Bantu Sesama di Masa Pandemi, Ini Kisah Para Pendekar Covid-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi, Ini Kisah Para Pendekar Covid-19
info gambar utama

Pandemi Covid-19 menjadi masa-masa sulit bagi semua orang. Begitu banyak berita kurang baik selama nyaris dua tahun terakhir ini, misalnya orang-orang terdekat positif Covid-19, berita meninggal dunia, usaha yang mengalami kekurangan pemasukan hingga harus gulung tikar, para buruh kehilangan pekerjaan, hingga sulitnya mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan.

Di tengah kondisi seperti ini, nyatanya masih ada saja orang-orang yang memanfaatkan momen, misalnya penimbun alat kesehatan yang sedang dibutuhkan dan dijual dengan harga tinggi hingga bantuan sosial dikorupsi.

Meski demikian, orang baik itu tetap nyata adanya dan mungkin sosoknya ada di sekitar kita. Sepanjang bulan Agustus 2021 ini, tim Good News From Indonesia (GNFI) mengumpulkan sosok-sosok yang berjasa dalam bidangnya masing-masing dan membantu orang lain selama pandemi.

Tak berlebihan jika mereka kami sebut Pendekar Covid-19.

Ini adalah kado kecil dari kami, GNFI, dalam memeringati HUT Kemerdekaan ke-76 RI, yang bertujuan untuk terus memupuk empati dan menumbuhkan semangat saling berbagi untuk sesama meski dalam kondisi paling sulit sekalipun.

Berikut ini rangkuman dari cerita para Pendekar Covid-19 yang mengerahkan segala usahanya untuk membantu sesama, bahkan di tengah kesulitan yang dialaminya pula.

Kesehatan

carlos ferrandiz
info gambar

Di bidang kesehatan, kami menemukan sosok Ronald Angga Poernama. Pria berusia 34 tahun asal Cikupa, Tangerang, ini merasa miris dengan berita soal harga tabung oksigen yang melambung. Padahal benda ini sedang banyak dicari-cari pasien Covid-19 yang mengalami kadar saturasi oksigen rendah.

Demi membantu mereka yang membutuhkan, ia membeli 20-an tabung oksigen menggunakan dana pribadi dan dipinjamkan pada siapa saja yang sedang darurat butuh menggunakannya. Syaratnya tak sulit, si peminjam cukup menunjukkan foto KTP saja.

Inisiatif Mulia Ronald Angga, Gratis Pinjamkan Tabung Oksigen Bagi yang Membutuhkan

Selain yang dilakukan Ronald, ada pula sosok Adib Budiono, Ketua Yayasan Sahabat Difabel, Jepara. Di masa pandemi ini, ia berinovasi membuat masker untuk tunarungu agar mereka lebih mudah dalam berkomunikasi.

Tak hanya itu, ia pun merangkul anggota-anggota yayasannya, para difabel di wilayah Jepara, untuk bersama-sama membuat produk seperti minuman sehat dari rempah-rempah, hand sanitizer, hingga produk kebersihan.

Adib Budiono dan Inovasinya Membuat Masker untuk Tunarungu

Selanjutnya, mari berkenalan dengan Carlos Ferrandiz, pria asal Barcelona yang awalnya memiliki karier cemerlang sebagai pengacara di Spanyol. Berawal dari liburan ke Sumbawa, ia kemudian mengajar anak-anak bahasa Inggris di Desa Hu’u.

Tak hanya itu, Carlos pun menjalankan lembaga sosial bernama Harapan Project. Ia diketahui kerap memberikan edukasi sekaligus bantuan berupa perlengkapan alat kesehatan, termasuk sabun cuci tangan, masker, hazmat, sarung tangan medis pada masyarakat desa Hu'u dan tenaga medis lewat Pemda Dompu.

Keberhasilannya menjaga wilayah Hu’u dari masa pandemi ini terbukti dari data per tanggal 10 Agustus 2021, di mana hanya ada dua kasus positif Covid-19 di sana dan 1 kasus meninggal dunia.

Carlos Ferrandiz, Penjamin Kehidupan Masyarakat Desa Hu’u di Pulau Sumbawa

Pemakaman

Ilustrasi | @Warih D Shutterstock
info gambar

Kita tentu masih ingat berita tentang kasus kematian Covid-19 yang mengalami lonjakan dan ada sekelompok masyarakat di beberapa daerah yang melakukan penolakan pemakaman di Tempat Pemakanan Umum (TPU) wilayah setempat.

Prihatin dengan kondisi tersebut, Badar Roedin, Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mewakafkan tanah pribadi seluas 1.700 meter persegi untuk dialihfungsikan sebagai tanah makam untuk jenazah Covid-19.

Badar mempersilakan siapa saja korban Covid-19 yang meninggal dunia dan ditolak di pemakaman warga, bisa dikebumikan di tanah miliknya secara gratis.

Tak hanya mewakafkan tanah, sebelumnya Badar juga diketahui kerap menggunakan sebagian honor yang ia miliki sebagai seorang kepala desa untuk memenuhi kebutuhan penanganan Covid-19 di daerah Talunombo. Ia pun pernah menghibahkan gaji sebulan penuh untuk Satgas Covid-19 guna membeli disinfektan, hand sanitizer, hingga mencetak banner untuk kebutuhan edukasi dan sosialisasi.

Badar Roedin, Kisah Kades yang Sumbangkan Tanah Pribadi

Cerita lain berasal dari Bogor, Jawa Barat. Seorang mantan sopir taksi bernama Ardi Novriansyah, yang menjadi sukarelawan pengemudi ambulans dan bertugas menjemput jenazah pasien Covid-19.

Selama pandemi, ambulans memang banyak dicari-cari, baik untuk mengantar-jemput pasien Covid-19 ke rumah sakit ataupun mengantarkan jenazah ke pemakaman. Ardi, yang berusia 41 tahun, seringkali menemukan jenazah orang yang meninggal akibat Covid-19 saat mengisolasi diri di rumah. Dalam sehari, ia bisa menerima panggilan selama 24 jam untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman.

Ardi Novriansyah, Eks Sopir Taksi yang Jadi Relawan Pengantar Jenazah

Lapangan pekerjaan

Tak sedikit orang yang harus kehilangan pekerjaan di masa pandemi ini. Salah satu yang mengalaminya ialah Endrik Yahmawan. Sebelumnya, ia merupakan pengampu laman blog otomotif Elangjalanan.net. Di kalangan brand, blogger, dan komunitas motor, ia dikenal dengan nama Endrik Elang.

Namun, semenjak pandemi ini semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya tidak lagi ada, baik liputan hingga pelanggan IT, dan ini tentunya berdampak pada pemasukannya.

Meski awalnya dilanda kebingungan, Endrik memutuskan untuk menjadi kurir barang dan membangun KurirExpress. Ia mempromosikan jasanya di media sosial dan pada Maret 2021, mulai membuka lapangan kerja hingga kini memiliki 15 orang kurir.

Endrik Elang, Kurir yang Membuka Lapangan Pekerjaan saat Pandemi

Pendidikan

iin herlina dewi
info gambar

Karena kondisi yang tak memungkinkan, anak-anak sekolah terpaksa belajar dari rumah, istilahnya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Baik murid dan guru sama-sama memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Namun tentunya, dibutuhkan fasilitas yang memadai pula, seperti laptop, ponsel pintar, dan koneksi internet.

Ujang Setiawan Firdaus, S. Pd., seorang guru di kelas V di Sekolah Dasar Negeri 01 Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tahu betul bahwa murid-muridnya tak semua punya gawai, bahkan saluran televisi pun sulit ditangkap.

Karena keterbatasan tersebut, ia setiap hari berkeliling rumah muridnya untuk tetap belajar tatap muka. Dengan menggunakan dana pribadi, ia mengunjungi rumah-rumah murid menggunakan motor dan membawakan kertas-kertas fotokopi buku pelajaran sekolah dasar serta sejumlah masker untuk dibagikan pada muridnya.

Tak Ada Gawai dan TV, Guru Ujang Setiawan Keliling Rumah Murid untuk Bantu Belajar

Selain sosok Ujang, ada pula nama Arief Rama Syarif. Ia diketahui sudah lebih dari 20 tahun bergelut dalam dunia Open Source, Data Science, dan berbagai hal yang berkaitan dengan industri teknologi digital.

Ia merasa prihatin dan memikirkan cara agar setiap orang yang sebenarnya memiliki tekad untuk belajar walau di tengah keterbatasan, khususnya di industri teknologi yang saat ini sangat diandalkan.

Pada tahun 2015, ia mendirikan Yayasan Komunitas Open Source dan setiap hari Jumat malam dirinya membuka sesi pengajaran seperti Open Source mulai dari Linux, Networking, dan Cloud Computing, hingga pemahaman tentang Data Science. Semua bisa diikuti secara cuma-cuma.

Karena semakin banyak peminat, lokasi belajar yang awalnya dilakukan di kediaman pribadinya mulai dipindahkan ke Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Arief Rama, Sosok yang Konsisten Beri Kursus Data Science Secara Gratis di Tengah Pandemi

Dari bidang pendidikan, kami juga berkenalan dengan Iin Herlina Dewi, sosok yang membagikan kisah aksi sosialnya di Ende, Flores, NTT. Iin mendirikan Rumah Baca Mustika dan telah terdaftar di instansi bawahan Kemdikbud untuk mendapatkan program donasi buku gratis.

Iin lewat rumah baca yang didirikannya berupaya untuk lebih fokus meningkatkan literasi murni buku bacaan bagi anak-anak di kisaran usia SD. Di masa pandemi, ia pun tetap berupaya meningkatkan literasi kepada masyarakat pelosok tetap dilakukan di tengah pandemi, dengan terlebih dahulu meminta izin dari pihak yang berwenang.

Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores

Kemudian ada pula cerita dari Dewi Ratna Sari, yang mendirikan Indonesia Dedication and Empowerment atau yang lebih dikenal dengan sebutan IDE Indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang memiliki fokus mewadahi semangat anak muda di tanah air yang ingin memberikan dedikasi pembangunan untuk negeri.

Di masa pandemi, Dewi dan rekan-rekannya di IDE tetap melanjutkan semangat pengabdian lewat aksi sosial yang berlangsung. Ia menjalankan program dengan fokus utama dalam program ini adalah dengan melakukan pemberdayaan masyarakat yang didalamnya berjalan program-program yang meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi pariwisata, dan lingkungan.

Semangat Dewi untuk Indonesia, Dorong Anak Muda Mengabdi Bagi Negeri di Tengah Pandemi

Kemudian, ada Amos Yeninar merupakan sosok inspiratif yang memutuskan melepaskan segala kehidupan mewah sebagai pejabat politik bahkan seorang Bupati. Ia dikenal dengan aksi mulianya mengurus anak jalanan di wilayah Nabire.

Selama lima tahun, ia menampung anak jalanan di rumah singgah sederhana sampai akhirnya mendirikan yayasan Siloam Papua. Amos dan sang istri bersama-sama memenuhi kebutuhan bagi anak-anak yang ia bina, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sekolah, hingga mengikutsertakan anak-anak tersebut dalam pembinaan rohani serta persekutuan doa.

Tujuan Amos dalam mendirikan yayasan ini hanya satu, ia ingin orang-orang mengetahui bahwa di tanah Papua ada harapan bagi anak-anak yang memiliki kesempatan yang sama sebagai penentu masa depan bangsa.

Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi

Bantuan makanan

Luthfi Kurnia mendirikan Salam Aid, sebuah lembaga kemanusiaan yang terus mengulurkan bantuannya di masa pandemi ini. Ia mengerahkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk membuat beberapa variasi program untuk memenuhi permintaan warga.

Beberapa jasa yang mendapat banyak permintaan antara lain penyemprotan, penyiapan ambulans gratis, pembagian APD, produksi hazmat, produksi masker, paket pangan, suplemen, hingga membuka layanan swab antigen gratis.

Untuk ambulans, ia pun memberi bantuan antar-jemput pasien Covid-19, hingga pemakaman dengan standar protokol kesehatan. Pada bulan puasa, ia pun menyediakan bantuan makanan untuk sahur dan berbuka bagi para tenaga medis di berbagai rumah sakit di wilayah Bogor.

Luthfi Kurnia, Motor Relawan yang Sediakan Makanan untuk Nakes dan Warga

Soal bantuan makanan, ada seorang penjual bubur di Bandung yang membagi-bagikan makanan gratis untuk warga sekitar yang sedang menjalani isoman. Setiap harinya, ia bisa membagikan 300 porsi bubur gratis bagi yang membutuhkan.

Bahkan, saking banyak peminatnya, ia sendiri sempat tak bisa berjualan dan merogoh tabungan yang sudah ia kumpulkan bertahun-tahun demi membantu sesama. Selama sebulan saja, ia sudah membagikan bubur ayam buatannya lebih dari 10 ribu porsi secara cuma-cuma.

Bantu Warga Isoman, Ghufron Lana Penjual Bubur di Bandung Bagikan Bubur Gratis

Lingkungan

Di bidang lingkungan, ada Akbar Al Ayyubi merupakan pemuda asli suku Ata Modo, suku asli Pulau Komodo. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan sukunya kehilangan eksistensi di tanah kelahirannya.

Menurut penuturan Akbar, masa pandemi ini benar-benar memukul para masyarakat lokal di Pulau Komodo. Apalagi saat PPKM ini membuat sektor pariwisata ditutup karena alasan kesehatan. Ditambah lagi, masyarakat pun sudah tak diizinkan bertani dan berburu. Mereka seharusnya bisa bertahan menghadapi pandemi karena diberkahi Sumber Daya Alam yang begitu luar biasa.

Melihat kondisi ini, Akbar bersama anak-anak muda Ata Modo memilih untuk mengembalikan kebudayaan Ata Modo. Mereka memilih gerakan organik dari bawah untuk membangun komunitas yang bertujuan memperkuat entitas lokal, mulai dari memperkenalkan musik, lagu, tarian adat, hingga buku cerita.

Upaya Akbar Al Ayyubi Menjaga Suku Asli Pulau Komodo dari Relokasi

Kemudian, ada kisah dari Sutanandika yang sangat paham tentang kondisi lingkungan sekarang yang semakin memburuk. Ia pun melakukan perubahan pada masyarakat sekitar dan melibatkan beberapa anak didiknya di sekolah agar terlibat dalam aksi-aksi lingkungan.

Ia bersama puluhan anak sekolahnya menggagas perbaikan lingkungan dengan program Cisadane Resik. Menurutnya, Sungai Cisadane memiliki kebermanfaatan besar yang jarang terlihat oleh masyarakat. Selama pandemi, mereka tetap terjun ke masyarakat untuk menanam pohon dan membersihkan lingkungan dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Sutanandika, Inisiator Relawan yang Konsisten Lindungi Lingkungan Meski Pandemi

Soal melestarikan lingkungan, ada juga kisah dari Indra Darmawan merupakan pendiri Bening Saguling Foundation. Selama pandemi, ia membuat keranjang dan berbagai kerajinan dari eceng gondok. Sebenarnya, tujuan Indra adalah mengolah sampah jadi benda bernilai.

Kini, ia bersama yayasannya berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi berkat bisnis daur ulang sampah, limbah plastik, dan kriya eceng gondok.

Tak sampai di situ, ia pun mendirikan sekolah di pinggir Sungai Citarum untuk anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai pemulung. Di sekolah ini, Indra mengajar murid dari TK hingga SMP dan cukup dibayar dengan sampah.

Indra Darmawan, Sejahterakan Masyarakat di Masa Pandemi Melalui Sampah dan Eceng Gondok

Menjaga tradisi adat

Bagi sebagian orang, nama Kasepuhan Sinaresmi mungkin belum familiar. Namun, ini adalah salah satu pemukiman adat Banten Kidul yang telah ada sejak abad ke-6. Hingga kini mereka masih menjaga menjaga tradisi turun temurun dari para leluhur, yaitu bertani.

Abah Asep Nugraha, Ketua Adat Kasepuhan Sinaresmi, menjelaskan bahwa sistem pertanian yang digarap komunitas desa adat tersebut juga tidak bergantung pada pihak luar, karena secara adat telah menyediakan semua kebutuhan proses produksi pertanian.

Dengan menjalankan tradisi, saat ini lebih dari 67 benih padi lokal masih terjaga. Di masa pandemi, Abah menyebut sosialisasi ala tetua adat tetap diberlakukan dan masyarakat pun tetap tunduk pada aturan.

Sebagai ketua adat, Abah pun menjalankan kewajibannya dalam menjaga warganya dari pandemi, yang tentunya dilakukan dengan cara-cara yang telah dilakukan secara turun-temurun. Bahkan, atas konsistensinya menjaga adat dan tradisi, ia pernah mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara kategori Pemangku Ketahanan Pangan pada tahun 2016 dari Presiden RI, Joko Widodo.

Abah Asep Nugraha, Penjaga Tradisi dan Daulat Pangan Kampung Adat di Tengah Pandemi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini