Memahami Sekaligus Memecahkan Persoalan Sampah di Berbagai Hutan dan Gunung Indonesia

Memahami Sekaligus Memecahkan Persoalan Sampah di Berbagai Hutan dan Gunung Indonesia
info gambar utama

Sampah, satu persoalan yang saat ini tidak hanya menjadi masalah di wilayah pemukiman padat penduduk atau perkotaan, melainkan sudah merambah sekaligus menjadi permasalahan tak kalah serius di wilayah yang jarang terjamah oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu hutan dan gunung.

Keberadaan sampah yang tak terkendali di wilayah padat penduduk mungkin jadi hal yang wajar, meskipun kesalahan dalam pengelolaannya tetap tak bisa dibenarkan.

Namun, adakah hal yang lebih buruk dibanding kondisi saat ancaman sampah secara nyata sudah sampai ke wilayah yang menjadi satu-satunya harapan manusia untuk menjaga kestabilan bumi, yaitu hutan dan gunung?

Mari luangkan waktu sejenak dan coba untuk memahami, sudah sejauh mana permasalahan sampah yang kian mengancam kelestarian lingkungan terutama hutan dan gunung di Indonesia.

Untuk memahami kondisi tersebut, tim Good News From Indonesia (GNFI) sudah mengumpulkan berbagai sudut pandang yang terjadi dari permasalahan sampah yang ada di berbagai penjuru tanah air, mulai dari kondisi sebenarnya yang ada di lapangan, pandangan dari sosok aktivis, hingga upaya yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk memberangus sampah hutan di Indonesia.

Deforestasi dan Sampah Plastik yang Dapat Mengganggu Ekosistem Kehidupan Hewan

Kawasan mangrove serta hutan satwa di Jawa dan Bali

Sampah di hutan mangrove
info gambar

Sebelum jauh membedah persoalan mengenai sampah di hutan gunung, bukti ancaman sampah yang nyata sudah terlihat di kawasan hutan yang berada paling dekat dengan pemukiman masyarakat. Yang pertama, ada pada kawasan hutan mangrove di kawasan pesisir pulau Jawa dan Bali.

Sebagian besar sampah yang terkumpul merupakan hasil limbah rumah tangga, yang terbawa oleh aliran sungai-sungai setempat. Akhirnya, sampah plastik terjebak di kawasan terakhir dan menumpuk di muara-muara perbatasan antara sungai dan laut, yaitu area hutan mangrove.

Sebagaimana ungkapan yang disampaikan oleh Van Bijsterveldt, bahwa kawasan hutan mangrove merupakan penyaring sampah plastik yang sempurna. Namun sekali lagi, berkumpulnya jutaan ton sampah pada setiap kawasan hutan mangrove di wilayah pesisir tetap bukan sesuatu yang layak dibenarkan.

Ancaman Sampah Plastik di Hutan Mangrove Pesisir dan Upaya Mengatasinya

Kondisi hampir serupa terjadi di kawasan hutan yang menjadi habitat asli dari berbagai macam satwa yang dimiliki Indonesia, salah satunya hutan monyet yang ada di Desa Padangtegal, Kecamatan Ubud, Bali.

Sampah kian menjadi ancaman yang serius, karena lokasi dari hutan monyet berdekatan langsung dengan wilayah pemukiman masyarakat. Terlebih keberadaan dari hutan monyet itu sendiri yang menjadi destinasi wisata alam, dan dilaporkan memiliki potensi pengumpulan sampah hingga mencapai 72 meter kubik per hari.

Seakan sampah rumah tangga masih belum cukup untuk menjadi mimpi buruk, ancaman yang lebih parah muncul dari keberadaan sampah medis yang belakangan banyak dilaporkan penemuannya di sejumlah hutan.

Salah satu contohnya yang terjadi pada penemuan sampah medis di tepi jalan hutan jati Gondanglegi, Jawa Timur. Padahal, sampah medis masuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), yang harus mendapat penanganan khusus.

Totalitas Masyarakat Padangtegal, Jaga Hutan Monyet dari Sampah

Taman Nasional hutan dan gunung di berbagai penjuru Indonesia

Aksi pungut sampah di Rinjani
info gambar

Sampailah kita pada bagian yang seharusnya membuat hati siapapun ikut merasa miris jika melihat kondisi satu ini, apalagi jika bukan ancaman sampah yang dapat dengan mudah ditemui pada berbagai kawasan Taman Nasional (TN) hutan dan gunung di seluruh penjuru tanah air.

Dengan dalih ingin menikmati keindahan alam yang dimiliki Indonesia lewat kegiatan eksplorasi atau pendakian. Namun di saat yang bersamaan, hal tersebut tidak dibarengi dengan kesadaran diri akan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Dari wilayah paling barat Indonesia yaitu di Pulau Sumatra, salah satu kondisi yang menggambarkan permasalahan sampah dapat ditemui dengan mudah di kawasan TN Kerinci Seblat, yang melingkupi wilayah Jambi dan Bengkulu.

Pada hutan di jalur pendakian gunung yang memiliki ketinggian mencapai 3.805 mdpl ini, dapat dengan mudah dijumpai berbagai sampah yang terdiri dari sisa logistik para pendaki seperti kaleng gas berukuran kecil, plastik makanan instan, pakaian yang dibuang karena tak lagi layak pakai, hingga sampah pembalut.

Masalah Sampah di TN Kerinci Seblat dan Dampaknya pada Sektor Wisata

Adapun keberadaan sampah serupa namun sering kali menyebabkan dampak kerusakan lingkungan yang lebih parah juga terjadi di Kalimantan.

Sampah dari kegiatan api unggun, sisa puntung rokok para pendaki, dan berbagai jenis buangan yang terdiri dari kertas, kaca, kaleng, dan plastik, nyatanya menjadi salah satu pemantik dari besarnya kemunculan api dan berujung pada peristiwa karhutla, yang bukan sekali dua kali membinasakan keberadaan hutan di wilayah yang kerap dijuluki sebagai paru-paru dunia tersebut.

Hal serupa juga terjadi di Sulawesi, lebih tepatnya pada salah satu destinasi pendakian populer yang berada di pulau tersebut, yaitu Gunung Bawakaraeng.

Kerusakan alam yang terjadi pada gunung satu ini bahkan dikonfirmasi langsung oleh Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, yang mengungkap bahwa salah satu faktor kerusakan alam Gunung Bawakaraeng adalah karena sebagian pendaki yang tidak mengetahui aturan-aturan dalam mendaki gunung.

Dalam satu waktu gerakan bersih-bersih yang dilakukan, terungkap bahwa volume sampah di Gunung Bawakaraeng bisa mencapai 265 kilogram yang terdiri dari botol plastik, kain, tisu basah, pecahan beling, dan puntung rokok.

Upaya Pemerintah dan Komunitas Atasi Sampah di Gunung Bawakaraeng dan Klabat Sulawesi

Kembali ke Pulau Jawa, wilayah yang memiliki sejumlah gunung terkenal yang kerap menjadi destinasi pendakian favorit. Namun di saat yang bersamaan, ancaman sampah yang mengintai juga semakin besar.

Sebut saja Gunung Semeru yang hingga detik ini semakin populer sebagai destinasi pendakian bahkan bagi para pendaki pemula dan awam sekalipun, ancaman sampah pada gunung satu ini dapat dikatakan tidak main-main.

Dalam satu waktu ketika Gunung Semeru sedang ada di puncak kepopuleran dan dieksplorasi oleh pendaki yang tidak memiliki pengetahuan dasar akan mendaki, sampah yang terkumpul dari gunung ini bahkan mencapai angka 15-18 ton hanya dalam kurun waktu empat hari.

Kondisi serupa juga dijumpai pada dua gunung populer lain yang berada di pulau Jawa, yaitu Gunung Gede Pangrango dan Gunung Papandayan.

Pada kasus sampah di Gunung Gede Pangrango, jika dalam kondisi normal sebelum pandemi, jumlah sampah yang dihasilkan bisa mencapai angka 900 kilogram dalam satu kali pendakian. Isi dari sampah yang terkumpul pun masih sama, kebanyakan terdiri dari bungkus makanan plastik, botol minum, ditambah sampah peralatan pendaki yang rusak.

Sedangkan pada Gunung Papandayan, peristiwa kelam pernah terjadi pada tahun 2015, saat di mana kawasan hutan di jalur pendakiannya pernah mengalami kebakaran yang berlangsung selama sepekan.

Kebakaran tersebut diduga karena kecerobohan pendaki yang membuat perapian dan membuang puntung rokok sembarangan, sehingga menyulut kemunculan api yang besar.

Gunung Papandayan, Kerentanan Sampah dari Pendaki dan Gerakan Zero Waste

Bergeser sedikit ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, persoalan serupa juga tak lepas dari keberadaan gunung populer lainnya, yaitu Rinjani. Terlampau serius, permasalahan sampah di Gunung Rinjani bahkan sampai mengundang perhatian warga negara asing yang berinisiatif melakukan gerakan pungut sampah.

Lewat aksi yang juga melibatkan sebanyak 50 orang porter lokal tersebut, dilaporkan bahwa ada sebanyak 1,6 ton sampah di Gunung Rinjani yang terkumpul dalam kurun waktu tiga hari.

Kemudian jangan lupakan gunung yang ada di tanah Papua, walaupun wilayah satu ini jauh dari kawasan pemukiman dan kemungkinan datangnya pendaki lebih rendah dibandingkan gunung lain di Indonesia, bukan berarti Pegunungan Jayawijaya dengan puncak Gunung Carstensz aman dari ancaman sampah.

Tidak seperi kawasan gunung lain dengan medan yang memungkinkan untuk dilakukan pengangkutan sampah secara sederhana, Gunung Carstensz yang memiliki medan sulit dan kondisi alam yang ekstrem bahkan kerap kali harus mengandalkan helikopter milik PT Freeport Indonesia untuk pengangkutan sampah dan pemantauan lingkungan secara berkala.

Ancaman Sampah di Taman Nasional Lorentz Hingga Puncak Carstensz

Upaya mengatasi permasalahan sampah

Aksi bersih-bersih sampah yang dilakukan Trashbag Community
info gambar

Melihat persoalan sampah yang terjadi tidak hanya di kawasan hutan dekat pemukiman, namun juga hutan di kawasan pendakian sejumlah gunung di Indonesia. Sebenarnya upaya penanganan yang sudah dilakukan juga tidak seburuk kelihatannya.

Hingga detik ini, sudah ada berbagai pihak yang memiliki kesadaran dan tujuan mulia menjaga kelestarian alam dan lingkungan, termasuk penanganan sampah yang tersebar di seluruh penjuru hutan dan gunung Indonesia.

Salah satu yang mungkin sudah tidak asing lagi khususnya di kalangan pencinta alam, yaitu Trashbag Community. Komunitas yang pertama kali didirikan pada tahun 2011 ini sudah memiliki jaringan dan ribuan anggota yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

Dalam bentuk aksi nyata, komunitas ini kerap memprakarsai ataupun berkolaborasi dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta, dalam melakukan gerakan pungut sampah di sejumlah kawasan hutan dan gunung.

Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun oleh komunitas ini adalah aksi bersih gunung tahunan yang dinamakan “Sapu Jagad”. Kegiatan ini diadakan secara serentak di berbagai wilayah sebagai ajakan untuk menjaga kebersihan gunung dan hutan dalam skala besar.

Adapun gunung-gunung yang kerap dijadikan target pembersihan dalam gerakan ini di antaranya Gunung Kerinci, Gunung Semeru, Gunung Cikuray, Gunung Slamet, Gunung Rinjani, Gunung Bawakaraeng, Gunung Serang, dan masih banyak lagi.

Namun tentunya, sekeras apapun upaya pembersihan yang sudah dilakukan oleh para kalangan pencinta alam atau gerakan kebersihan lainnya, semua hal tersebut akan terasa percuma jika kesalahan yang sama kembali terulang dan seolah menjadi siklus lanjutan, dalam hal ini keberadaan serta pembuangan sampah yang dilakukan oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi itu yang nyatanya menjadi akar masalah, dan membuat persoalan sampah sendiri tidak pernah usai hingga saat ini. Hal tersebut bahkan disampaikan beberapa aktivis dan pihak yang sudah melakukan penindakan terhadap sampah yang ada.

Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam

Tugas besar menghadapi permasalahan sampah hutan dan gunung di masa depan

ilustrasi sampah di hutan
info gambar

Ferdinand Hamin, Pegiat LSM Burung Indonesia menjadi salah satu pihak yang mengutarakan pendapatnya mengenai permasalahan sampah yang terjadi secara menyeluruh di Indonesia.

Dalam salah satu kesempatan saat berbincang secara langsung dengan GNFI, dapat disimpulkan bahwa berbagai imbauan dan literasi yang sudah diberikan mengenai penanganan sampah dari pemerintah sekalipun, nyatanya tidak memberikan pemahaman yang maksimal kepada sebagian besar masyarakat.

Menurut Ferdi, hal tersebut disebabkan oleh pribadi serta permasalahan mental setiap orang yang pada dasarnya memang tidak memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.

Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental

Ungkapan serupa juga disampaikan lewat pandangan yang diutarakan oleh Ragil Budi Wibowo, selaku ketua umum Trashbag Community.

Ragil mengungkap, bahwa gerakan menurunkan sampah dari gunung sebenarnya tidak hanya dilakukan untuk tujuan kebersihan, namun sekaligus sebagai bagian dari demonstrasi.

“Layaknya demonstrasi di Bundaran HI, Jakarta, aksi kami sebenarnya juga demonstrasi. Kami ingin membawa pesan kepada semua orang untuk tidak membuang sampah sembarangan, hanya saja cara kami berbeda,” ujar Ragil, seperti yang dikutip dari BBC.

Menurutnya, aksi penurunan penurunan sampah dari gunung tidak akan efektif bila tidak dibarengi dengan pemberian pemahaman dan pengawasan kepada para pendaki.

“…yang efektif adalah mencegah sampah-sampah berada di atas gunung, apabila hanya fokus mengangkut sampah dari atas gunung, siklusnya akan berputar tanpa henti,” pungkasnya.

Pejuang Waktu, Tanamkan Kesadaran Peduli Sampah dari Diri Sendiri

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini