dan memiliki bulu pendek tegak, serta sepasang kutil wajah seperti tanduk yang merupakan ciri khas jantan dewasa dari spesies tersebut.

Ada dua cetakan tangan di atas bagian belakang babi, dan tampak menghadap dua babi lain yang hanya terawetkan sebagian, sebagai bagian dari adegan naratif."Babi itu tampaknya mengamati perkelahian atau interaksi sosial antara dua babi kutil lainnya," tulis Adam Brumm dalam CNA.

Lukisan seni cadas tertua sebelumnya ditemukan oleh tim yang sama di Sulawesi. Itu menggambarkan sekelompok sosok setengah manusia, setengah binatang berburu mamalia, dan ditemukan setidaknya berusia 43.900 tahun.

Lukisan gua seperti ini juga membantu mengisi celah tentang pemahaman kita tentang migrasi manusia purba. Diketahui bahwa manusia sianggah dan mendiami Australia pada 65.000 tahun yang lalu, namun kemudian mereka mungkin harus menyeberangi pulau di Indonesia, yang dikenal sebagai "Wallacea".

Situs ini sekarang merupakan bukti koloni manusia tertua di Wallacea yang diharapkan peneliti akan membantu menunjukkan lebih lanjut bahwa orang-orang berada di wilayah tersebut jauh lebih awal, dan akan menyelesaikan teka-teki pemukiman Australia.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Daerah Sulawesi memang menyimpan banyak misteri tentang peradaban Indonesia pada masa lampau, seperti penemuan manusia purba di Teras Leang Paningnge, Kawasan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 2015 di kedalaman 190 cm. Pada 2018, kerangka tidak utuh ini diangkat dengan penuh kehati-hatian.

Dinamakan Besse, kerangka ini diidentifikasi berjenis kelamin perempuan yang diperkirakan meninggal dengan rentang usia antara 17-18 tahun dengan rangka tertekuk berbaring, orientasi utara-selatan. Setelah melewati proses penelitian, terungkaplah, kalau ini merupakan temuan DNA manusia purba pertama di kawasan Wallacea, khusus Sulsel.

Analisis genetik terhadap seorang wanita yang dikubur 7.200 tahun yang lalu ini menunjukkan bahwa dia memiliki garis keturunan manusia 'Alien' yang sebelumnya tidak dikenal yang kini tak ada lagi. Wanita kuno ini memiliki genom tidak seperti orang atau kelompok manusia modern mana pun yang diketahui dari masa lalu.

Genom wanita purba itu juga mengungkapkan bahwa dia adalah kerabat jauh dari orang Aborigin Australia dan Melanesia saat ini, atau orang pribumi di Papua dan Pasifik barat yang nenek moyangnya adalah manusia pertama yang mencapai Oseania.

Meski rendah, namun informasi itu cukup untuk menyelidiki nenek moyang manusia Sulawesi. Bèssè, juga berbagi susunan genetiknya dengan orang-orang asli Australia dan Papua, saat ini.

Saat ini, di Sulawesi, sebagian besar memiliki kerabat langsung genetik dari era Neolitik, dimana mereka datang sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka lakukan perjalanan panjang dari Tiongkok menuju Taiwan, lalu masuk di punggung Pulau Sulawesi–saat ini wilayah Kalumpang Sulawesi Barat (Sulbar).

Peradaban maritim Indonesia

Selain itu melihat Indonesia, tidak lengkap rasanya bila tidak menengok peradaban maritimnya. Kisah nenek moyang Indonesia yang seorang pelaut tidak hanya terekam dalam sebuah lagu, tetapi juga ada di peradabannya.

Salah satunya adalah cerita kapal laut yang pernah mengarungi perairan mancanegara. Ada lima kapal yang GNFI rangkum sebagai bukti kejayaan nenek moyang Indonesia dalam bidang kemaritiman.

Kapal-kapal seperti Pencalang, Pinisi, Jukung, Sandeq, Kora-Kora tercatat pernah menjadi bagian dalam kemajuan peradaban Indonesia. Bahkan beberapa kapal sangat ditakuti oleh pelayar Eropa karena ketangguhannya.

Namun beberapa kisah kapal ini semakin lama mulai terlupakan setelah bangsa Indonesia mulai memunggungi laut. Sehingga beberapa kapal kini hanya tersimpan dalam museum, selebihnya hanya bisa dilihat dalam foto.

Jayanya peradaban maritim di Indonesia juga terekam dalam penemuan situs galangan kapal yang diduga tertua di Asia Tenggara, pada 2019 silam. Situs yang kini lebih dikenal sebagai Kapal Zabag ini terdapat di Desa Lambur 1, Kecamatan Muara Sabak Timur, Tanjangjabung Timur, Jambi.

Tim Arkeologi UI ini diminta oleh Bupati Tanjungjabung Timur, Romi Hariyanto untuk menguak misteri situs-situs kuno di daerah Sabak. Bukti-bukti sementara adalah posisi kapal yang terparkir dan ada kayu bulat berada di bawah geladak.

Observasi awal dimulai sejak April 2018, dan kemudian pada 7 Agustus 2019 proses ekskavasi mulai dilakukan. Hasil temuan ini menumukan berapa bagian kapal yang terpisah, seperti posisi gadingnya terpisah dan dugaan sementara situs Kapal Zabag adalah tempat pembuatan atau perbaikan kapal.

Diduga kapal-kapal tua yang ditemukan di Malaysia, Filipina, Palembang, Rembang dan Cirebon diproduksi di Sabak. Namun ini masih kesimpulan sementara.

Proses ekskavasi saat itu sudah mencapai 35 persen. Sebagian bentuk fisik kapal kuno sudah terlihat. Papan-papan kapal, pasak kayu, tali ijuk, gading, dan gerabah tanah ditemukan di lokasi situs.

"Di situs kapal Zabag banyak hal menarik. Ada hal-hal yang belum ditemukan di Nusantara dan Asia Tenggara sejauh pengetahuan saya,” kata Ali Akbar dari tim arkeologi UI.

Situs Kapal Zabag, Diduga Galangan Kapal Tertua di Asia Tenggara

Kisah majunya industri maritim Indonesia pada masa lalu, juga GNFI angkat dalam cerita tentang kapal Padewakang. Berawal dari perahu cadik sederhana, muncul lah kapal padewakang dengan dua layar tangguh untuk mengarungi lautan sebagai kapal dagang dan kapal perang.

Kapal ini digunakan oleh penduduk Sulsel, Makassar dan Bugis pada abad ke 16 hingga awal abad ke 20 untuk berdagang. Kapal padewakang juga disebut-sebut sebagai kapal rempah atau dagang pertama di Nusantara.

Padewakang memiliki struktur yang unik. Hal ini dikarenakan tidak adanya unsur logam yang ditanam dalam tubuh kapal. Semua sambungan papan menggunakan ratusan pasak kayu yang terpasang tanpa bersinggungan dan tidak saling potong.

Ciri khas dari kapal padewakang yang membedakannya dari pinisi terletak pada layarnya. Jenis layar yang disebut orang Mandar sebagai “sombal tanjaq” atau layar tanja ini memiliki gaya khas Austronesia yang berbentuk dua layar segiempat.

Bentuk layar ini juga tergambar dalam relief Candi Borobudur. Evolusi dua layar yang menjadi palari (perahu tujuh layar) ini yang menandai evolusinya padewakang ke pinisi. Dinilai sangat autentik, kapal padewakang menjadi andalan Indonesia pada Pameran Archipel yang berlangsung di Liege, Belgia, pada Oktober 2017 hingga Januari 2018 lalu.

Bahkan, salah satu peneliti kebudayaan maritim Indonesia asal Jerman, Horst H. Liebner, mengungkapkan bahwa pemilihan padewakang sebagai objek pameran dikarenakan kapal remah ini merupakan yang pertama dan belum terpengaruh kapal Eropa. Sebuah bukti bahwa memang Indonesia pernah berjaya menjadi penguasa maritim di sekitar perairan Nusantara.

Penemuan artefak dari masa lampau

Sebagai wilayah pernah menjadi tempat dari kerajaan-kerajaan besar, Indonesia memang masih banyak menyimpan jejak peninggalan harta karun dari masa lampau. Penemuan artefak dan benda berharga dari masa lalu ini berhasil membuka zaman-zaman kegemilangan leluhur Indonesia pada masa silam.

Seperti halnya penemuan harta karun berupa patung Buddha yang diperkirakan dari abad ke 8 Masehi dengan bertatahkan permata bernilai miliaran rupiah, di Sungai Musi, Sumatra Selatan (Sumsel). Patung ini ditemukan oleh para nelayan yang memang telah banyak menemukan harta karun peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

"Dalam lima tahun terakhir, hal-hal luar biasa muncul. Koin dari semua periode, patung emas dan Buddha, permata, segala macam hal yang mungkin Anda baca di kisah Sinbad the Sailor, sungguhan ada," kata Dr Sean Kingsley, seorang arkeolog maritim Inggris, dalam The Guardian (22/10).

Penemuan ini sekaligus juga membuktikan bahwa Sungai Musi dahulunya menjadi awal terjadinya pusat perdagangan atau jalur sutra di Asia Tenggara antara abad ketujuh sampai 10 Masehi. Sementara itu orang-orang Sriwijaya bertempat tinggal di sungai seperti yang tercatat dalam teks kuno.

"Ketika peradaban berakhir, rumah kayu, istana, dan kuil mereka semua tenggelam bersama semua barang-barang mereka," jelas Kingsley.

Namun, banyaknya peninggalan barang pada masa silam yang berserakan di sepanjang Sungai Musi juga mengundang para pemburu harta karun. Para pemburu harta karun ingin mengaku berhasil menemukan beberapa benda bersejarah dengan harga puluhan juta.

"Istri dan anak saya dapat emas sekitar 4-5 gram, kalau harga normal itu hanya Rp3 jutaan. Tetapi karena motif dan batu merah, dihargai Rp35 juta," kata warga bernama Denni.

Anggota Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Novie Hari menilai masih banyak benda cagar budaya yang berada di tangan masyarakat. BPCB terus berupaya mengedukasi dan merespons laporan masyarakat terkait pentingnya melaporkan temuan benda bersejarah ke pemerintah.

"Jika ada yang ingin menjual ke luar negeri, saya bilang tidak boleh karena bisa hilang jejak dan kebanggaan Sriwijaya-nya. Akhirnya, setiap mau menjual, mereka jadi ragu karena fakta Sriwijaya di Palembang bisa hilang,” kata Novie.

Menurut catatan banyak artefak di Indonesia yang masih berada di luar negeri, baik tersimpan di museum hingga diperdagangan di pasar gelap. Hal ini terbukti dari penemuan tiga barang antik berbentuk patung di Manhattan, New York, AS yang sempat dicuri dan berencana untuk dijual.

Tiga Artefak Indonesia Senilai Rp1,2 Miliar Dikembalikan dari New York

Jaksa Wilayah Manhattan, New York, AS, mengumumkan pengembalian tiga patung ini setelah adanya proses penangkapan kepada pria warga negara Amerika keturunan India bernama Subhash Kapoor. Pria yang juga seorang dealer seni ini terlibat dalam jaringan perdagangan ilegal benda antik.

Tiga patung yang dikembalikan yakni patung Dewa Siwa (ukuran 6x4x8,25 inci) yang bernilai sekitar Rp186 juta rupiah. Selain itu patung Dewi Parwati (ukuran 5,5x4,5x7,5 inci) bernilai sekitar Rp467 juta, dan patung Dewa Ganesha (ukuran 3x2,5x4,5 inci) bernilai sekitar Rp596 juta. Total nilai tiga patung tersebut Rp1,25 miliar.

Dilihat dari penampakan patinasinya, diduga ketiga patung tersebut asli, artinya, patung Dewa Siwa, Dewi Parwati, dan Dewa Ganesha, tersebut memang diduga kuat adalah benda kuno peninggalan bersejarah atau obyek cagar budaya.

Di Indonesia, banyak arca dewa-dewi Hindu ditemukan di candi-candi dengan ukuran-ukuran besar dan terbuat dari material baru. Patung-patung berukuran besar seperti ini biasanya digunakan untuk upacara-upacara keagamaan kerajaan atau negara.

Penemuan tiga patung ini membuka peluang penelitian baru bagi arkelog. Mereka ditantang untuk bisa mengungkap asal-usul, sejarah, dan narasi di balik patung dewa-dewi itu.

Mencari peradaban yang hilang

Menggali peradaban yang hilang juga menjadi obsesi para arkeolog untuk menemukan jejak kejayaan nenek moyang Indonesia. Penemuan jejak sejarah bisa menjadi salah satu cara mengembalikan kejayaan Indonesia pada masa depan.

Salah satu penemuan arkeologi yang cukup menarik pada tahun 2021 adalah pengangkatan fosil kaki gajah purba di lokasi wisata Pulau Sirtwo, Waduk Saguling, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat (Jabar), Sabtu (16/10/2021).

Tim dari kelompok keahlian (KK) Paleontologi dan Geologi Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berhasil memverifikasi bahwa fosil hewan yang ditemukan sifatnya bukan modern atau kontemporer.

Arkeolog Lutfi Yondri memperkirakan fosil hewan yang ditemukan peneliti ITB di Pulau Sirtwo merupakan bukti adanya kehidupan prasejarah 12 ribu tahun lalu. Pasalnya fosil ini ditemukan pada lapisan yang tidak jauh berbeda dengan temuan manusia pawon.

Waduk Saguling dahulu dipercaya sebagai daerah aliran sungai yang banyak dijumpai hewan-hewan vetebrata di sekitarnya. Hewan-hewan tersebut lantas dijadikan sasaran berburu oleh para manusia pawon untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Melihat penemuan ini, dirinya berharap Waduk Saguling menjadi lokasi edukasi wisata, yang dapat menjelaskan bahwa tempat ini merupakan bagian dari jejak kehidupan prasejarah.

Jejak kehidupan prasejarah juga ditemukan di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatra Utara (Sumut) yaitu sebuah patung berbentuk manusia. Patung ini ditemukan seorang petani bernama Sarpin Ritonga di kebunnya di Desa Meranti Omas, Kecamatan Kecamatan Na IX-X, Rabu (29/9/2021).

Jejak Peradaban Masa Lampau di Sekitar Wilayah Ibu Kota Negara Baru

Patung ini dipercaya memiliki unsur mistis apalagi ada beberapa orang yang kesurupan setelah penemuannya. Selain itu, ada dugaan bahwa patung ini bagian dari proses ritual leluhur Batak pada zaman dahulu.

Penemuan patung ini juga sedikit mengungkapkan bukti sejarah kerajaan kuno di Sumut. Karena memang, daerah penemuan patung itu dulunya diduga merupakan jalur lintasan Pelanggan Sira.

"Jalur Pelanggan Sira ini juga berkaitan dengan jalur rempah dari dataran tinggi ke pesisir. Jadi kemungkinan, arca Pangulubalang ini ditempatkan di sana oleh orang kampung Batak," ujar Sejarawan Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari.

Penemuan lokasi tenggelamnya kapal Van der Wijck juga sempat menghebohkan publik pada Oktober lalu. Kapal yang tenggelam pada 1936 ini diduga karam di sekitar perairan Brondong, Lamongan, Jawa Timur (Jatim).

Kapal ini memang cukup terkenal bagi para pecinta sastra karena kisahnya pernah diangkat dalam novel berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck, bahkan diadaptasi dalam sebuah film pada tahun 2013. Banyak yang mengira setting kapal Van der Wijck merupakan cerita fiksi, padahal kapal ini memang ada dan pernah berlayar di perairan Nusantara.

Tim arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menyatakan penemuan ini akan terus menjadi kajian agar dapat menemukan bukti konkretnya. Survei sendiri telah dilakukan di titik lokasi tenggelamnya kapal sejak Juni 2021.

"Memang ada kapal karam di titik yang kita duga Van der Wijck, dari foto-foto dan video yang kami dapatkan. Namun, masih terus proses, dan melakukan identifikasi perlahan-lahan. Jadi, kami terus cocokkan bagian-bagian dengan gambar dari Kapal Van der Wijck," ungkap Wicaksono, melalui paparan dari CNN Indonesia, Minggu (24/10/2021).

Menelisik sejarah masa lalu, juga dilakukan para arkeolog di sekitar Ibu Kota Negara (IKN) Baru, di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Peradaban di daerah ini bila ditelusuri ternyata diperkirakan usianya ribuan tahun.

Menurut riset lapangan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) ditemukan beberapa gua seperti Gua Panglima, Gua Sanggulan, Gua Tapak Batu Raja Buen Kesong, dan Gua Tembenus.

Di Gua Panglima, setelah dilakukan proses ekskavasi timnya menemukan 12.538 temuan yang berupa artefak hingga ekofak, seperti tembikar, alat tulang, litik, cangkang, batu pipisan, batu, arang, hingga hematit.

Sementara itu penemuan fragmen sisa tubuh manusia seperti gigi maupun tulang menunjukkan adanya peradaban di zaman holosen awal atau kurang lebih 11.700 tahun lalu. Selain itu tim peneliti juga menemukan industri peleburan logam yang jaraknya hanya 13 km dari pusat IKN.

Melihat beragamnya peradaban pada masa lampau di wilayah IKN, membuat peneliti berharap pemerintah tidak hanya fokus dalam hal fisik bangunan, tetapi juga membangun dan menjaga peradaban yang ada.

Membangun pengetahuan pintu sebuah peradaban

Memang dalam membangun peradaban, salah satu aspek yang harus dibangun adalah ilmu pengetahuan. Sudah sejak lama, masyarakat Indonesia secara komunal membangun pengetahuan agar bisa menyelesaikan setiap masalah.

Sumbangan pengetahuan di Negeri Khatulistiwa ini tidak hanya disumbangkan oleh pemikir dari dalam negeri. Tetapi banyak juga sumbangan ilmuan dari mancanegara, terutama saat zaman kolonial.

Sebut saja nama Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang Belanda keturunan Jerman. Namanya begitu abadi karena pembangunan kawasan Observatoriun Bosscha pada 1920 yang hingga kini masih terawat.

Bosscha yang merupakan ahli bidang perkebunan, ternyata sangat terobsesi dengan pada ilmu perbintangan. Bahkan dirinya sampai mengusahakan pembelian teropong bintang raksasa yang mahal harganya dari Jerman.

Teropong yang ada di oservatorium ini bisa dibilang teropong bintang pertama dan tertua di Indonesia. Manfaatnya pun masih bisa kita rasakan hingga sekarang.

Pasca meninggalnya Bosscha, observatorium ini kemudian dikelola oleh perhimpunan bintang Hindia-Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Setelahnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia yang hingga kini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Peran ilmu pengetahuan juga sangat penting dalam masa-masa darurat kesehatan. Pada awal abad 17 di Hindia Belanda ditemukan penyakit cacar, bahkan menyebabkan kematian di Jawa sampai abad 20.

Menurut Peter Boomgaard, pada tahun 1781 diperkirakan dari 100 penduduk Jawa yang terserang penyakit cacar, 20 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu, pada awal abad ke-19, pada tingkat umur bayi dari 1.019 bayi yang dilahirkan di Jawa, 102 diantaranya meninggal disebabkan oleh cacar.

Banyaknya korban yang jatuh disebabkan banyak hal seperti tidak pahamnya pemerintah kolonial mengenai karakteristik penyakit tropis, terbatasnya teknologi kedokteran, juga minimnya dana yang dianggarkan.

Karena kondisi ini, pemerintah kolonial memutuskan untuk melatih sejumlah pribumi yang terpandang di suatu daerah. Pelatihan inilah kemudian menghasilkan apa yang disebut sebagai mantri cacar atau juru cacar.

Kepingan Jejak Bosscha, Tuan Dermawan di Tanah Pasundan

Pemerintah juga mendirikan Sekolah Dokter Djawa (kelak jadi Stovia) di Batavia pada 1851. Para mantri cacar ini berperan untuk turun ke masyarakat, seperti melihat kondisi, menyampaikan penyuluhan, memberikan vaksin.

Kisah kesuksesan mantri cacar inilah yang terus digunakan pemerintah kolonial untuk melawan penyakit yang datang di Hindia Belanda. Bahkan hingga kini, warisan mantri zaman Hindia Belanda masih terlihat dalam program-program kesehatan Indonesia.

Upaya membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan tidak hanya dirintis oleh orang Eropa. Presiden Soekarno juga menjadi sosok yang begitu gandrung akan kemajuan bangsa melalui pengetahuan.

Salah satunya adalah gagasan pembangunan Planetarium pada awal dekade 1960 an. Bung Karno saat itu berharap bisa meningkatkan tradisi pengetahuan dalam masyarakat Indonesia.

Selain itu, meruntuhkan takhayul masyarakat terkait munculnya benda-benda langit, seperti gerhana dan komet yang sering dikaitkan dengan malapetaka, bencana alam, atau perginya seorang pembesar, dan kejadian lain yang sifatnya merugikan.

Soekarno juga menyadari perkembangan sains akan membuat Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain. Masa itu astronomi menjadi cabang sains yang menjadi penanda kemajuan peradaban bangsa.

Setelah Bung Karno turun, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin lalu melanjutkan mimpi tersebut dan berhasil mewujudkannya pada 10 November 1968. Beragam teknologi perbintangan, seperti teleskop pernah mewarnai sejarah Planetarium.

Jurnalis Langit Selatan, Avivah Yamani Riyadi, menyatakan peran Planetarium Jakarta masih sangat penting untuk menjembatani para saintis ilmu astronomi dengan masyarakat. Kedekatan planetarium kepada masyarakat juga sangat penting agar bisa menepis segala berita bohong tentang astronomi.

Kenangan yang membanggakan

Setiap kenangan akan melahirkan dua sisi yang berkebalikan. Satu sisi kesedihan karena peristiwa itu sudah berlalu, sisi lainnya bisa membanggakan karena merupakan warisan yang tidak ternilai.

Beberapa peristiwa sejarah Indonesia juga melahirkan banyak cerita yang membanggakan. Terkadang peristiwa itu masih terekam, lebih banyak yang mulai melupakan atau dipaksa dilupakan.

Kisah pertempuran melawan penjajah misalnya, sering dikisahkan bahwa pejuang bangsa sering mengalami kekalahan dalam pertempuran. Kalah bersaing dalam teknologi persenjataan, pengetahuan bahkan peradaban dengan bangsa Eropa dianggap menjadi alasan.

Padahal pada abad ke 16, Portugis pernah dibuat kocar-kacir oleh pasukan Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah. Tidak tanggung-tanggung dia membawa 2.000 armada kapal kora-kora yang mengangkut total 120 ribu prajurit untuk melawan pasukan Portugis.

"Perahu kora-kora milik pangeran itu jauh lebih bagus daripada kapal layar milik Pereira (Laksamana Portugis) yang mana pun, yang pada saat itu merapat di pantai untuk diperbaiki, sementara jumlah anak buahnya melebihi jumlah orang Portugis, tiga atau empat lawan satu," yang dikutip dari buku Pengepungan Benteng Portugis: Kekalahan Superpower Portugis oleh Jihad Baabullah di Ternate karya K. Subroto.

Pada 1570-1571, Sultan Baabullah juga mengirimkan lima kapal kora-kora dengan 500 prajurit ke Ambon. Armada ini dipimpin Kapita Kalakinko dan Kapita Rubohongi, yang memiliki misi untuk mengusir Portugis secara berangsur-angsur dari Maluku.

Dia pun berhasil merebut wilayah di Pulau Buru, Hitu, Seram, dan sebagian Teluk Tomini. Antara tahun 1571-1575, Raja Ternate itu berlayar untuk mencari orang-orang Portugis yang lari ke Buton. Mereka kabur setelah Kesultanan melancarkan serangan terhadap Ambon, Hitu, Buru, Seram, dan Teluk Tomini.

Sultan kemudian memenangkan perang dengan Portugis sehingga kekuasaannya diakui Buton. Pada 31 Desember 1575, Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis sepenuhnya dari Maluku.

Kini untuk mengenang kisah kegemilangan Sultan Baabullah bersama kapalnya. Pemerintah Kota Ternate menyelenggarakan Festival Perahu Kora-Kora setiap tahunnya.

Kehebatan para pejuang tidak hanya terlihat di medan pertempuran, tetapi juga dalam segi ekonomi. Banyak yang menilai warga pribumi tidak bisa meraih kekayaan karena kalah bersaing dengan orang Eropa dan warga asing lainnya.

Tetapi hal ini dipatahkan oleh sosok Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV yang pernah mendirikan pabrik gula (PG) Colomadu di Desa Malangjiwan pada tahun 1861.

Pabrik Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegaran yang Terbesar di Asia

Dalam sebuah media massa saat itu, PG Colomadu disebut sebagai salah satu pabrik termodern di Jawa. Panen pertama tahun 1863 dilakukan di 135 sawah yang ditanami tebu di pundak mereka, dan menghasilkan 6.000 dermaga gula.

Angka produksi pada saat itu sangat cocok dengan skala ini, karena dapat menyamai produksi gula rata-rata per pikul di Jawa. Selain untuk konsumsi pribadi, gula juga dijual ke Belanda, Singapura, dan Bandanella. Bahkan saat itu, pabrik gula ini bisa dikatakan menjadi yang terbesar di Asia.

Puncak produksinya terjadi di tahun 1936 yang menghasilkan gula hingga 219.000 kuintal. Kekayaan Mangkunegara IV meningkat pesat berkat manisnya gula, sekaligus menjadikannya pengusaha pribumi paling kaya saat itu.

Seiring dengan merosotnya hasil produksi dan berkurangnya lahan tanaman tebu, pada 1 Mei 1997 Pabrik Gula Colomadu melakukan penggilingan terakhir dan berhenti beroperasi.

Nama Indonesia --Hindia Belanda saat itu--juga pernah tersohor karena produksi kinanya yang paling terbesar di dunia. Kina yang saat itu digunakan untuk mengobati penyakit malaria, menahbiskan Indonesia menjadi penguasa farmasi dunia.

Memang, tingginya kasus malaria membuat Pemerintah Hindia Belanda memasukan kina sebagai tanaman yang wajib ditanam masyarakat di area kebunnya. Tujuh tahun kemudian, jumlah pohon kina menjadi 1.359.877 batang dan 70 persen di antaranya berjenis cinchona.

Untuk mengakomodasi tingginya produksi cinchona, pada 1896 didirikanlah pabrik di Bandung bernama Bangdoengsche Kinne Fabriek, kelak jadi pabrik PT.Kimia Farma. Saat itu sosok KW van Gorkom, berhasil membuat Hindia Belanda menggantikan Ceylon (kini Sri Lanka) sebagai pemasok utama kina di dunia.

Budidaya kina mencapai puncak kejayaan jelang Perang Dunia II, ketika produksi kina di titik tertinggi. Dengan total lahan seluas 18.000 hektare, lahan-lahan di Tanah Parahyangan mampu memproduksi 11.000-12.000 ton kulit kina kering.

Namun dari jumlah itu, hanya 4.000 ton yang diolah Bandoengsche, sisanya diekspor. Tidak heran kalau Hindia Belanda mensuplai 90 persen kebutuhan kulit kina dunia.

Namun seiring perkembangan ilmu kesehatan dunia, Indonesia mulai kehilangan kemampuan untuk memproduksi kebutuhan obat-obatan dunia. Malahan Indonesia kini masih tergantung dengan impor bahan baku farmasi dari China dan India.

Melihat hal ini, apalagi ditengah krisis kesehatan dunia karena pandemi Covid 19. Seharusnya menjadi momentum untuk melihat bahwa Indonesia pernah menjadi solusi dunia dalam mengatasi masalah kesehatan.

Karena sekali lagi, sejarah tidak hanya untuk pelajaran menghafal apalagi sebagai dongeng pengantar tidur. Sebaliknya sejarah adalah pintu gerbang terbaik untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini