Menjamin Kelestarian Lingkungan, Inilah Para Pejuang Masa Depan Bumi Indonesia

Menjamin Kelestarian Lingkungan, Inilah Para Pejuang Masa Depan Bumi Indonesia
info gambar utama

Harapan masa depan akan kelestarian bumi sekarang ini dapat dikatakan cukup terancam, kondisi bahwa bumi dan lingkungan sekitar tidak sedang baik-baik saja tentu bukan isapan jempol belaka dan terbukti benar adanya.

Kondisi di mana bukan lagi perubahan melainkan krisis iklim yang terjadi telah menjadi ancaman nyata akan masa depan bumi dan kelangsungan seluruh makhluk hidup di dalamnya. Kekeringan, kepunahan, kenaikan suhu, dan sederet fenomena lainnya telah menjadi mimpi buruk yang menghantui selama puluhan tahun berlalu.

Konferensi perubahan iklim (COP) mungkin menjadi salah satu upaya yang diharapkan dapat memberi perubahan. Namun tanpa banyak disadari, perubahan yang berarti sejatinya dimulai dari diri sendiri.

Tanpa berharap banyak dari COP, beruntungnya di Indonesia sendiri selama ini sudah cukup banyak orang yang memiliki kesadaran dan tercatat telah melakukan perubahan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan, berbagai pengorbanan tak terduga membuat mereka layak dijuluki sebagai wujud pahlawan dan para penabur lingkungan.

Karena itu, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada tanggal 10 November kemarin, Good News From Indonesia telah meriwayatkan kembali siapa saja sosok yang selama ini telah memberikan jasa besar dalam menjaga kelestarian lingkungan dan bahkan secara nyata memberi harapan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.

Mengenal bentuk perjuangan yang mereka lakukan dengan lebih jelas, berikut ke-12 sosok pahlawan lingkungan yang dimaksud.

Perjuangan Raymundus Remang dan Warga Sui Utik Hidup Mempertahankan Hutan Adat

Keyakinan melindungi peninggalan leluhur dan warisan adat

Raymandus Remang © ifnotusthenwho.me
info gambar

Prinsip menghormati leluhur dan keyakinan akan tradisi adat dalam memuliakan lingkungan memang menjadi hal yang tidak pernah salah. Setidaknya hal tersebut yang dilakukan oleh Raymundus Remang bersama dengan Masyarakat Sungai Utik di Kalimantan Barat, dan Opung Putra Rusmedia bersama jajaran kaum wanita di Desa Pandumaan, Sumatra Utara.

Raymundus dan Opung mempertahankan hal yang sama, yaitu kelestarian hutan adat dan hak hidup mereka di tanah leluhur dengan cara pelestarian yang mereka pertahankan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Selama puluhan tahun mereka berjuang melawan pihak-pihak besar yang berusaha merampas tanah kelahiran mereka.

Raymundus yang sepanjang hidupnya melawan aksi pembalakkan liar yang mengancam kelestarian hutan adat seluas 9.452,5 hektare milik masyarakat adat Sungai Utik, sementara itu Opung sebagai sosok wanita tangguh memimpin perlawanan dengan berbagai cara mulai dari menjaga lahan dari perusahaan hingga melakukan demonstrasi penolakan.

Semua itu mereka lakukan hanya demi satu tujuan, menghargai dan memberi penghormatan kepada alam.

Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi

Penjaga kelestarian satwa di alam bebas

Sosok Birute dan orang utan © Las Sinsombreo
info gambar

Merasa berhak atas kehidupan di muka bumi terkadang membuat manusia lupa bahwa selama ini mereka hidup berdampingan dengan berbagai makhluk hidup lain, yaitu hewan. Dapat dikatakan sebagai bagian yang merasakan dampak krisis iklim lebih parah, sejumlah hewan yang telah hidup selama ini nyatanya menghadapi ancaman kepunahan yang nyata.

Beruntung di tanah air masih banyak sosok yang memiliki kepedulian tinggi akan kelestarian hewan dengan cara sama seperti mereka menghargai hak hidup akan umat manusia di muka bumi.

Dimulai dari Sutari, satu dari sekian banyak orang yang memantapkan diri untuk berjuang melawan kerusakan ekosistem. Bukan berjuang dengan senjata dan melawan penjajah, namun berjuang melalui penyelamatan penyu dan melawan kebiasaan buruk yang dapat merusak alam.

Bersama dengan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) konservasi penyu yang berada di Malang, Jawa Timur, Sutari sudah sejak tahun 2019 menekuni aksi pengawasan dan penyelamatan penyu karena sadar akan peran penting penyu dalam ekosistem alam terutama di lautan lepas.

Sementara itu bergeser ke wilayah paling timur Indonesia tepatnya Pegunungan Arfak, Papua Barat, ada satu sosok yang mungkin sudah tidak asing di kalangan pelestari hewan burung langka asal tanah Papua, yaitu Zeth Wonggor.

Zeth sudah terlatih memimpin perjalanan dalam tur pengamatan burung di Pegunungan Arfak sejak tahun 1990-an. Siapa sangka, peran besar Zeth dalam pelestarian burung di Papua ternyata dimulai dari kesalahan masa lalu dirinya yang pernah menjadi pemburu namun pada akhirnya membalik haluan dengan peran mulia menjadi pelindung.

Satu fakta menarik mengenai upaya pelestarian hewan, ternyata kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia berhasil membuat pihak luar memiliki rasa kecintaan yang besar dan rela menghabiskan waktunya untuk menjaga kelestarian salah satu satwa tepatnya orang utan yang saat ini memang terancam.

Adalah Birute Marija, sosok wanita yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian orang utan di kawasan konservasi orang utan terbesar dunia, yakni Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Bersama rekannya, Birute mendirikan Orangutan Foundation International (OFI) yang sudah terbukti melakukan berbagai aksi pelestarian orang utan mulai dari penyelamatan, rehabilitasi, pelepasan orang utan ke habitat bebas, dan membangun pusat perawatan dan karantina yang sebagian besar dilakukan di TN Tanjung Puting.

Zeth Wonggor, Pelindung Burung Surga di Pegunungan Arfak

Para pemberi sumber kehidupan

Ma Eroh saat diundang ke Istana Negara 1988 © FB Paguyuban Orang Banjar Patroman
info gambar

Tidak hanya melakukan upaya pelestarian, dampak berkelanjutan yang dapat memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar nyatanya tidak hanya menjadi langkah untuk mejaga usia bumi, namun juga menghidupkannya dan memberi harapan baru yang membawa perubahan besar, setidaknya hal itu yang dilakukan oleh Sadiman, Da’im, dan mendiang Ma Eroh.

Sadiman adalah sosok pahlawan penghijauan yang di awal inisiasinya mendapat anggapan ‘gila’ dari masyarakat sekitar. Bermula dari upaya dirinya menanam pohon pada sebuah kawasan perbukitan tandus yang berada di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Sejak 1996 dirinya berusaha memulihkan ekosistem hutan dan merawat puluhan ribu pohon yang merupakan pengikat air bagi kehidupan warga desa, upayanya yang dinilai berlebihan karena berbagai aksi nekad mulai dari menjual kambing sampai menjual perhiasan sang istri, semua itu ia lakukan untuk membeli bibit pohon dan menanaminya di lahan yang tandus.

Siapa sangka, tekadnya yang telah berhasil menanam sebanyak 11 ribu batang pohon yang di lahan seluas 250 hektare sampai saat ini terbukti berhasil memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Tak jauh berbeda dari Sadiman, hal serupa juga dilakukan oleh Da’im, pria yang sama-sama melakukan pelestarian hutan di kawasan lereng gunung, yang bedanya kali ini berada di Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Melakukan aksi pelestarian tersebut sejak tahun 1996, apa yang Da’im lakukan nyatanya berangkat dari kekhawatiran akan kawasan tersebut yang rawan akan bencana seperti kebakaran hutan, longsor, dan banjir yang meresahkan masyarakat setempat.

Menanami lahan tersebut dengan berbagai jenis buah-buahan yang sejak awal mengalami pergantian karena kerap tidak cocok, akhirnya hingga saat ini Da’im berhasil menjaga sebanyak 10 ribu pohon pinang yang berusia lebih dari 20 tahun di hutan lereng Gunung Lemongan.

Lain itu, dampak berkelanjutan lainnya ternyata juga menjalar ke sektor ekonomi, di mana pelepah dan buah pinang dari pohon tersebut ternyata dapat dimanfaatkan menjadi salah satu komoditi yang diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar.

Sebagaimana jejak kepahlawanan yang tak pernah padam bahkan untuk bidang lingkungan sekalipun, riwayat yang tercatat tidak pernah melupakan jasa salah satu pejuang lingkungan sekaligus pemberi harapan kehidupan di tanah Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Adalah Ma Eroh, sosok yang meskipun kini telah tiada namun apa yang dia lakukan selama masa hidupnya masih membekas di benak sejumlah orang yang mengetahui perjuangannya, dan terus menceritakan hal tersebut ke para generasi selanjutnya.

Semasa hidup, Ma Eroh dikenal sebagai sosok yang rela ‘membelah gunung’ demi mengalirkan air menuju desa tempat tinggalnya yang mengalami kekeringan. Hanya menggunakan alat sederhana seperti belencong dan cangkul, Ma Eroh begitu gigih menggali saluran air sepanjang 5 kilometer melintasi perbukitan di lereng Gunung Galunggung pada tahun 1987.

Ma Eroh diketahui mulai membangun saluran air tersebut saat berusia 45 tahun, sementara itu awal pembuatan parit dilakukannya selepas Gunung Galunggung meletus pada 1982.

Sama seperti Sadiman, Ma Eroh juga pernah mendapat anggapan sebagai sosok ‘gila’ karena melakukan hal yang dinilai sia-sia, namun berkat kegigihannya yang terbukti berhasil mengalirkan sumber kehidupan, saat ini potret dirinya diabadikan lewat keberadaan tugu Ma Eroh yang menjadi ikon kota Tasikmalaya.

Tugu tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini, menghadap ke arah selatan dengan tangan menunjuk sambil memanggul bendera bertuliskan Kalpataru.

Pernah Disangka Gila, Sadiman Berhasil Ubah Lahan Gersang Menjadi Hijau

Gerakan melawan perusakan lingkungan

Aksi penolakan tambang PT MMP | Facebook Maria Taramen
info gambar

Meski ada segelintir orang yang rela berjuang untuk melakukan pelestarian lingkungan, tak dimungkiri bahwa nyatanya tak sedikit pula orang atau pihak tertentu yang tanpa memiliki kepedulian melakukan kerusakan dan bertolak belakang dengan apa yang telah dilakukan oleh para pejuang lingkungan.

Contoh yang paling sederhana tentu dapat dengan mudah ditemui di lingkungan sekitar, yaitu menumpuknya sampah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Dalam lingkup yang lebih besar, kerusakan yang ditimbulkan nyatanya tidak hanya merusak lingkungan melainkan juga merusak sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dua hal tersebut adalah hal yang hingga detik ini masih diperjuangkan oleh dua sosok yakni Sutanandika dan Maria Taramen.

Sutanandika adalah salah satu pejuang lingkungan yang menginisiasi terbentuknya komunitas Pejuang Waktu, sebuah wadah yang melakukan kegiatan aksi bersih-bersih sungai, menanam pohon, pengolahan sampah dengan maggot, serta pembibitan tanaman keras dan bunga.

Semuanya itu dilakukan bersamaan dengan upaya untuk menyadarkan para generasi muda akan pentingnya memelihara lingkungan terutama dari ancaman sampah. Selama perjalannya, komunitas tersebut sudah melakukan aksi pembersihan di sebagian besar wilayah Jawa Barat mulai dari Sesar Cimandiri yang bermuara di Pelabuhan Ratu, Pantai Ciletuh, dan Ujung Genteng.

Sementara itu dalam cakupan yang lebih luas, ada pula Maria yang juga telah mempertahankan hidup masyarakat di tanah kelahirannya dari ancaman pertambangan bijih besi di Pulau Bangka.

Selama perjuangannya dalam mempertahankan tanah kelahiran, Maria sampai pernah diamankan oleh pihak kepolisan mulai dari tingkat Polresta sampai Polda. Beruntung, berbagai perjuangan dan peluh yang mengucur untuk upaya tersebut terbayarkan setelah perusahaan pertambangan yang bersangkutan diputuskan oleh Mahkamah Agung tidak dapat lagi melakukan aktivitas apapun di Pulau Bangka.

Soal Sampah Cisadane, Pejuang Waktu: Larangan Buang Sampah Tidak Efektif Tanpa Edukasi

Wisata dan seni yang bersatu dengan lingkungan menjadi harmoni

Saptoyo dan Lia Putrinda bersama para wisatawan saat melakukan ekowisata mangrove | Facebook Bhakti Alam Sendangbiru
info gambar

Hal yang tak dimungkiri menjadi salah satu penyebab dari terjadinya kerusakan lingkungan adalah karena maraknya pemanfaatan berupa objek wisata yang tidak dibarengi dengan upaya pemeliharaan.

Namun, hal tersebut sejatinya tidak berlaku bagi aksi nyata yang dilakukan oleh Lia Putrinda dan Saptoyo. Pasangan bapak dan anak yang berasal dari Pantai Sendangbiru, Malang, ini sejak tahun 2000-an memiliki tekad hidup untuk mengembalikan kelestarian lingkungan pesisir di wilayahnya setelah meyadari bahwa alam di sekitar mereka sedang tidak baik-baik saja.

Melestarikan kawasan hutan mangrove dan penanaman kembali terumbu karang yang rusak menjadi salah dua upaya yang dilakukan oleh Saptoyo dan Lia, dalam menjaga kawasan tersebut hingga berhasil mendirikan kawasan ekowisata Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna.

Tidak seperti kawasan wisata lainnya, mereka memegang teguh prinsip untuk menjaga kesimbangan alam dengan cara memberlakukan pembatasan dan peraturan ketat agar lingkungan sekitarnya tetap terjaga.

Di lain sisi tanpa memandang kedudukan atau status, hal serupa juga dilakukan oleh seorang seniman kawakan bernama Teguh Ostenrik, meski dirinya sudah cukup dikenal sebagai seorang seniman dunia yang menghasilkan ragam karya yang memukau, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan rasa kepeduliannya terhadap lingkungan.

Memiliki anugerah berupa bakat seni, Teguh memanfaatkannya dalam bentuk instalasi seni terumbu karang yang sejauh ini sudah ia garap di berbagai wilayah perairan Indonesia, sejumlah instalasi tersebut saat ini sudah terbukti berhasil menjadi rumah baru bagi ekosistem terumbu karang yang diketahui mulai terancam.

Saat ini kurang lebih sudah ada 10 rumah terumbu karang yang tersebar di sejumlah wilayah perairan Indonesia, beberapa di antaranya Domus Musculi atau rumah siput di Kepulauan Seribu, Domus Longus atau rumah panjang di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Domus Piramidis Dogong atau rumah piramida dugong di Pulau Bangka, Sulawesi Utara, Domus Sepiae atau rumah cumi-cumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan yang paling baru Domus Coronarius Circularis di Banyuwangi.

Deretan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan lingkungan di atas sepatutnya menjadi inspirasi, bahwa tanpa harus menunggu langkah besar dengan mengandalkan pihak tertentu, kita dapat menjadi pahlawan lingkungan untuk diri kita sendiri.

Ciptakan Instalasi Seni Terumbu Karang, Teguh Ostenrik: Ingin Berbuat Sesuatu untuk Negeri

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini